Kamis, Maret 4, 2021

Pecah Kendi Garuda Indonesia

Disribusi Kekuasaan dan Moralitas Elite

Menjadi seorang politikus rasanya sungguh menggiurkan. Profesi ini telah merebut hati banyak orang. Mulai dari orang-orang biasa saja, para investor, sampai akademisi pun tak...

Menyoal Kartelisasi Oligarki Pasca Orde Baru

Kolapsnya rezim Soeharto menjadi babak baru bagi oligarki. Sebelum reformasi, Soeharto merupakan sosok oligark dengan kekuatan politik dan kekayaan material yang terkonsentrasi bak sultan....

Scholar-Activist Sebagai Paradigma, Sebuah Refleksi

Peran akademisi di masyarakat selalu menjadi objek yang diperdebatkan. Banyak yang mengkritik Universitas sebagai menara gading dengan ilmu pengetahuan yang bergerak lamban dalam pusaran...

Benarkah Reuni 212 Itu adalah Reuni Akal Sehat?

Pada acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang ditayangkan oleh TvOne pada Selasa (4/12) malam, Rocky Gerung (RG) memberikan pernyataan yang cukup mengganggu akal sehat...
Bayu Susena
Staf Badan Penjaminan Mutu

Haji merupakan ibadah umat Islam. Haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib bagi yang mampu. Perintah haji terdapat dalam QS Ali Imran Ayat 97 dan QS Al Hajj Ayat 27 dan 28.

Kontroversi dimulai ketika jamaah haji kloter pertama dari Solo akan terbang menuju tanah suci. Sebelum pesawat berangkat diadakan tradisi pecah kendi. Pecah kendi menjadi upacara seremoni pelepasan jamaah haji.

Tidak sekali ini saja Garuda Indonesia melakukan upacara pecah kendi. Dulu pecah kendi juga dilakukan ketika pesawat kepresidenan tiba di Bandara Halim Perdanakusumah pada Kamis 10 April 2014. Pesawat Boeing Bussines Jet berlogo Garuda juga disambut pecah kendi.

Pecah kendi tidak diajarkan dalam Islam. Pecah kendi merupakan tradisi Jawa yang mengambil dari tradisi nenek moyang yang beragama Hindu, Budha, animisme dan dinamisme. Sehingga pecah kendi bukan termasuk ghairu masyru’ atau tidak disyariatkan.

Masyarakat Jawa ketika Islam masuk, sudah memiliki kepercayaan-kepercayaan yang asli telah dianut. Seperti meyakini kekuatan magis keris, tombak dan senjata lainnya. Benda yang dianggap keramat dan memiliki kekuatan magis itu dipuja, dihormati dan mendapat perlakuan istimewa.

Kepercayaan-kepercayaan tersebut lama kelaman terkikis dan akan dihilangkan. Peran Islam sangat besar untuk menghilangkan hal-hal tersebut. Penyebaran Islam di Jawa tidak serta merta langsung menghilangkan hal-hal tersebut. Sedikit demi sedikit akan dihilangkan.

Tidak elok pecah kendi dijadikan seremoni pelepasan jamaah haji. Haji merupakan ibadah yang suci. Calon jamaah haji merupakan orang-orang pilihan.

Pecah kendi tidak disyariatkan maka harus dihilangkan. Pecah kendi juga perbuatan mubazir. Kendi masih bisa dipakai untuk keperluan lain, kenapa mesti dipecah.

Calon jamaah haji setelah pulang dari tanah suci, semoga membawa perubahan yang lebih baik. Dengan membawa gelar haji, para haji-haji ini saatnya menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat yang Islam semurni-murninya. Tidak lagi tercampuri oleh tradisi-tradisi nenek moyang.

Semoga pihak Garuda Indonesia juga mendapatkan keterbukaan pikiran. Bahwa pecah kendi tidak perlu dilakukan lagi dalam pelepasan jamaah haji ataupun dalam kegiatan-kegiatan lain.

Sumber foto : https://twitter.com/IndonesiaGaruda

Bayu Susena
Staf Badan Penjaminan Mutu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.