Jumat, Maret 5, 2021

Pelajaran Penting Dua Garis Biru

Jangan Lupa Menjadi Indonesia

Keberagaman bangsa kita sering menjadikan kebanggaan bagi semua kalangan, entah dalam budaya, agama, suku bangsa maupun pilihan dalam politik. Akan tetapi semua itu hanya...

Pertemuan IMF, Hari Tani, dan Logika pasar

Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan IMF (International Monetary Fund) dan World Bank (Bank Dunia) yang rencananya akan digelar pada 8-14 oktober di bali. Pendanaanpun...

Apa Kabar Deradikalisasi Agama? Sudahkah Dirimu Selesai?

Fenomena radikalisme di Indonesia sudah ada sejak negeri ini masih kecil. Namun salah satu kondisi paling akut pernah terjadi pada tahun 2009, saat negeri...

Universal Basic Income: Solusi untuk Masalah Kemiskinan

Menurut Kecuk Suhariyanto dalam artikel jurnal Syawie “Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial” (2011) berpendapat bahwa kemiskinan adalah kondisi saat seseorang atau sekelompok orang tak mampu...
M. Fauzan Aziz
Penulis lepas. Pemerhati media baru, jejepangan, dan budaya populer. Pegiat di kolektif Liteera.

Keliru jika menganggap film Dua Garis Biru Gina S. Noer hanya mempromosikan perilaku zina. Lewat skenario yang mengalir, cerita yang lekat, dan gaya bertutur yang penuh pengandaian, Dua Garis Biru adalah tipe film yang akan membuat kita berpikir ulang tentang satu hal yang sampai sekarang sayangnya masih tabu untuk diperbincangkan; yakni seksualitas.

Dua Garis Biru menceritakan Dara, anak perempuan dari keluarga kaya, cantik dan resik, rumahnya besar, sebagai bucin oppa, impiannya pergi ke Korea (Selatan). Bima, anak laki-laki dari keluarga miskin, kulitnya hitam, nilainya pas-pasan, motornya butut, rumahnya berada di kawasan padat penduduk, bapaknya pensiunan yang sehari-harinya mengutak-atik skuter jadul, ibunya berjualan gado-gado.

Pun begitu, Dara dan Bima saling mencinta. Sayangnya film ini tidak dimulai dari cerita cinta dua sejoli dimabuk asmara. Film praktis dimulai pasca bencana, berita jika kehamilan Dara telah mengacaukan semuanya.

Kontrasnya dua karakter tersebut mengingatkan saya dengan film Titanic. Rose dari keluarga terpandang, kegiatannya sehari-hari minum teh dengan gaun mewah di dek paling atas.

Sedangkan Jack adalah orang miskin, ia hanya bisa naik ke Titanic karena menang taruhan, ia tinggal bersama orang-orang miskin lainnya di lambung kapal, mabuk-mabukan dan bernyanyi keras-keras. Jack dan Rose saling mencinta, sayangnya hubungan mereka harus kandas bersama Titanic karena menerjang gunung es.

Perbedaannya, jika hubungan Jack dan Rose tiba-tiba kandas begitu saja di akhir cerita, hubungan Dara dan Bima kandas di awal cerita, tetapi penonton sepanjang film diberi harapan jika mungkin saja, cerita mereka berdua bisa berakhir manis.

Dalam roman yang mengisahkan dua sejoli dari kelas sosial yang berbeda, selalu ada kekuatan besar yang mencoba dan seringkali berhasil untuk mengacaukan suatu hubungan. Untuk konteks Dara dan Bima, kekuatan besar tersebut adalah kehamilan Dara di luar nikah.

Ketika Dara mengalami kontraksi pertamanya di sekolah, di sebuah institusi yang seharusnya menjadi tempat kedua dia untuk berlindung selain rumah, Dara malah mengalami penolakan. Sekolah tidak mau menanggung malu dan meminta Dara untuk mengundurkan diri. Sedangkan Bima sebagai laki-laki tidak diberi sanksi apa-apa, ia juga masih diperbolehkan sekolah.

Dara yang dahulu bermimpi ingin pergi ke Korea dan berkuliah di sana juga mulai berpikir untuk membuang mimpinya jauh-jauh. Sebagai anak-anak dia masih memiliki mimpi yang begitu besar, tetapi sebagai ibu hamil dia kini memiliki prioritas dan tentu Korea bukan salah satunya.

Sedangkan Bima tidak memiliki mimpi, dia hanya melepas kesempatannya untuk bersekolah dan memilih bekerja untuk membuktikan kepada keluarga Dara jika dia bertanggungjawab. Tidak seperti anak-anak lainnya, Bima dipaksa untuk dewasa terlalu cepat.

Di situasi lain, ibu Bima yang tidak kuat mendengar gosip dan kasak-kusuk tetangga, memutuskan untuk menikahkan anaknya dengan Dara. Akibatnya, pernikahan kakak perempuan Bima yang sudah direncanakan jauh-jauh hari pun harus dibatalkan.

Masih banyak contoh lainnya yang menggambarkan kekacauan-kekacauan yang timbul akibat kehamilan di luar nikah. Gina saya akui menampilkan semuanya tanpa bertele-tele, runtut, dan tidak ada yang dipaksakan, semuanya mengalir dengan lancar.

Saya pikir kekacauan-kekacauan yang timbul merupakan pelajaran penting yang bisa diambil dari film Dua Garis Biru. Bukan tentang pandangan jika perilaku zina mampu mengacaukan semuanya, tetapi bagaimana kegagapan masyarakat dalam memperbincangkan seksualitas menjadi sebab kekacauan tersebut bisa terjadi. Dan kita semua bertanggungjawab atas apa yang terjadi kepada Dara dan Bima.

Di Indonesia, wacana tentang seksualitas selalu direproduksi sebagai suatu hal yang vulgar dan memalukan, sehingga seringkali kita enggan bertanya dan menyimpan perbincangan tersebut sendiri-sendiri.

Namun di sisi lain, negara juga berperan besar dalam mengontrol wacana seksualitas; alat kontrasepsi, keluarga berencana, dan pernikahan satu agama adalah ragam caranya. Seksualitas menjadi hal yang tabu diperbincangkan, tetapi juga menjadi peraturan publik di mana masyarakat merasa terlibat di dalamnya.

Ini alasan mengapa porno balas dendam (revenge porn) bisa tumbuh subur di Indonesia. Bergerilya di ruang siber dan disirkulasikan oleh banyak orang, karena kita tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang bagaimana dirugikannya pihak perempuan ketika pihak laki-laki bisa bebas dan melenggang.

Istilah ‘anak haram’ juga menjadi alasan mengapa angka aborsi di Indonesia cukup tinggi. Kita terlalu malu untuk berdiskusi soal selangkangan sehingga cara satu-satunya hadir melalui gosip, kasak-kusuk, dan pengucilan. Negara bisa hadir untuk menentukan jika pernikahan beda agama tidak sah, tetapi lepas tangan untuk memberi pemahaman dan perlindungan tentang bahaya aborsi ilegal untuk perempuan.

Di dalam film, pilihan yang diambil keluarga Bima untuk lepas dari kasak-kusuk itu adalah pernikahan anak. Tetapi ini juga bukan solusi. Kita tidak mengetahui betapa berisikonya pernikahan di bawah umur baik secara medis, maupun mental, dan film ini menceritakan itu semuanya dengan baik.

Usaha Gina untuk mendudukkan wacana seksualitas di ruang yang lebih diskursif melalui film Dua Garis Biru patut diacungi jempol. Saya pikir ini akan menjadi usaha yang panjang dan melelahkan, tetapi saya optimis jika kehidupan seksualitas masyarakat Indonesia bisa lebih baik lagi dari sebelumnya.

M. Fauzan Aziz
Penulis lepas. Pemerhati media baru, jejepangan, dan budaya populer. Pegiat di kolektif Liteera.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.