Senin, Januari 18, 2021

Pandemi dan Kesehatan Mental

Milineal dan Konflik Kepentingan

Hakim Konstitusi, Saldi Isra,  pernah bercerita betapa sulitnya menjaga independensi sebagai seorang hakim, apalagi sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi yang dilabelkan sebagai seorang negarawan. Bahkan...

Revitalisasi Pasar Desa di Indonesia

Manusia telah mengenal dan melakukan kegiatan jual beli sejak mengenal peradaban sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan. Dalam kegiatan jual beli, keberadaan pasar merupakan salah satu...

Perempuan dalam Lingkaran FoMO

Lambat laun jika tidak ada evaluasi dari pemerintah dan masyarakat umum, lebih dari 30 juta perempuan di Indonesia akan teridentifikasi mengalami sebuah "karma", berupa...

Sang Habib dan Kebebasan Kita

Skandal dugaan chat mesum yang melibatkan Habib Rizieq Shihab tengah jadi perbincangan hangat belakangan ini. Hal itu karena tidak hanya terkait siapa saja yang...
Sagita Widyastuti
Nama: Sagita Widyastuti Prodi: Pendidikan Fisika

Akhir tahun 2019 dunia digemparkan dengan adanya penemuan coronavirus jenis baru yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina. Penyakit karena infeksi virus ini disebut Covid-19. Virus ini menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) totalnya lebih dari 79 juta terkonfirmasi positif dengan yang meninggal dunia lebih dari 1,7 juta tercatat dari keseluruhan negara yang memiliki kasus terkonfirmasi positif Covid-19.

Di Indonesia kasus pertama yang terkonfirmasi positif ditemukan pada bulan Maret di daerah Depok, Jawa Barat. Sejauh ini, hampir seluruh daerah di Indonesia terdapat kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19. Berdasarkan data yang diperoleh saat ini tercatat sebanyak 735.124 terkonfirmasi positif dengan 21.944 diantaranya meninggal dunia dan 603.741 dinyatakan sembuh.

Covid-19 ini memberikan banyak dampak positif maupun negatif. Secara keseluruhan, dampak Covid-19 ini membuat kehidupan masyarakat berubah total yang semula dapat bebas melakukan aktivitas di luar rumah, sekarang diharuskan melakukan hampir seluruh aktivitas di rumah. Hal paling dasar yang dilakukan untuk bertahan pada masa pandemi ialah menjaga kesehatan masing-masing, baik dari segi fisik maupun psikis, serta mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.

Pemerintah telah menerapkan beberapa kebijakan guna mencegah penyebaran virus ini. Misalnya, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yaitu pembatasan aktivitas masyarakat dan penerapan protokol kesehatan yang disertai penegakan sanksi bagi yang melanggar. Akibatnya semua aktivitas dipusatkan di rumah seperti belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan beribadah di rumah. Selain itu, pemerintah telah memberikan fasilitas serta pelayanan untuk membantu masyarakat bertahan pada masa pandemi ini. Namun, semua itu akan sia-sia apabila masyarakat sendiri tidak peduli dengan bahaya yang mengancam dan mengabaikan protokol kesehatan yang berlaku.

Perubahan yang dialami masyarakat dalam kehidupan sehari-hari dapat berdampak pada kesehatan psikologis yang nantinya dapat berimbas pada kesehatan fisiknya. Sehingga perlu adanya kesadaran dari masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan psikologis maupun fisik masing-masing.

Masalah psikologi yang muncul sebagai dampak dari Covid-19 antara lain gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder), kebingungan, kegelisahan, frustrasi, ketakutan akan infeksi, insomnia dan merasa tidak berdaya [Brooks dkk.2020]. Stres merupakan tekanan atau kekhawatiran yang disebabkan oleh masalah dalam hidup seseorang. Apabila tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti penyakit jantung, masalah berat badan, depresi, dan gangguan imun.

Menurut Ketua Umum PDSKJI DR. Dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS, sejak pertama kali ditemukannya kasus Covid-19, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) segera meluncurkan swaperiksa web guna mencegah kepanikan massal dalam suasana batin yang mencekam. Selama Maret-Oktober 2020 ditemukan 32 persen mengalami masalah psikologis dan 68 persen tidak ada masalah psikologis. 67,4 persen dari 2606 swaperiksa mengalami gejala cemas, 67,3 persen dari 2294 swaperiksa mengalami gejala depresi, 74,2 persen dari 761 swaperiksa mengalami gejala trauma psikologis, dan 68 persen dari 110 swaperika memiliki pemikiran tentang bunuh diri.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro, dr. Leonardi Goenawan, Sp.KJ mengatakan, setidaknya ada tiga tahapan psikologis yang bisa dialami oleh setiap individu selama pandemi Covid-19 ini. Antara lain adalah tahap disrupsi (perubahan berbagai pola hidup), tahap kebingungan dan ketidakpastian, hingga akhirnya sampai pada tahap penerimaan atau menerima tanpa syarat terhadap kondisi yang ada berkaitan dengan pandemi ini. Namun, tidak semua orang memiliki ketangguhan yang sama untuk mencapai tahap penerimaan. Seseorang yang biasanya mudah tertekan, akan merasakan dampak pandemi ini lebih berat

Setiap individu memiliki cara yang berbeda untuk mengatasi masalah psikologis masing-masing. Beberapa langkah atau cara yang bisa diterapkan dalam menghadapi pandemi ini dengan baik hingga benar-benar berakhir antara lain dengan beristirahat. Setidaknya tubuh dan otak perlu diberikan waktu beristirahat dari menonton, membaca, mendengarkan berita, termasuk media sosial karena mendengarkan informasi pandemi berulang kali bisa membuat hanyut dalam kekhawatiran yang berlebihan.

Menjaga gaya hidup sehat dengan asupan gizi yang cukup, pola tidur yang baik, olahraga, dan berinteraksi dengan orang-orang yang disayang bisa membantu dalam mengatasi masalah psikologis. Selain itu, dianjurkan untuk menghindari konsumsi alkohol, rokok dan obat-obatan yang tidak perlu.

Hal lain yang dapat dilakukan ialah memberi waktu pada diri sendiri untuk bersantai dengan melakukan aktivitas yang disukai. Aktivitas fisik dan olahraga terbukti penting dalam manajemen stres yang efektif karena dapat menurunkan kadar hormon-hormon stres seperti adrenalin dan kortisol dalam tubuh.

WHO merumuskan strategi untuk menghadapi stres selama pandemi Covid-19 yaitu, a.) Berbincang dan berbagi cerita dengan orang-orang yang dapat dipercayai bisa membantu mengurangi rasa tertekan yang dialami. b.) Berdiam di rumah lebih dianjurkan untuk meminimalisir penyebaran virus dan kontak fisik dengan orang banyak.

Menjaga gaya hidup sehat dengan asupan gizi yang cukup, pola tidur yang baik, olahraga dan berinteraksi dengan orang-orang yang disayang bisa dilakukan selama berdiam di rumah. c.) Menghindari rokok, alkohol dan narkotika untuk menyelesaikan masalah emosi. d.) Mencari fakta-fakta dan info terbaru yang dapat membantu dalam menentukan tahap pencegahan yang tepat dan menghindari berita-berita yang tidak valid dan kredibel. e.) Mengurangi kecemasan dengan membatasi media yang menyebarkan informasi yang membuat semakin cemas dan takut. f.) Mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki untuk mengatur emosi selama masa pandemi ini.

Selama masa pandemi ini diperlukan kondisi psikis dan fisik yang prima untuk bertahan. Meskipun Covid-19 merupakan virus yang menyerang kesehatan dalam segi fisik namun juga memiliki dampak sama besarnya dalam segi psikis sehingga perlu adanya perhatian terhadap kondisi psikis masing-masing. Cara setiap orang dalam megatasi masalah psikologisnya dapat bermacam-macam. Apabila dengan cara masing-masing tidak berhasil, sangat disarankan untuk menemui dan berkonsultasi kepada ahlinya agar mendapat penanganan yang sesuai.

Referensi:

Muslim,Moh.2020.Manajemen Stress pada Masa Pandemi Covid-19.Jurnal Manajemen Bisnis Volume 23 Nomor 2 (halaman 193-200)

Brooks,S.K.,Webster,R.K.,Smith,L.E.,Woodland,L.,Wessely,S.,Greenberg,N.,& Rubin,G.J.(2020).The Psychological Impact Of Quarantine And How To Reduce It: Rapid Review Of The Evidence.Lancet, 395 (10227),912–920

https://www.kompas.com/sains/read/2020/05/15/123200423/5-langkah-mengatasi-gangguan-psikologis-akibat-pandemi-corona?page=all

https://www.tribunnews.com/kesehatan/2020/10/14/pdskji-sebut-cemas-jadi-masalah-kesehatan-jiwa-yang-dominan-selama-pandemi

https://www.who.int/publications/m/item/weekly-epidemiological-update—29-december-2020

Sagita Widyastuti
Nama: Sagita Widyastuti Prodi: Pendidikan Fisika
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.