Senin, Januari 18, 2021

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Fatwa Mendiang Osama bin Laden

Dalam segala bentuknya, fundamentalisme adalah iman yang sangat reduktif. Dalam kecemasan dan ketakutan mereka, kaum fundamentalis sering mendistori tradisi yang coba mereka bela. Mereka...

Etika dan Bisnis Islam Dalam Dunia Moderen

Sebelum bicara panjang lebar mengenai Bisnis dan Etika dalam Islam, Patut kita ketrahui terlbih dahulu apa itu Bisnis dan apa itu Etika. Maka dari...

Manfaatkan Halaman Kosong

Kita adalah makhluk yang boros terhadap penggunaan kertas. Seringkali kita tanpa sadar menyia-nyiakan kertas yang sebenarnya masih bisa kita gunakan, akan tetapi karena tiadanya...

Jakarta Oh Jakarta

Jakarta merupakan belantara gedung-gedung pencakar langit dipenuhi dan dikelilingi beton-beton tinggi, jalan layang, jalan bawah tanah, LRT, MRT, dan banyak jalan utama, serta pembatas...
Avatar
Genta Ramadhan
Mahasiswa

Sinopsis Film Pay It Forward

Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang diadaptasi dari novel Catherine Ryan Hyde. Film ini bermula dari kisah Trevor berusia 12 tahun mendapat tugas penting dari gurunya. Sang guru tersebut memberikan sebuah proyek sosial pada muridnya sebagai prasyarat untuk naik kelas. Mereka diberi kebebasan menemukan cara mengubah dunia. Intinya mereka disuruh mencari jawaban bagaiamana setiap manusia mampu menebar manfaat pada manusia lainnya.

Tanpa pikir panjang, Trevor menemukan jawabannya. Ia memperkenalkan sebuah gagasan Pay It Forward seraya merumuskan skenarionya. Konsep ini mirip seperti bisnis MLM (multi level marketing) rasa kebaikan. Selain itu, konsep ini mengajarkan apabila seseorang berbuat kebaikan pada orang lain, hendaknya si penerima kebaikan harus konsekuen menebar kebaikan pada orang lain tanpa pamrih. Berbuat kebaikan itu sederhana dan tidak perlu pikir panjang, seperti memberi makan pada kaum gelandangan, bermuka manis, memaafkan kesalahan orang lain, bersabar ketika dilanda musibah, dan sebagainya.

Sebelum memulai aksi, Trevor mencari siapa saja yang layak ditolong. Akhirnya, ia menemukan tiga orang terdekat yang menjadi bahan projek sosialnya, antara lain Jerry (gelandangan sekaligus pecandu narkoba), Arlene (Ibu Trevor), Simonet (guru ilmu sosial Trevor). Meski ia mengalami kesulitan karena mereka larut dalam kebiasaan buruk mereka, namun siapa sangka gagasan tersebut sukses dan menjadi gerakan sosial di kota lain. Malangnya sebelum menikmati buah kebaikan, ia meninggal terlebih dahulu karena ditusuk ketika menolong Adam, teman sekelasnya. Kematian Trevor tidak hanya menyisakan duka bagi Arlene dan Simonet, tetapi juga orang lain yang tergugah karena gagasan Trevor.

Benteng dari Amukan Corona

Pandemi Covid-19 memberikan dampak besar yang menyisakan sejarah umat manusia. Tingginya angka mortalitas, ambruknya perekonomian, hidup ketakutan, dan gangguan kesehatan jiwa menjadi gambaran umum atas situasi kritis tersebut. Namun siapa sangka, semua musibah ini pasti ada hikmahnya. Dengan musibah ini berhasil merontokkan arogansi materialisme yang menghinggapi dalam hati manusia.

Menurut kami, gagasan Pay It Forward merupakan solusi tepat untuk menanggulangi Covid-19. Singkat cerita, gagasan ini merubah mindset bahwa manusia memiliki potensi amal kebaikan yang layak ditularkan pada orang lain. Agar kebaikan terus langgeng, hendaknya sikap ikhlas terus dipupuk pada setiap jiwa manusia.

Sejauh ini, pemerintah Indonesia gagal memberikan rasa aman pada rakyat dari dampak pandemi Covid-19. Alih-alih demikian, jumlah kasus Covid-19 di Indonesia mengalami peningkatan. Menurut data Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), pada tanggal 28 November 2020 tercatat 527.999 positif, 441.983 sembuh, dan 16.646 meninggal. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat. Hal ini belum termasuk dampak sekunder dari bencana tersebut. Oleh karena itu, gagasan Pay It Forward harus menjadi gerakan sosial terorganisir untuk menekan dampak buruk pandemi Covid-19.

Akan tetapi, jika pemerintah tidak sanggup melakukan gagasan tersebut, maka kita yang menjadi penggerak utama. Hendaknya kita perlu membiasakan berbuat baik yang mudah diamalkan. Menurut Ronald Surapradja, dikutip dari Media Indonesia, berbuat kebaikan memiliki empat tingkatan. Pertama, tidak merepotkan orang lain. Kedua, melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk orang lain. Ketiga, berbuat lebih baik kepada orang yang telah berbuat baik. Keempat, berbuat baik kepada orang jahat.

Sebenarnya memulai kebaikan ini tidak sulit asalkan terbiasa melakukannya. Namun, yang menjadi persoalan ialah mindset gila hormat ketika melakukan kebaikan. Justru gila hormat menjadi pangkal semua dari kerusakan dunia, sehingga sebagian orang salah tafsir memaknai kebaikan, alih-alih digunakan sebagai sarana mencapai kepentingan duniawi. Perlu kita ketahui, tidak selalu buah kebaikan bisa dinikmati pada saat itu juga. Akan tetapi, yakinlah jangan menyerah berbuat dan menjadi orang baik manakala kebaikan kita dicela oleh orang lain. Boleh jadi musibah sudah menjauh namun rezeki belum datang.

Lantas seperti apa tindakan kita untuk menebar kebaikan selama Pandemi Covid-19 berlangsung? Paling penting ialah menyayangi diri sendiri, seperti menjaga pola makan, perbanyak aktivitas fisik, kelola stress, berpikir positif, dan menyibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat. Selain itu, pikiran bisa mempengaruhi sistem imunitas tubuh yang memberikan peluang atau rintangan penyakit fisik menyerang tubuh manusia. Begitulah penjelasan dari konsep psikosomatik.

Jika kita berhasil mencintai diri sendiri, maka kita mudah berbuat baik kepada orang lain. Hendaknya berbuat baik kepada orang lain dilakukan sesuai keadaan dan kemampuan kita. Jika kita mampu menularkan kebaikan kepada 3 orang terdekat itu sudah berhasil, asalkan tetap memberikan pesan estafet kebaikan setelah berbuat baik pada mereka. Misalnya jika kita sebagai mahasiswa, hendaknya jangan gengsi menebarkan ilmu kepada anak-anak dan warga sekitarnya meskipun hanya satu ayat.

Adapun bentuk kebaikan yang dapat dikerjakan mahasiswa selama Pandemi Covid-19 seperti menjadi relawan pendidikan, menjadi relawan guru TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), aktif mengikuti penyuluhan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) dan protokol kesehatan.

Meskipun amal kebaikan itu tidak mampu menekan penyebaran virus Corona, setidaknya pikiran kita terjaga karena dipenuhi dengan rasa bahagia dan semangat mengerjakan sesuatu. Hal ini dikarenakan adanya reaksi hormon endorfin manakala kita telah melakukan berbuat baik pada diri sendiri dan orang lain. Akibatnya, semua jenis penyakit fisik enggan menyerang tubuh manusia. Pikiran sehat tentu melahirkan jasmani yang kuat, benar kan?

Avatar
Genta Ramadhan
Mahasiswa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.