OUR NETWORK

Panggung Kaum Intelektual, Roboh?

Intelektual sejati ialah mereka yang kegiatannya pada dasarnya tidak untuk mencapai sesuatu yang praktis, melainkan mereka yang menemukan kepuasan dalam mempraktekkan kebenaran yang dicapai melalui ilmu pengetahuan

Sejak berdirinya NKRI tercinta ini, kaum intelektual mendapatkan posisi yang sangat besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tulisan-tulisannya diterbitkan oleh surat kabar, yang tidak suka menulis diwawancarai untuk digali gagasan-gagasannya. Tidak seperti negara-negara lain, Jerman misalnya.

Di Jerman, sebagaimana diceritakan Romo Franz Magnis Suseno, ada seorang Profesor Jurgen Hubermas yang gagasan besarnya banyak dikaji oleh masyarakat dunia, bahkan kaum intelektual Indonesia tidak sedikit yang meminjam dan mengembangkan pemikirannya dalam berargumen kemudian di terbitkan di media massa, tapi akan sia-sia mencari celoteh beliau dalam koran-koran di Jerman, tidak akan ada.

Dengan hal ini, kaum intelektual sangat gampang melancarkan pengaruhnya terhadap masyarakat luas dalam segala hal, termasuk politik. Menghadapi tahun politik 2018-2019 ini, politikus mulai mengatur jarak dengan kaum intelektual. Kaum intelektual tidak gampang menghindar, sebab selain ia memang dibutuhkan dalam dunia politik, juga harus berpikir realistis bahwa dunia politik adalah wadah terbesar untuk menyuarakan gagasan-gagasan tentang masyarakat.

Manusia tidak seperti ikan laut, yang dagingnya tetap hambar walau hidup di lautan ribuan tahun. Hambar melambangkan idealisme seekor ikan, ia mahluk Tuhan paling kokoh dalam memegang idealisme. Kaum intelektual bisa kehilangan dirinya sendiri yang memiliki kemampuan menguatkan yang benar, bukan membenarkan yang kuat.

Memahami Intelektual

Untuk menyebut intelektual, Antonio Gramsci, seorang filsuf asal Italia, menggunakan dua istilah; intelektual tradisonal dan inteletual organik. Intelektual tradisioanal merupakan seorang yang keintelektualnya telah terkontaminasi atau tidak lagi bersifat murni demi rakyat banyak, karena tidak mampu menyampaikan suatu kebenaran yang menjadi tugasnya, ia telah terjebak dalam kubang kekuasaan. Sedangkan intelektual organik merupakan pemikir yang dihasilkan oleh setiap kelas secara alamiah walaupun tidak melalui jenjang-jenjang pendidikan formal.

Intelektual tradisional terus-menerus melakukan hal yang sama dari generasi ke generasi, ia tidak menanamkan ide yang sesuai dengan perubahan sosial. Bahkan tidak sulit berkompromi dengan penguasa, sebab, baginya, penguasa merupakan payung teraman meskipun harus mengkhianati cita-cita dirinya sendiri.

Dalam hal ini, Edward W. Said, seorang Amerika keturunan Palestina, tidak segan mengatakan bahwa seorang intelektual adalah pencipta sebuah bahasa yang mengatakan kebenaran kepada yang berkuasa. Sedangkan intelektual organik bukan hanya sekedar penanam ide, melainkan juga penyebar ide-ide itu sendiri.

Pemikirannya berawal dari realitas sosial, bukan hanya sekedar berupa dialektika pemikiran tokoh dari zaman ke zaman. Tidak sekedar menjelaskan kehidupan sosial berdasarkan kaidah-kaidah keilmuannya, tapi juga memakai bahasa kebudayaan untuk mengekspresikan perasaan dan pengalaman nyata yang tidak bisa diekspresikan oleh masyarakat sendiri.

Tipe intelektual organik mengakui hubungannya dengan kelompok sosial tertentu dan memberikan persamaan serta kesadaran tentang fungsi keintelektualannya, bukan hanya dalam bidang ekonomi tapi juga politik (Patria: 1999, 161). Intelektual organik bisa berasal dari mana saja, bahkan bisa berasal dari kaum borjuis yang memihak kepada kaum buruh.

Mengenai intelektual, selain pemikiran Gramsci, definisi yang disusun oleh Julien Benda juga tidak bisa diabaikan. Menurut Benda, intelektual adalah segelintir orang sangat berbakat dan yang dianugerahi moral sempurna. Tujuan hidupnya adalah kebenaran, ia menajalankan dan mempertahankan kebenaran, apapun taruhannya.

Intelektual sejati ialah mereka yang kegiatannya pada dasarnya tidak untuk mencapai sesuatu yang praktis, melainkan mereka yang menemukan kepuasan dalam mempraktekkan kebenaran yang dicapai melalui ilmu pengetahuan (Said: 2014, 4). Tugas intelektual adalah mengbongkar kesalahan meskipun harus melawan penguasa, oleh sebab itu, berisiko dibakar di tiang dan dikeluarkan dari komunitasnya.

Terlepas dari perbedaan kedua pendapat tersebut, intelektual bukan miliki siapa-siapa, ia benar-benar indepneden. Mengatakan kebenaran kepada siapapun, meskipun berisiko membahayakan eksistensi dirinya. Ia beranggapan bahwa hidup adalah kesalahan, jika tidak sanggup mengatakan kebenaran.

Fungsi dan Peran Intelektual

Tampaknya, jika ditarik ke dalam masalah intelektual dan perubahasan sosial terkini, pemikiran Gramsci lebih relevan dan lebih dekat dengan keadaan sosial daripada argumen-argumen yang disusun oleh Benda.

Banyak cara bagi intelektual menggunakan fungsi dan perannya, salah satunya adalah berpolitik. Fungsi merupakan tindakan yang dapat digantikan oleh yang lain, sedang peran tidak bisa. Dalam berpolitik, fungsi inteleketual adalah konseptor bagi politikus praktis. Hampir semua orang mampu menjadi konseptor, tapi tidak mampu memberi teladan.

Sedang perannya, ia harus mampu menerjemahkan konsep-konsep yang ia bangun ke dalam bahasa kebudayaan. Hal ini yang mendorong Plato mengatakan dalam Repulik-nya bahwa pemimpin yang ideal adalah intelektual, dalam hal ini filsuf, yang mampu menerjemahkan dan menjelaskan sistem pemerintahannya kepada seluruh kalangan rakyatnya.

Kebersinggungan antara intelektual dengan politik praktis tidak bisa disalahkan, sebab politik merupakan sebuah wadah bagi intelektual untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran yang dicapainya guna peradaban manusia yang lebih tinggi. Menjadi tidak dapat dibenarkan jika intelektual terjun ke dunia politik praktis demi memenangkan salah satu partai politik, dan cenderung mengabaikan idealisme sebagai intelektual.

Bahkan, Edward W. Said menegaskan, intelektual yang menulis esai demi dirinya sendiri, atau semata-mata untuk belajar, tidak boleh dipercaya dan harus tidak dipercayai. Karena setiap pekerjaan intelektual hanya mengartikulasikan dan mepresentasikan demi mewujudkan gagasannya dalam masyarakat.

Pencinta Kajian Sufisme dan Filsafat, dan aktif sebagai Direktur Komunitas Maos Boemi

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.