Rabu, Januari 20, 2021

Patriarki Musuh Bersama

Paradoks “Kebebasan Berpendapat”

Era disrupsi seperti saat ini membawa dampak masif terhadap melimpahnya informasi baik di media masa maupun media daring. Di saat ruang publik dijejali melimpahnya...

Menjawab Globalisasi Pendidikan dengan Pendidikan Kontekstual

Saya percaya bahwa setiap manusia itu berbeda. Everyone is unique. Seperti sebuah harmoni indah dari musik yang terdiri dari berbagai macam nada. Dalam pendidikan,...

Menelisik Tradisi Kawalu Suku Baduy

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari sekitar 13.400 lebih pulau. Oleh karena itu, suku-suku di Indonesia juga beraneka ragam—tradisi (adat) dan budaya—seiring dengan...

Jalan Panjang Kebenaran dan Rekonsiliasi di Aceh

Tepat tanggal 24 Oktober 2017 yang lalu, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh berusia satu tahun. Komisi ini dibentuk berdasarkan mandate qanun no 17...
Muhammad Kamarullah
Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Hari Perempuan Internasional, suara perempuan bergemuruh di mana-mana. Melalui kampanye, aksi refleksi hingga tulisan-tulisan, mereka ekspresikan. Sebab salah satu tantangan utama kita dalam mengatasi masalah kesetaraan gender yang berasal dari faktor budaya patriarki yang sangat kuat.

Terlepas dari sejarah gerakan Internasional Woman’s Day itu, satu hal yang menjadi pelajaran penting bahwa eksistensi mereka adalah ajakan kepada kita semua untuk memerangi budaya patriarki.

Patriarki, secara umum didefinisikan sebagai perilaku mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu. Padahal dalam kehidupan ketata negaraan, kita mengakui tentang kesetaraan, keegaliteran. Dan praktik budaya patriarkis Ini secara rasionalitas manusia adalah jelas-jelas bagian dari ketidak adilan. Maka tak lain kita harus bersepakat bahwa budaya patriarki adalah kekejian yang harus dihapuskan.

Ironinya, berpikir patriarkis dan bertindak patriarkis telah menjadi realitas kita dan bahkan hampir menjadi tradisi. Kondisi semacam ini yang membuat (sebagian) laki-laki merasa memiliki kuasa terhadap perempuan. Sehingga tidak jarang mendengar perempuan selalu menjadi korban atas perlakuan laki-laki yang tidak sewajarnya. Laki-laki merasa lebih besar, merasa diri sebagai yang paling kuat. Akhirnya mensubordinasikan perempuan dan memposisikan dirinya sebagai ordinat.

Budaya patriarki yang marajalela ini akibatnya perempuan sering kali mengalami perlakuan tidak wajar. Kekerasan terhadap perempuan maupun pelecehan seksual (sexual harassment) hampir selalu dialami oleh perempuan. Baik itu Pelecehan dalam pacaran maupun aktivitas-aktivitas lainnya.

Menurut Catatan Tahunan (CATAHU) kekerasan terhadap perempuan tahun 2018 yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan pada 6 Maret 2019 lalu. Jumlah kasus KTP 2019 sebesar 406.178, jumlah ini meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 348.466. CATAHU 2019 ini menggambarkan beragam kejadian yang dialami perempuan sepanjang 2018.

Berdasarkan data-data yang terkumpul tersebut jenis kekerasan terhadap perempuan yang paling menonjol sama seperti tahun sebelumnya adalah KDRT/RP (ranah personal) yang mencapai angka 71% (9.637). Ranah pribadi paling banyak dilaporkan dan tidak sedikit diantaranya mengalami kekerasan seksual. Posisi kedua KtP di ranah komunitas/publik dengan persentase 28% (3.915) dan terakhir adalah KtP di ranah negara dengan persentase 0.1% (16).

Pada ranah KDRT/RP kekerasan yang paling menonjol adalah kekerasan fisik 3.927 kasus (41%), menempati peringkat pertama disusul kekerasan seksual sebanyak 2.988 kasus (31%), psikis 1.658 (17%) dan ekonomi 1.064 kasus (11%).

Pada ranah publik dan komunitas kekerasan terhadap perempuan tercatat 3.915 kasus. 64% kekerasan terhadap perempuan di Ranah Publik atau Komunitas adalah Kekerasan Seksual yaitu Pencabulan (1.136), Perkosaan (762) dan Pelecehan Seksual (394). Sementara itu persetubuhan sebanyak 156 kasus.

Inilah mengapa para feminism mendukung keras agar DPR RI segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS). Sebab nyatanya merekalah yang menjadi korban utama.

Tanpa disadari, data diatas menunjukkan bahwa penyebab utamanya adalah pikiran yang patriarkis. Sebab pertanyaan mendasarnya adalah mengapa perempuan yang selalu menjadi korban?.

Perihal budaya patriarki pun sering kali terjadi dalam rumah tanggga. Dalam konteks keluarga, sering kali terjadi perdebatan yang tak berpenghujung. Beberapa kalangan misalnya menganggap perempuan harus melayani suaminya bahkan 24 jam harus berada di rumah.

Bahkan ekstrimnya, apabila sang suami tidak mengizinkan untuk keluar rumah, maka perempuan haruslah tunduk dan patuh. Sebab konstruk berfikirnya adalah dosa istri ditanggung suami. Jangan sampai istri bepergian dan melakukan dosa dan suami yang menanggung itu semua.

Fakta menunjukkan bahwa akhir-akhir ini masih menjadi sebuah kenyataan kita. Stigma tentang perempuan tidak perlu mengakses pendidikan lebih tinggi, perempuan tidak perlu mencari kerja dan sebagainya masih menjadi tradisi kita. Akhirnya mendomistifikasi perempuan sering terjadi. Perempuan selalu diidentikkan dengan Dapur, kamar dan sumur.

Untuk melacaknya, Sigmun Freud menjelaskan bahwa yang paling menentukan kepribadian manusia adalah libido seksual mereka sendiri. Bagi Freud, fiksasi inses sudah terjadi pada laki-laki sejak kecil. Karena mempunyai afinitas seksual dengan ibunya sendiri. Ini awal mula perasaan superior seorang lelaki.

Salah satu dosen filsafat UI, Gadis Arivia memberikan komentar bahwa laki-laki di Indonesia banyak diuntungkan dibanding perempuan untuk menduduki jabatan publik. Keyakinan bahwa lelaki lebih superior jelas akan merugikan perempuan, karena keinginan dan ambisi mereka untuk maju dalam karir dan pendidikan akan dihambat.

Meski pandangan Freud telah dikritiki oleh para feminism. Praktik patriarki masih saja berdiri tegak dan masif. Domestifikasi perempuan inilah yang tidak diterima baik oleh kalangan Feminism.

Mereka yang selalu menjunjung tinggi kebebasan. Bahwa diantara suami maupun istri masing-masing tidak memiliki otoritas atas keluarga itu. Tetapi semua berawal dari konsensus (kesepakatan). Hal ikhwal yang berkaitan dengan keluarga adalah hasil kesepakatan bersama. Sehingga apapun konsekuensi yang terjadi dalam keluarga adalah tanggung jawab bersama.

Semangat feminism bukan hanya tentang wanita, proyek utamanya pun bukan perihal menciptakan jarak mengenai relasi gender. Tetapi substansinya adalah menghapus stereotipe tentang laki-laki adalah segalanya. Dalam artian menciptakan keluarga yang diidamkan dengan mengesampingkan hak perempuan adalah bagian dari ketidakadilan. Feodalism didalam keluarga harus ditiadakan.

Akhirnya, Yang paling pokok adalah bagaimana untuk membangun tradisi kehidupan yang tidak bias gender. Menumbuhkan budaya demokratis dalam segala aspek akan menjamin keharmonisan diantara sesama. Satu-satunya adalah untuk menghapus pikiran dan perbuatan yang patriarkis.

Selain itu, kita berharap agar pemerintah selayaknya memberikan akses yang setara bagi setiap warga negara, perempuan ataupun laki-laki. Baik dalam aspek politik, sosial maupun ekonomi. Sebab menjunjung tinggi kesetaraan gender pun bagian terpenting dalam kehidupan bernegara.

Muhammad Kamarullah
Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.