Rabu, Oktober 21, 2020

Pandemi dan Balada Negara Agraris yang Krisis Pangan

Zonasi untuk Keadilan Pendidikan Bagi Seluruh Anak Indonesia

Jaringan Intelektual Berkemajuan (JIB) mengadakan diskusi "Sistem Zonasi: Polemik dan Manfaatnya" di Gado-Gado Boplo, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (21/06/2019). Narasumber dalam diskusi ini di...

Fundamen Pelayanan Publik Terkini

Relasi rakyat dengan negara telah berubah hari ini. Memang, bukan sama sekali radikal 180 derajat akan tetapi terjadi dinamika relasi yang tengah bergerak. Dalam...

Lemah Dalil Perppu Ormas

Legislation can neither be wise nor just which seeks the welfare of a single interest at the expense and to the injury of many...

Peran ASEAN dalam Konflik Kepulauan Natuna

Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat luas dan terbentang dengan begitu banyak pulau, oleh sebab itu Indonesia dikenal juga dengan Negara Kepulauan, salah...
Abdul Kadir Jaelani
Penikmat Kopi, Runner Enthusiast

Pandemi Covid 19 telah mendorong pemerintah untuk juga serius menangani pasokan pangan, tidak hanya persoalan kesehatan. Penanganan pasokan pangan menjadi penting karena faktanya tidak semua daerah mandiri dalam hal pangan. Dikhawatirkan jika daerah lain menyetop pasokan pangannya, maka daerah-daerah yang selama ini berharap suplay pangan dari daerah lain akan mengalami kelangkaan pangan.

Masih banyak ditemui daerah-daerah yang menggantungkan pasokan pangannya dari Pulau Jawa dan Sulawesi, Kalimantan Timur salah satunya. Propinsi kaya ini walaupun memiliki sumberdaya alam mineral dan batubara yang berlimpah, tapi pasokan pangan sangat bergantung kepada distribusi pangan dari pulau-pulau lain di Indonesia.

Kondisi ini bukan tidak menjadi perhatian bagi pemerintah daerah di Kalimantan Timur, jauh sebelum Covid 19 mewabah, ada beberapa perguruan tinggi berbasis pertanian yang dibentuk untuk menjawab ketersediaan SDM pertanian di daerah. Faktanya, sector pertanian terus saja mengalami kemunduran dalam hal luasan, padahal SDM keluaran perguruan tinggi terus bertambah setiap tahunnya.

Apa yang salah sebenarnya dari kondisi ini?

Untuk mengurai persoalan tersebut, saya hendak memulai dari sebuah cerita, Adik Ipar laki-laki saya adalah seorang mahasiswa Jurusan Peternakan, mengambil jurusan tersebut bukan tanpa alasan, harapannya bisa membantu orang tua mengembangkan usaha sapi miliknya, mengingat orang tuanya yang juga orang tua istri saya tentunya, selama ini hidup bergantung dari peternakan sapi umbar.

Saban pagi, bapak selalu mengembalakan sapi di padang rumput milik sebuah perusahaan minyak BUMN untuk diberi makan, sorenya dibawa pulang ke kandang. Begitu seterusnya, tanpa ada ikhtiar merubah pola ternak yang dilakukan, hasilnya ada, tapi tentu saja tidak maksimal.

Dengan kuliahnya Adik Ipar di Jurusan Peternakan, seolah membangun harapan bahwa kedepan usaha peternakan keluarga akan berkembang lebih maju. Alih-alih fokus untuk menyelesaikan kuliahnya, Si Adik Ipar malah menghilang dari rumah selama beberapa bulan diikuti dengan berhenti dari kuliah yang selama ini menjadi rutinitasnya.

Setelah dicari ternyata anaknya pergi ke kota untuk mencari penghidupan sendiri, agar bisa mandiri ujarnya. Ketimbang berternak sapi, Adik Ipar saya malah berkeinginan untuk membuka usaha sendiri, dan itu semua dia mulai dari bekerja di pencucian mobil, menjadi pramu saji di sebuah restoran franchise hingga menjual sempol dengan gerobak dorong.

Ihwal itu dilakukan cukup lama. Hingga Covid 19 mewabah menghentikan usahanya dan mengharuskannya  pulang kerumah, kini ia lebih banyak berdiam diri dan sama sekali tidak tertarik untuk menggeluti usaha ternak yang selama ini menjadi penghidupan orang tua dan dirinya.

Kali lain, saya pernah menghadiri sebuah seminar yang mengangkat tema tentang optimalisasi sektor pertanian dan perikanan dengan narasumber seorang Guru Besar Pertanian dan beberapa narasumber lain yang berasal dari OPD leading sektor di bidang pertanian dan perikanan.

Seminar itu sendiri banyak dihadiri oleh mahasiswa yang berlatar belakang pertanian, pada session tanya jawab yang harusnya pertanyaan ditujukan kepada narasumber, saya malah iseng bertanya kepada seluruh mahasiswa yang hadir di ruangan itu dan meminta kepada mereka untuk mengacungkan tangan.

Lalu saya bertanya, berapa orang dari mahasiswa pertanian tersebut yang berkeinginan berusaha atau bekerja di bidang pertanian sesuai dengan latar belakang pendidikannya, setelah purna sebagai mahasiswa. Dari sekitar 40-an mahasiswa yang hadir hanya 6 orang yang mengacungkan tangan, selebihnya tidak.

Ke 6 mahasiswa tersebut ketika di tanya lebih jauh, apakah mereka tertarik pada sector produksi, dijawab tidak, mereka hanya tertarik untuk masuk pada sektor pengolahan pasca panen dan distribusi.

Masih di forum yang sama dengan mengutip data BPS saya melanjutkan bahwa saat ini 60,8 % Petani kita berusia 45 tahun ke atas, sementara hanya 4 % anak muda yang ingin menjadi petani, jika kondisi ini tidak di antisipasi maka besar keyakinan saya Indonesia bahkan dunia akan mengalami krisis pangan, mengingat regenerasi petani semakin berkurang.

Indonesia pun tidak akan merasakan manfaat bonus demografi di masa yang akan datang, dimana puncaknya diperkirakan akan terjadi pada tahun 2030. Sekarang saja kita selalu bergantung dengan impor pangan.

Dari 2 cerita tersebut, saya seolah melihat ada yang salah dari pola yang terbangun selama ini, apakah pertanian bukan merupakan sector yang menggiurkan untuk dijadikan sandaran hidup atau juga terkait gengsi, padahal diketahui perguruan tinggi jurusan pertanian setiap tahunnya menggelontorkan SDM.

Belum lagi jika ditinjau dari alih fungsi lahan pertanian yang kerap terjadi di daerah-daerah yang selama ini dianggap sebagai lumbung pangan daerah maupun nasional, dan masih banyak lagi faktor-faktor lain yang menjadi sebab krisis pangan di masa yg akan datang. Kita perlu serius mendorong peningkatan perekonomian alternatif yang berdaya pulih.

Perkembangan dunia yang sudah masuk pada era revolusi industri 4.0, seharusnya menjadi pintu masuk bagi anak muda memanfaatkan teknologi untuk optimalisasi pertanian dan pangan.

Dengan mendorong teknologi tepat guna yang terus dikembangkan, harusnya kita bisa berharap agar banyak anak muda yang ikut terjun disektor pangan atau pertanian tanpa harus berkotor-kotor bahkan justru dengan alih teknologi akan meningkatkan produksi yang berbanding lurus dengan kenaikan penghasilan.

Pemerintah juga perlu untuk memberikan stimulus dan insentif bagi anak-anak muda yang mengembangkan teknologi tepat guna dibidang pertanian. Dengan penghargaan tersebut, akhirnya kita bisa berharap bonus demografi yang dimiliki Indonesia akan berdampak baik untuk keberlangsungan Negara di masa yang akan datang, bukan membawa petaka.

Finally. Bercermin pada fenomena Covid 19 yang telah mengocok ulang sistem kehidupan manusia, dan merenggut banyak kematian, namun tidak menyurutkan masyarakat Indonesia untuk beraktifitas diluar rumah demi memenuhi kebutuhan pangan, kekhawatiran kita pada akhirnya terfokus pada abainya pemerintah pada sektor ini dapat menjadi asbab runtuhnya Negara.

Abdul Kadir Jaelani
Penikmat Kopi, Runner Enthusiast
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.