Minggu, Oktober 25, 2020

Pelayanan Publik 2018-2019: Humanis atau Teknoratis?

Membela Koruptor: Ramalan Prof. J.E Sahetapy Terhadap Setya Novanto

Malam ini saya iseng streaming Youtube yang dicari adalah pandangannya my favorite profesor yaitu Prof. J.E Sahetapy. Menyelami pesan sepanggal-sepanggalnya bagi saya sangat menarik....

Kewajiban Memilih dalam Negara Demokrasi

Pemilu serentak bulan April yang akan datang menjadi salah satu momentum penting bagi Indonesia untuk menentukan pemimpinnya dan nasib bangsa ini di masa yang...

Valentine’s Day, Seremonial Absurd Kaum Milenial

Pernahkah Anda merayakan hari kasih sayang atau Valentine’s day secara khusus? Jawabannya hanya Anda yang tahu. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, tampak ada semacam...

Overcrowded Lapas dan Revitalisasi

“Tantangan-tantangan yang dihadapi Pemasyarakatan ialah setinggi gunung, seringkali bersifat kejam, dan kadangkala mencekam perasaan” sekilas sambutan Menteri Kehakiman Ali Said pada peringatan Hari Pemasyarakatan...
M. Rizki Pratamahttp://pratamarizkim.wordpress.com
Tenaga Pengajar Prodi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya

Relasi politik pilkada dan pilpres akan semakin realistis ketika timing keduanya berdekatan. Beberapa analisis politik menunjukkan bahwa siapa yang menguasai pilkada 2018 otomatis naik panggung pada 2019. Akan tetapi sejauh ini belum terlihat usaha sistematis untuk melihat komoditas macam apa yang akan diumbar kepada rakyat.

Misalkan pelayanan publik kongkrit seperti apa yang harus diprogramkan sebagai isu-isu politik untuk menjaring massa pendukung. Apa sebenarnya prioritas politik pelayanan publik saat ini juga sama sekali belum terlihat kongkrit justru yang hadir malah jargon “anti-asing” bukannya merumuskan politik pendidikan, kesehatan bahkan reformasi pelayanan publik.

Isu tersebut penting karena negara kesejahteraan lain bahkan sudah mampu merealisasikan perguruan tinggi bebas biaya, fasilitas publik yang ramah bagi kaum miskin dan difabel, pendidikan tanpa perbedaan kualitas, jam kerja buruh yang masuk akal, pelibatan buruh dalam manajemen, asuransi kesehatan bebas biaya, dan lain-lain.

Ingat bahwa pelayanan publik berkontribusi signifikan dalam memerangi kemiskinan dan ketimpangan. Sayangnya, berdasar pengalaman beberapa tahun belakangan seperti Pilpres 2014 dan Pilkada 2017 telah menunjukkan kurang eksploratifnya para calon dalam menggali program yang tepat untuk menuju kesejahteraan bersama, payahnya lubang tersebut juga menunjukkan bahwa demokrasi politik ternyata tidak menyentuh pelayanan publik, pelayanan publik kita kurang demokratis dan seperti ada pembiaran sistematis karena dianggap tidak penting.

Kita harus terus belajar karena kerja pemerintahan tidaklah terjadi tiba-tiba, perlu perencanaan matang dari awal, dari ide besar hingga implementasi kongkritnya. Pelayanan publik harus berawal dari ide besar politik yang akan mengusungnya bukan sebaliknya politik mengesampingkan pelayanan publik atau bahkan mengeksploitasinya sebagai komoditas sekunder politik ketika kampanye yang kemudian terlupakan. Kita lihat Jokowi-JK 2014 mampu membuat program rencana kerja untuk pelayanan publik hingga detail misalkan implementasi citizen charter secara masif akan tetapi kini tidak terdengar gaungnya terlindas isu lain.

Sedangkan Anies-Sandi 2017 pun mencoba mendemokratisasi pelayanan publik dengan berbagai dialog sebagai ide besar namun minim rencana aksi konkritnya hingga kini seperti kebingungan melakukan apa untuk pelayanan publik. Kita juga telah mempunyai UU No. 25 tahun 2009 tentang pelayanan publik yang sudah seharusnya kembali diperbarui karena pelayanan publik secara global dan nasional telah berubah. UU tersebut juga kurang mengakomodasi pelayanan publik yang lebih inklusif, partisipatif dan berbasis daring. Akan tetapi tetap saja, isu perubahan UU tersebut belum dianggap penting oleh para elit politik.

Humanis dan Teknokratis 

Publik sebaiknya tidak tertipu dengan berusaha kritis dalam menghadapi kampanye politik terutama untuk program-program pelayanan publik. Secara sederhana ketika tidak ada program baru tinggalkan dan kritiklah calon dan partai tersebut. Lebih jauh lagi maka publik harus dapat melihat dua sisi dari program yaitu sisi humanis dan teknokratis. Keduanya harus hadir jika publik mengharapkan perubahan masif dalam sistem pelayanan publik kita.

Visinya pun harus jelas misalkan seperti pelayanan kesehatan gratis untuk semua dan juga pendidikan gratis untuk semua. Pertama sisi humanis berarti mengambil fundamental pelayanan publik dari sisi kemanusiaan dan demokrasi. Praktiknya setiap pelayanan publik harus merupakan hasil konsensus dengan meniadakan aspek kapital sebagai orientasi. Manusia harus berada di atas uang, tidak ada lagi yang tidak punya uang ditinggalkan dalam pelayanan publik.

Semua orang bisa sekolah dan berobat. Pelayanan publik bukan bisnis karena bisnis memang gagal memberikan pelayanan publik seperti pengalaman beberapa negara di Eropa, Amerika Selatan, dan Asia yang mulai menarik kembali privatisasinya untuk menjadi urusan pemerintah (Transnational Institute, 2017). Kedua sisi teknoratis berarti penerjemahan produk-produk politik pelayanan publik yang konkrit harus disertai tata cara metode yang sesuai pula bahkan seharusnya metode baru sesuai dengan perkembangan era.

Nyata dalam hari-hari ini sektor bisnis dengan cepat melayani orang banyak melalui disrupsi start up, lalu di mana pelayanan publik yang terdisrupsi? Kita jelas membutuhkan banyak sekali start up untuk pelayanan publik. Memang pemerintah sejauh ini berhasil menelurkan berbagai inovasi pelayanan publik, namun inovasi bukan hanya inovasi in house akan tetapi juga inovasi publik dan governance yang benar-benar melibatkan akar rumput.

Metode desain pelayanan publik juga harus dipikirkan, seperti menggunakan service blueprinting tidak hanya citizen charter atau penerapan design thinking yang jelas pasalnya seringkali kita lihat tidak jelas mana pintu masuk pelayanan publik di rumah sakit sampai keluruhan karena memang tidak pernah dipikirkan.

Masuknya pendekatan ekonomi perilaku juga harus dieksploitasi dengan jelas seperti melakukan nugde pada masyarakat yang belum rajin membayar iuran rutin BPJS atau persoalan-persoalan lain yang belum di-endorse aspek perilakunya.

Catatan Masa Depan   

Perpaduan dua sisi humanis dan teknoratis seharusnya membawa dampak baru pada strategi politik dalam penyusunan program yang baru dan benar-benar untuk publik pada 2018-2019. Tidak kembali mengulang visi tidak jelas dan misi yang terlalu abstrak.

Penyusunan janji-janji kampanye harus praktis dan kongkrit. Publik tinggal melihat di awal kampanye dan kemudian menagih berbagai janji, bukan hanya proaktif di masa awal kampanye kemudian berubah menjai pasif dan malah menjadi reaktif ketika isu-isu baru muncul padahal kewajiban publiklah untuk bersama-sama menjaga implementasi janji-janji kampanye bukan baru memaki ketika terjadi perubahan.

Untuk yang menang tentu keterbukaan dan dialog yang persisten harus dilakukan, bukan hanya janji bahkan para pemenang kebanyakan menyalahkan generasi sebelumnya padahal janji pemenang adalah dialog, yang beda hanya pimpinan daerah misalnya, aparat birokrasinya pun masih sama, pengendali mesin akan waras jika pimpinannya waras pula. Pertempuran politik 2017-2018 jelas akan membawa isu-isu di atas tinggal bagaimana publik menyikapinya.

M. Rizki Pratamahttp://pratamarizkim.wordpress.com
Tenaga Pengajar Prodi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.