Senin, April 12, 2021

‘Partai Emak-Emak’ dalam Demokrasi Indonesia Kini

Memaksa Anak Jadi Kartini

Setiap bulan April tiba, orang akan sibuk dan menyibukkan diri untuk menyambut Hari Kartini. Gadis-gadis kecil di lingkungan PAUD  (pendidikan anak usia dini), yang...

Kalau mau kaya jangan jadi dokter?

"Kalau mau kaya jangan jadi dokter" seperti itulah kata kata yang hampir saya dengar setiap perkuliahan. saya mahasiswa fakultas kedokteran di salah satu universitas...

Manifesto Sayyid Qutb: Kritik dan Masa Depan Islam

Menelaah pentingnya nilai Islam dalam kehidupan publik sebagian bangsa Arab kontemporer kala itu, sangat mudah untuk melupakan betapa sekulernya timur tengah pada tahun 1981....

Menguatkan Demokrasi yang Rapuh

Alexis de Tocqueville (1835), pernah mengatakan bahaya utama demokrasi bukan lantaran kelemahannya, melainkan justru kekuatan luar biasanya. Pendapat Tocqueville patut dijadikan renungan bersama di...
Fadhlan Aldhifan
Mahasiswa Biasa

Proses pemilihan presiden yang akan dilangsungkan pada 2019 mendatang telah memasuki tahapan baru. Dua pasang bakal calon presiden dan wakil presiden telah dideklarasikan pada Kamis (9/8), masing-masing yakni petahana Joko Widodo berpasangan dengan KH. Ma’ruf Amin serta koalisi oposisi Prabowo Subianto didampingi oleh Sandiaga Uno. Keesokan harinya (10/8) kedua koalisi kompak mendatangi Komisi Pemilihan Umum untuk mendaftarkan diri dan menyerahkan berkas tepat di hari terakhir masa pendaftaran.

Pada kesempatan tersebut, masing-masing pasangan bakal calon diberikan kesempatan untuk menyampaikan pidato di hadapan simpatisan dan wartawan. Ada kejadian unik dan menarik yang terjadi saat bakal calon wakil Presiden Sandiaga Uno menyampaikan pidato. Dalam pidatonya, Sandi mengatakan, begitu banyak partai, tetapi belum ada ‘partai emak-emak’ yang memikirkan nasib para ibu di Indonesia.

Melalui pidatonya yang menyapa kalangan emak-emak, Sandi menandaskan kekuatan dan perjuangan dirinya di bidang ekonomi khususnya komoditas bahan pokok yang setiap harinya bersinggungan dengan kehidupan kaum wanita.

“Juga begitu banyak partai di sini, tapi yang belum ada itu adalah partai emak-emak,” ucap Sandi disambut riuh rendah ibu-ibu yang hadir untuk mengantarkan Prabowo-Sandi mendaftar ke KPU. “Partai emak-emak juga terepresentasi di sini dan kami akan berjuang untuk partai emak-emak. Kami ingin harga-harga terjangkau, harga pangan stabil, dan kami ingin percepatan pembangunan dengan yang bersih,” janji Sandi.

Tidak butuh waktu lama, kata-kata ‘partai emak-emak’ pun menarik perhatian pengguna media sosial. Dalam beberapa menit usai sambutan, kicauan tentangnya sudah meramaikan lini masa Twitter. Pantauan Tekno Liputan6.com, topik tentang ‘partai emak-emak’ terus dikicaukan oleh warganet. Sebagian pun memuji langkah Sandiaga yang ikut peduli dengan kepentingan ‘emak-emak’.

Meskipun dapat dipahami bahwasanya yang dimaksud dengan ‘Partai Emak-Emak’ bukanlah sebagaimana terkategorikan dalam definisi partai politik yang mengikuti kontestasi pemilihan umum untuk dipilih oleh pemilih.

Melainkan dalam hal ini lebih kepada sebuah istilah yang diperkenalkan untuk menggambarkan segmentasi pemilih kaum wanita sebagai kelompok penekan yang perlu diakomodasi aspirasinya.

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, kelompok penekan berbeda dengan partai politik karena tidak bisa memiliki taktik penominasian calon sebagai wakil mereka. Dalam kaitannya dengan menyinggung tindakan yang diambil pemerintah, kelompok penekan dapat memberikan dukungan kepada partai politik dan calon yang mendapat simpati mereka (Ikhsan, 2015).

Lebih lanjut, keputusan Sandi untuk menyampaikan keberpihakannya kepada kaum perempuan tentulah merupakan bagian dari strategi politiknya apabila kita kaitkan dengan dengan insentif elektoral yang cukup potensial.

Sebagaimana diketahui bersama, tingkat partisipasi perempuan dalam politik elektoral di Indonesia semakin membawa dampak yang signifikan. Bilamana kita melihat data Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017 silam, dimana pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno meraih kemenangan, jumlah pemilih perempuan tergolong tinggi.

Berdasarkan data yang diunggah KPU DKI di situs resminya, total ada 7.108.589 orang pemilih di Jakarta. Jumlah itu terdiri dari 3.561.690 orang pemilih berjenis kelamin laki-laki dan 3.546.899 perempuan.

Kemudian bila kita meninjau dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi, pada kontestasi Pilkada Serentak 2018 yang diselenggarakan di 171 daerah di seluruh Indonesia tercatat ada 152.057.054 pemilih yang menjadi daftar pemilih tetap dalam pemilihan tahun ini.

Dari komposisi pemilih tersebut sebanyak 75.975.607 pemilih laki-laki dan 76.081.447 merupakan pemilih perempuan. Bahkan Komisioner KPU Wahyu Setiawan dalam jumpa pers di kantor KPU, Jakarta, Jumat (29/6) mengatakan, tingkat partisipasi perempuan lebih tinggi, yakni di angka 76,7 persen. Sementara tingkat partisipasi pemilih laki-laki hanya 69,32 persen.

Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat bahwa kaum perempuan telah mencapai titik baru dalam meningkatkan perannya berdemokrasi di negara Indonesia ini. Tidak salah kemudian bilamana tokoh politik berusaha untuk memposisikan dirinya sebagai bagian daripada suatu kalangan. Mulai dari saat masa kampanye hingga ketika merumuskan kebijakan publik yang dapat mengakomodir aspirasi dan kepentingan dari kelompok-kelompok tersebut.

Dan pernyataan Sandi tersebut seolah membuka ruang baru bagi kaum wanita untuk dapat berpartisipasi lebih jauh lagi dalam demokrasi Indonesia pasca 20 tahun Reformasi. Untuk itu dapat kita nantikan bagaimana Sandiaga Uno dan tim pemenangannya dapat mengemas isu tersebut secara lebih komperhensif untuk tentunya memberdayakan kalangan yang tidak dapat dipandang sebelah mata tersebut.

Ataukah justru pasangan Joko Widodo dan KH. Ma’ruf Amin punya cara jitu lain dalam menggaet pemilih dari kalangan ‘emak-emak’?

Referensi

Darmawan, Ikhsan. 2015. Mengenal Ilmu Politik. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Ranney, Austin. 1958. The Governing of Men: An Introduction to Political Science. New York: Holt, Rinehart and Winston Inc.

Damarjati, Danu. 2017. “KPU DKI: Ada 7,1 Juta Pemilih di Pilgub 2017” dalam https://news.detik.com/berita/d-3414042/kpu-dki-ada-71-juta-pemilih-di-pilgub-2017 diakses pada 11 Agustus 2018 pukul 09.55

Ihsanuddin. 2018. “Partisipasi Pemilih Pilkada Serentak 2018 Capai 73,24 Persen” dalam https://nasional.kompas.com/read/2018/06/29/21115801/partisipasi-pemilih-pilkada-serentak-2018-capai-7324-persen diakses pada 11 Agustus 2018 pukul 10.09

Malau, Srihandriatmo. 2018. “Pengamat: Ucapan Partai ‘Emak-emak’ oleh Sandiaga Jadi Strategi Komunikasi Politik yang Bagus” dalam http://www.tribunnews.com/nasional/2018/08/10/pengamat-ucapan-partai-emak-emak-oleh-sandiaga-jadi-strategi-komunikasi-politik-yang-bagus diakses pada 11 Agustus 2018 pukul 09.02

Rizky, Muhamad. 2018. “KPU: Daftar Pemilih Tetap Pilkada Serentak 2018 Capai 152 Juta Orang” dalam https://news.okezone.com/read/2018/05/28/337/1903697/kpu-daftar-pemilih-tetap-pilkada-serentak-2018-capai-152-juta-orang diakses pada 11 Agustus 2018 pukul 10.05

Wardani, Agustin Setyo. 2018. “Sebut Partai Emak-Emak, Warganet Puji Sandiaga Uno di Twitter” dalam https://www.liputan6.com/tekno/read/3615530/sebut-partai-emak-emak-warganet-puji-sandiaga-uno-di-twitter diakses pada 11 Agustus 2018 pukul 09.16

Fadhlan Aldhifan
Mahasiswa Biasa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.