Senin, November 30, 2020

Paradoks Gerakan Front Pembela Islam

Efektivitas Pemerintahan Banyuwangi

Tren performa birokrasi Banyuwangi dalam beberapa tahun terakhir layak mendapatkan apresiasi. Pemkab Banyuwangi mendapatkan berbagai penghargaan terkait dengan peforma birokrasi karena dianggap mampu menghasilkan...

Aku Cantik Maka Aku Ada?

“Kamu itu emang nggak cantik sih, tapi setidaknya kamu bisa melakukan....” Selama 23 tahun saya hidup, kalimat senada di atas sudah sering hinggap di telinga....

Hari Angkutan Nasional, Ayo Naik Bus!

Hari Angkutan Nasional yang jatuh pada hari Selasa, 24 April 2018, tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas. Informasi tentang Hari Angkutan Nasional sangat sulit...

Merindukan Mahaguru Bangsa

Tidak penting apapun agama atau sukumu, kalo kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan pernah tanya apa agamamu. Begitulah...
Arif Ramadhan
Penyayang sesama mahluk Tuhan dan suka berbagi kasih.

Siapa yang tidak mengenal Front Pembela Islam (FPI)? Hampir seluruh rakyat Indonesia mengenalnya. Organisasi yang didirikan oleh Rizieq Shihab adalah organisasi yang cukup menjadi perhatian publik. Perhatian tersebut tidak lain merupakan bentukan paham yang dibangun tentang perlawan terhadap kemaksiatan, jihad dan sebagainya. Bahkan terparah adalah menciptakan pemahaman kepada warga non muslim sebagai paham yang kafir.

Hal semacam ini perlu kita melihat secara jernih, slogan apa yang dibangun oleh FPI hingga mampu memancing masa yang begitu banyak dan mampu membolak balikan arah politik Indonesia.

Dalam buku Ian Wilson “Main Hakim Sendiri dan Militansi Islam Populis Indonesia; Studi Kasus Front Pembela Islam” menjelaskan secara spesifik bagaimana peran FPI yang ‘maha dasyat’ tersebut sehingga ditakutkan oleh sebagian kalangan. Namun, disisi lain, ada juga kalangan yang berani menantangnya, diantaranya adalah kalangan Islam sendiri; Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

Ian Wilson begitu dalam mengurai latar belakang FPI sebagai organisasi Islam yang melawan kemaksiantan, namun disisi lain FPI juga mendukung kemaksiatan. Salah satunya tentang rumah bordil dan klub malam di sekitaran Jakarta. Peran FPI begitu terlihat tebang pilih tentang arti melawan kemaksiatan, FPI tidak berani mengganggu klub malam maupun rumah bordil kelas kakap, karena dapat merugikan pihak FPI sendiri.

FPI lebih doyan melawan bisnis kecil rumah bordil dan sebagainya. Ternyata menurut Ian Wilson ada kepentingan lain, yaitu menghilangkan saingan dan memudahkan pasar rumah bordil maupun klub malam besar. FPI pun dianggap ‘mitra kerja’ oleh pemerintah dan Kepolisian (Ian Wilson; 40).

Selain itu juga, Ian Wilson menjelaskan bagaimana gerakan Greenpeace Indonesia ditolak oleh FPI. Padahal Greenpeace Indonesia sedang mengempanyekan hilangnya hutan akibat perkebunan sawit.

FPI menyebutkan gerakan Greenpeace Indonesia dibiayai oleh dana haram dari hasil perjudian (Ian Wilson; 44). Namun dugaan tersebut salah, FPI tidak berhenti disitu dan menuding bahwa Greenpeace tidak terdaftar dan menjadi perwakilan asing. Kepentingan FPI sendiri, termasuk kerja sama sementara dengan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), diduga karena insentif signifikan yang diberikan industri kelapa sawit yang menjadi target kampanye Greenpeace.

Gerakan FPI ternyata tebang pilih dalam melawan kemaksiatan. Ian Wilson mengurai hal tersebut memiliki kepentingan. Bahkan organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan NU tidak sepaham dengan cara yang dilakukan FPI. Sebagai pemimpin, Rizieq Shibah sering melontarkan atau merendahkan dasar negara seperti Pancasila. NU yang memiliki masa terbesar se-Jawa Timur benari menolak kehadiran FPI (Ian Wilson; 45).

Dalam tulisan Ian Wilson sejatinya perlu melihat secara jernih setiap kepentingan yang mengatas namakan rakyat, apalagi menggunakan kata “umat Islam”. Hal semacam itu tidak terlepas dari berbagai kepentingan, yang sebenarnya menguntungkan koorporatisme meupun bisnis ‘haram’ yang seharusnya wajib dilawan oleh gerakan Islam.

Islam tidak bisa tunduk terhadap kekuasaan penguasa, selagai hal tersebut batil, maka perlawan tersebut wajib dilakukan. Tindakan semacam itu yang diperlihatkan oleh para nabi-nabi, bagaimana Musa melawan Fir’aun, Ibrahim melawan Namrud, Muhammad melawan kekuasaan para bani Qurais yang menguasai daratan Arab dan perjuangan nabi lainnya. Hal demikian adalah contoh revolusi yang nyata tanpa pandang bulu bahkan tundukpun tidak terhadap kekuasaan.

Dari kisah-kisah nabi, kita melihat bagaimana mereka menjadi pencerah dalam melawan kebatilan. Hal ini tidak kita rasakan dari gerakan Islam yang berlogo FPI. Selemah-lemahnya iman, apabila tidak mampu melakukan revolusi, gerakan Islam seperti FPI minimal melakukan hal yang sama seperti gerakan Islam pada masa Hindia Belanda bagaimana Serakat Islam begitu vokal melawan penjajah, tanpa kompromi dan tanpa pandang bulu. Dan, Sarekat Islam adalah salah satu akar gerakan revolusi Hindia Belanda sebelum mencapai kemerdekaan Indonesia.

Mungkin benar yang disebutkan oleh Marx bahwa agama adalah candu. Bukan sebagai kepercayaan yang dimaksud oleh Marx, melainkan agama tunduk terhadap kekuasaan. Seharusnya agama, seperti yang digaungkan oleh FPI lebih depan melawan kebatilan. Senada dengan penyampaian Haji Misbach dalam Nor Hikmah “Pertarungan Islam dan Komunis Melawan Kapitalisme: Teologi Pembebasan Kyai Kiri Haji Misbach”, Ia menyebutkan “orang yang mengaku diri Islam tetapi tak setuju ada komunisme, saya berani mengatakan ia bukan Islam yang sejati”.

Kalimat di atas memang memiliki perdebatan tersendiri, tetapi yang semestinya diambil dari gagasan Haji Misbach yakni Islam sebagai agama pencerah dan komunisme sebagai alat gerakan untuk mencapai revolusi, maka Islam dan Komunisme bersama melawan kebatilan dalam bentuk imprealisme, kapitalisme dan model penjajahan gaya baru. Tujuan akhirnya adalah pembebasan bagi umat itu sendiri, tanpa terkungkung oleh kekuasan modal yang mampu memperalat manusia dan menindas manusia.

Sangat disayangkan FPI tidak hadir dalam bentuk penindasan yang amat sangat dirasakan oleh umat Islam. FPI hanya fokus terhadap gerakan politik seperti melawan Ahok.

Seharusnya FPI hadir ketika penggusuran yang dilakukan oleh negara seperti yang terjadi atas pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA); FPI harus hadir melawang pengusaha tambang di Kalimantan Timur yang mengakibatkan matinya 32 orang anak di lubang tambang.

FPI harusnya hadir diantara kesulitan warga yang kesusahan memperoleh akses ekonomi, pendidikan dan kesehatan; FPI harusnya lebih depan menggaungkan kemaksiatan bagi pengusaha yang memperkosa bumi dan merugikan manusia lainnya; FPI semestinya menjadi garda terdepan sebagai panji Islam dalam melawan korupsi; dan FPI semestinya lebih melihat manusia bukan karena agama, seperti yang dilakukan oleh Musa ketika melawan Firaun, dimana kaumnya pada saat itu adalah Bani Israel.

Arif Ramadhan
Penyayang sesama mahluk Tuhan dan suka berbagi kasih.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Bukankah Allah Menegaskan Dunia Ini Tak Akan Pernah Sama?

Kenapa ada orang yang bersikeras mengharuskan umat manusia berada di bawah satu panji atau berprilaku dengan satu cara (manhaj). Apakah demikian yang diajarkan Al-Quran?...

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.