OUR NETWORK

Paradoks Kegairahan Komunitas Sastra di Indonesia

Loyalitas Longgar

Banyak karya sastra dihasilkan para anggota komunitas sastra. Banyak buku diterbitkan komunitas sastra. Tapi, dokumentasi menjadi persoalan serius yang dihadapi pelbagai komunitas di Indonesia. Kegairahan menghasilkan karya sastra tak diimbangi kesadaran kolektif yang tinggi untuk mendokumentasikannya, apalagi secara sistematis.

Kondisi tersebut merupakan produk turunan dari persoalan serius yang dihadapi bangsa Indonesia dalam pendokumentasian karya cipta. Wajar jika sebagian besar komunitas sastra tak menyimpan secara lengkap karya sastra yang diterbitkan mereka atau data-data hasil kegiatan mereka.

Sebagian besar komunitas sastra memang tak menempatkan kegiatan pendokumentasian sebagai agenda utama. Padahal, ketika mereka menerbitkan buku atau terbitan berkala; membuat website, webblog, atau media sosial; merekam pembacaan atau pementasan karya sastra; merekam kegiatan sastra lisan; dan sejenisnya; semua itu sesungguhnya bagian dari upaya pendokumentasian.

Tapi, ketika jejak pendokumentasian itu tak mudah dilacak atau bahkan pendokumentasian itu benar-benar kehilangan jejak, komunitas telah menjadi suatu paradoks.

Loyalitas Longgar

Mudahnya setiap orang membentuk atau keluar-masuk suatu komunitas sastra memang menjadi persoalan lain yang dihadapi hampir semua komunitas di Indonesia. Kenyataan tersebut mengesankan bahwa loyalitas para anggota tak kokoh, meski sebagian besar komunitas di negeri ini hanya didukung sedikit anggota.

Sistem keanggotaan yang longgar mempermudah mereka menjadi anggota pada lebih dari satu komunitas atau bahkan mendirikan komunitas baru tanpa menghilangkan keanggotaan pada komunitas sebelumnya. Kelonggaran tersebut tak dapat dipisahkan dari kenyataan bahwa sebagian besar komunitas di negeri ini merupakan organisasi tak formal.

Loyalitas memang karakter yang langka pada kebanyakan komunitas sastra di Indonesia. Selain sistem keanggotaan yang longgar, kesusastraan lengkap dengan masyarakat pendukungnya memang telanjur diidentikkan sebagai dunia ketersendirian.

Kalaupun kemudian masyarakat pendukung kesusastraan itu membangun atau memasuki suatu organisasi, entah formal, lebih-lebih tak formal, sifat bawaan dunia ketersendirian itu seperti sukar dilepaskan. Jadilah pendirian komunitas menyimpan paradoks lain pada dirinya sendiri.

Relasi Tak Imbang

Paradoks juga terjadi ketika tak sedikit komunitas sastra dibentuk dengan relasi yang tidak imbang antaranggotanya. Relasi yang tidak imbang tersebut mungkin lahir lantaran komunitas itu sejak awal memang berfungsi sebagai sanggar atau wadah pembibitan atau pelatihan.

Dalam kondisi demikian, potensi konflik antarkepentingan mungkin lebih kecil untuk terjadi atau bahkan tak ada celah. Sebab, komunitas semacam itu dibangun dengan kesadaran bahwa relasi antaranggotanya memang timpang.

Sementara, bila relasi yang tidak imbang itu lahir bukan karena konsekuensi bentuk komunitas, ketimpangan itu muncul biasanya lantaran pihak pendominasi atau penghegemoni mampu menjalin hubungan antarpersonal dan jaringan yang lebih luas.

Ada juga sejumlah komunitas dengan hubungan antaranggota yang timpang karena pihak penghegemoni memang punya pengetahuan sastra dan kemampuan menghasilkan karya sastra yang lebih baik. Penghegemoni yang punya dana besar dan fasilitas kegiatan yang lengkap juga berpeluang menciptakan ketimpangan.

Dalam relasi tak imbang itu, biasanya, ada pemuka yang berperan sebagai pusat kekuasaan. Di satu sisi, kehadiran pelbagai komunitas sastra itu seperti ingin menegasikan apa yang selama ini disebut pusat.

Tapi, di sisi lain, pada saat yang sama, keberadaan pemuka menciptakan pusat baru di tubuh komunitas. Karenanya, setiap proses kreatif yang bertolak darinya berpeluang lebih sempit untuk menjadi penuh warna. Kalau hal tersebut yang terjadi, pusat-pusat baru yang personal individual ini tentu “lebih berbahaya” untuk suatu kreativitas.

Meski begitu, pelbagai komunitas sastra yang memiliki pusat kekuasaan itu biasanya punya daya hidup lebih panjang selama sang pemuka masih sehat dan masih semangat berkomunitas. Nasib yang sebaliknya dapat menghimpit komunitas tanpa pusat dengan relasi antaranggota yang setara.

Ketika mendirikan komunitas, mereka hanya punya satu kepentingan. Tapi, dalam perjalanan, kepentingan mereka berubah, sehingga muncul konflik kepentingan antaranggota. Karena itu, boleh jadi, ancaman bubar lebih besar pada komunitas tanpa pusat ketimbang komunitas dengan pusat.

Salah satu kegiatan Saung Sastra, Tangerang
http://Istimewa

Dana Minim

Sebagian besar komunitas sastra di Tanah Air merupakan kelompok kecil dan bukan organisasi formal. Komunitas yang berukuran lebih besar, termasuk yang sudah berbentuk organisasi formal, umumnya juga memiliki dana terbatas, meski kegiatan mereka beragam.

Yang membedakan mereka dengan komunitas sastra berukuran kecil adalah adanya pengelolaan keuangan, walaupun umumnya sederhana. Mereka memiliki uang kas, walau jumlahnya terbatas. Pada beberapa komunitas, uang kas tersebut digali dari iuran para anggota dengan kedisiplinan membayar yang cenderung rendah, meski nominal iuran itu kecil saja.

Sebagian besar pendanaan pelbagai kegiatan justru ditaja dari penghimpunan dana dari para donatur tak tetap, baik donatur anggota maupun bukan anggota. Untuk kegiatan yang membutuhkan dana sangat besar, komunitas-komunitas ini menggandeng lembaga pemerintah, lembaga asing nonprofit, dan atau institusi bisnis membiayai atau mensponsorinya.

Di titik itulah terjadi paradoks: uang kas komunitas-komunitas itu minim atau bahkan sangat minim, tapi, ketika menyelenggarakan suatu kegiatan besar, mereka mampu mengumpulkan dana hingga ratusan juta rupiah.

Bahkan, belasan tahun lalu, ada komunitas sastra yang mampu mengumpulkan dana hingga melebihi Rp1 miliar dari para donatur di luar anggotanya untuk menyantuni para korban gempa. Punya atau tidaknya jaringan yang luas menjadi kunci bagi suatu komunitas mampu atau tidak menghimpun dana besar.

Pengelolaan Sambil Lalu

Kita dapat menengarai adanya kelemahan perencanaan program kegiatan pada sebagian besar komunitas sastra. Selain persoalan keterbatasan dana dan jaringan, penyebab lain adalah paradoks bahwa komunitas cenderung tak ditempatkan sebagai suatu organisasi yang butuh dikelola secara serius. Bukan sambil lalu.

Kuatnya pencitraan komunitas sastra sebatas paguyuban yang sangat cair memang mengesankan tak pentingnya pengelolaan komunitas secara profesional. Profesionalitas dikhawatirkan mereduksi atau bahkan mengebiri kerja kreatif para anggotanya. Organisasi masih sering dipahami sebagai entitas yang bertubrukan dengan kreativitas. Bukan entitas yang berpotensi memfasilitasi pengembangan kreativitas.

Kita tentu tak mengharapkan semua komunitas menepis karakteristik keguyuban karena di situlah salah satu kekuatannya. Tapi, kontribusi komunitas dapat lebih terdongkrak jika lebih banyak lagi komunitas sastra diurus lebih serius.

Walau tak merata, komunitas sastra tumbuh di mana-mana di negeri ini bak cendawan di musim hujan. Ketika akhirnya banyak komunitas hanya menyisakan nama yang pelan-pelan segera dilupakan waktu, mereka benar-benar sirna laksana asap. Itulah sesungguhnya substansi paradoks kesemarakan pertumbuhan komunitas sastra di Indonesia.

Penjaga gawang Indonesia Literary Community dan Bale Buku Bekas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…