Sabtu, Januari 16, 2021

Para Srikandi Dibalik Padamnya Kebakaran Lahan di Palangka Raya

Kilas Sejarah Tahun Hijriyah dan Kejayaan Islam

Tenggelamnya matahari pada kamis kemarin (20/09/2017) merupakan momen spesial bagi umat Islam, karena bertepatan dengan 1 Muharram sekaligus pergantian tahun baru 1439 Hijriyah. Berbeda...

Koperasi dan Pemberantasan Rentenir

Apabila ditanyakan secara acak kepada masyarakat tentang koperasi, tidak jarang banyak yang menjawab bahwa koperasi adalah simpan pinjam, rentenir, berbunga tinggi, dan investasi bodong....

Ketika DPP Golkar Restui Dedi Mulyadi

Oleh   : Widdy Apriandi (Penulis adalah Pegiat Kopi Tanah Air Sekaligus Founder Kedai Kopi “Bandit” – Purwakarta) Selamat ngopi di awal bulan ini, teman! Mestinya,...

Silaturahim: Menuju Fitrah, Menuju Mudik Besar

Bahwa “diri” kita adalah diri yang tak hanya bersifat diri-individual merupakan sesuatu yang tak dapat dipungkiri dalam kenyataan budaya dan kemanusiaan kita. Selain “diri”...
Arapa Efendi
Tim Divisi Komunikasi Borneo Nature Foundation dan pemerhati bahasa, budaya, dan isu-isu terkait konservasi.

Pemandangan tak biasa tampak ketika beberapa wanita yang tergabung dalam masyarakat peduli api (MPA) bersama dinas dan aparat terkait terlihat sangat sigap memadamkan api yang menelan puluhan hektar lahan di kota Palangka Raya baru-baru ini.

Hal ini tentu menjadi cerita unik di balik upaya penanggulangan kebakaran lahan di Kota Palangka Raya yang selama beberapa pekan “sukses” membuat udara setempat bercampur aroma asap yang sangat menusuk penciuman.

Para wanita pemberani ini tidak hanya berperan di balik layar membantu logistik tim pemadam api, namun mereka terjun langsung ke titik kebakaran, mengoperasikan mesin pompa air di area terbakar, dan memadamkan api yang melumat habis puluhan hektar lahan gambut di kota yang digadang-gadang akan menjadi ibu kota negara Indonesia tersebut.

Hal tersebut tentu saja tidak tanpa risiko mengingat area terbakar sangat luas, jauh lebih luas dibandingkan dengan lapangan sepak bola sekalipun. Oleh karena itu, bahaya sangat mungkin terjadi mengancam keselamatan para wanita tersebut. Belakangan, kita membaca berita di mana 4 orang dikabarkan meninggal dunia di beberapa kabupaten di Kalimantan Barat lantaran infeksi pernapasan akut karena terpapar kabut asap. Selain itu, lahan gambut bisa saja membuat kaum hawa ini terperosok ke dalam bara api yang siap membakar kaki mereka.

Saat ini Palangka Raya dan sebagian besar kabupaten di provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) sedang rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Terkait dengan hal tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bahkan telah menetapkan status siaga darurat karhutla di empat provinsi yang salah satunya adalah Kalteng sejak awal tahun lalu. Hal ini dikarenakan ratusan sebaran titik panas yang terpantau di provinsi yang sebagian besar lahannya didominasi oleh rawa gambut yang sangat rentan terhadap api pada musim kemarau.

Masyarakat Kalteng tentu saja tidak mungkin lupa terhadap dampak buruk dari karhutla pada tahun 2015 yang datang bak mimpi buruk bagi semua orang di mana rumah sakit sudah tidak mampu lagi menampung pasien yang dipadati oleh bayi, anak-anak, serta masyarakat dengan usia lanjut.

Sejauh ini, tercatat ada tiga orang anggota MPA wanita yang berasal dari dua desa di kelurahan Kereng Bangkirai dan Sabaru kecamatan Sebangau. Total anggota MPA di Kereng dan Sabaru kurang lebih berjumlah 55 orang (29 orang di MPA Kereng dan 26 orang di Sabaru). Jadi jika disimpulkan, presentase jumlah anggota wanita di kedua MPA tersebut hanya sekitar 5%. Jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan jumlah anggota laki-laki yang mendominasi keseluruhan anggota MPA.

Astri (25 tahun) yang merupakan salah satu dari tiga wanita pemberani tersebut menyampaikan bahwa dirinya tertarik untuk bergabung bersama MPA karena sebagai dirinya merasa bertanggung jawab untuk menjaga daerahnya agar tidak kembali merasakan dampak buruk dari kabut asap seperti tahun-tahun sebelumnya.

Wanita kelahiran tahun 1992 ini menambahkan pula bahwa baik laki-laki dan wanita memiliki peran yang sama di dalam tim dan tidak ada perlakuan khusus karena seluruh anggota tim memiliki kewajiban  dan tanggung jawab yang sama dalam penanggulangan kebakaran lahan.

Aksi heroik para wanita yang turut serta memadamkan kebakaran lahan di kota Palangka Raya dengan segala risikonya ini patut diacungi jempol. Mungkin apa yang mereka lakukan sangatlah cukup untuk mendefinisikan kembali arti kata wanita yang ada pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di mana wanita hanya diartikan sebatas pada penjelasan fisik saja.

Jika melihat kembali masyarakat kita, wanita selama ini masih berada pada posisi yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Hal ini terjadi karena sistem sosial pada mayoritas masyarakat di Indonesia didominasi oleh sistem patriarki yang menempatkan laki-laki pada posisi superior (dominan) sedangkan wanita dianggap sebagai pihak yang marginal, terpinggirkan.

Sylvia Walby, guru besar di Lancaster University yang juga penulis buku Theorizing Patriarchy, menjelaskan adanya dua citra (image) yang menjadi gap antara peranan laki-laki dan wanita di masyarakat yakni maskulinitas dan stereotip (konsep subjektif) pada kaum wanita. Contohnya, memadamkan api menuntut fisik prima, tenaga yang kuat, lincah, dan sigap di mana konstruksi sosial pada keempat hal ini dianggap hanya melekat pada kaum laki-laki yang terlahir maskulin.

Dalam dunia pewayangan, Srikandi digambarkan sebagai sosok wanita yang cantik dan sangat terampil dalam ilmu keprajuritan. Putri kedua dari Prabu Drupada ini diceritakan sebagai seorang putri yang sangat mahir dan tangkas memanah karena ia pernah belajar pada Arjuna, salah satu pahlawan dalam cerita Mahabharata yang juga merupakan anggota Pandawa.

Lalu apa kaitan Srikandi dengan Astri dan kedua anggota MPA wanita lainnya? Di balik kecantikannya, Srikandi seringkali disimbolkan sebagai ‘prajurit tangguh’ yang kemudian dikisahkan menjadi satu-satunya kesatria yang sanggup menjemput ajal Bisma yang sangat disegani oleh para Pandawa.

Apa yang dilakukan Astri dan dua temannya merupakan sebuah pembuktian yang dapat meruntuhkan konstruksi sosial terkait peranan wanita di masyarakat kita bahwa wanita pun dapat ambil peran dalam mengatasi permasalah di masyarakat, dalam hal ini kebakaran lahan di kota Palangka Raya. Peranan yang selama ini tersembunyi dan sangat jarang diangkat ke permukaan baik di kalangan masyarakat maupun di media.

Arapa Efendi
Tim Divisi Komunikasi Borneo Nature Foundation dan pemerhati bahasa, budaya, dan isu-isu terkait konservasi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.