Rabu, Maret 3, 2021

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pramoedya dan Tantangan Novelis Hari Ini

Jauh sebelum Indonesia memasuki masa reformasi, Pramoedya Ananta Toer telah menghadirkan suatu bacaan menarik lewat karya (novel) yang begitu bersemangat, antusias dan memberikan gagasan...

Nasib Pendidikan Tinggi dan Tenaga Kerja Kita

Selama ini di Indonesia mengakar sebuah pemahaman yang diyakini oleh khalayak ramai bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin besar pula peluangnya mencapai...

Melawan Miskonsepsi Janda dan Ibu Tunggal

"Teriakan minta tolong terakhir janda beranak tiga di Riau!” tulis salah satu media daring. “Kisah Andhika Pratama yang tak disetujui nenikah dengan Ussy karena Janda!”...

Al-Qur’an dan Tantangan Modernitas*

Hingga detik ini, kita tentu merasakan zaman yang kian berkembang dan selalu menawarkan tantangan modernitas yang begitu kompleks. Begitupun buah hasil dari modernitas seperti...
Genta Ramadhan
Mahasiswa

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun cendekiawan.

Seperti yang diketahui, Muchtar Lubis merupakan seorang jurnalis Indonesia yang berani melawan dua rezim yang berkuasa. Sikap keterusterangan Lubis itu menyebabkan beliau harus mendekap di penjara. Tidak hanya itu, harian Majalah Indonesia, hasil besutan Lubis, juga ikut dibredel.

Sikap antikompromi Lubis terhadap dua rezim tidak sebatas lisan belaka, tetapi sudah tercermin dalam tindakan nyata. Buktinya pada tahun 1977, Lubis menyampaikan pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki. Pidato ini bertajuk Manusia Indonesia dan sukses memicu gelombang pemberitaan yang dimuat dalam surat kabar selama berminggu-minggu. Intinya, pidato Lubis memaparkan enam sifat orang Indonesia dan sampai sekarang terbukti kebenarannya. Tidak banyak orang Indonesia yang berani menilai orang Indonesia secara kritis seperti Mochtar Lubis.

Adapun karakteristik mentalitas orang Indonesia versi Mochtar Lubis, antara lain hipokrit atau munafik, segan dan enggan bertanggungjawab, bermental feodal, percaya kepada takhayul, berjiwa seni, dan berwatak lemah. Pernyataan Lubis yang penuh polemic dan visioner ternyata sampai sekarang masih relevan terjadi. Bahkan, banyak pihak yang mengutip gagasan Lubis sebagai acuan untuk meneliti mentalitas orang Indonesia, salah satunya Sacha Stevenson, seorang Youtuber Kanada-Indonesia.

Terlepas dari benar salah pernyataan Lubis, gagasan ini menjadi pembahasan menarik tentang streotip mentalitas orang Indonesia dalam masa kini. Mayoritas masyarakat sepakat dengan pernyataan Lubis setelah membaca dan melihat fakta di lapangan. Namun, tidak sedikit juga orang mengkritik pemikiran Lubis karena ada beberapa asumsi yang bertentangan dengan budaya dan prinsip mereka, salah satunya Margono Djojohadikusumo, bengawan ekonom dan perintis Bank Negara Indonesia.

Salah satu fokus tulisan ialah pembahasan karakteristik orang Indonesia dalam Manusia Indonesia, yaitu sikap hipokrit atau munafik. Munafik merupakan penyakit hati yang selalu menjangkiti manusia tanpa memandang latar belakang. Mochtar Lubis berpandangan bahwa munafik merupakan ciri utama manusia Indonesia yang sudah mendarah daging. Pasalnya, sistem feodal inilah menjadi pangkal dari segala kemunafikan. Alhasil, orang acapkali berbohong demi bertahan hidup dari hukuman berat dari penguasa zalim jika mereka berani menyampaikan kejujuran.

Selain itu, kesenjangan pengamalan ajaran agama terhadap akhlak dapat menjadi sebab dari kemunafikan. Seperti yang diketahui, Indonesia merupakan bangsa yang religius dan menghargai perbedaan. Namun pada kenyataanya, banyak sekali orang Indonesia tidak konsekuen mengamalkan ajaran agama sebagaimana mestinya. Alhasil, budaya hipokrit beragama semakin membudaya di Indonesia. Singkatnya, Mochtar Lubis menjelaskan bahwa manusia Indonesia penuh dengan kemunafikan meskipun tidak semua orang Indonesia memilikinya.

Contohnya ialah masalah korupsi. Semua orang sepakat bahwa korupsi itu meruntuhkan bangsa dan menyengsarakan rakyat. Di depan publik, kita menyaksikan para pejabat negara ramai-ramai merampok uang dan fasilitas negara demi kepentingan pribadi. Semua orang pasti mengutuk perbuatan korupsi. Namun, secara tak sadar kita sendiri seorang ahli koruptor dalam perkara remeh.

Kemudian masalah perzinaan menjadi sebab lain manusia Indonesia bersikap mendua. Ajaran agama mana pun pasti melarang pemeluknya berbuat dan mendekati zina. Akan tetapi, banyak orang melegalkan praktik perzinaan dengan dalih HAM dan kepentingan bisnis meskipun agama melarangnya. Alhasil, orang berlomba-lomba membuka tempat mandi uap, tempat pijit, membuka dan melindungi tempat-tempat prostitusi untuk melegalkan praktik perzinaan. Hal ini semakin diperparah ketika internet yang mengakomodasi konten pornografi yang semakin dinikmati oleh penggunanya.

Maka jangan heran, mengapa Indonesia selalu dihantui oleh kasus aborsi, infeksi menular seksual, HIV/AIDS, dan KDRT yang terus meningkat. Sekali lagi, akar permasalahan ialah orang Indonesia tidak serius mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Secara tak sadar, hati orang seperti ini sudah ditumbuhi oleh penyakit munafik terhadap diri sendiri dan orang lain.

Kita yakin bahwa setiap warga Indonesia mendapat perlakuan adil di mata hukum dan terjamin dalam konstitusi. Namun pada praktiknya sungguh berlawanan. Hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Pencuri kelas teri gampang masuk penjara, sedangkan pencuri kelas kakap malah mendapat diskon kurungan penjara. Ketidakadilan hukum seperti ini merupakan akibat dari sikap hipokrit manusia Indonesia yang semakin membudaya.

Sikap Asal Bapak Senang (ABS) atau bapakisme juga merupakan sebab kemunafikan manusia Indonesia. Menurut Mochtar Lubis, sikap bapakisme telah mendarah daging jauh sebelum bangsa asing menjajah Indonesia. Ketika itu, praktik feodalisme telah menjadi sistem bermasyarakat. Kaum feodal – raja, bangsawan, dan tuan tanah – selalu memeras dan menindas harta kekayaaan dan idealisme masyarakat Indonesia. Sebagian orang terpaksa melindungi diri dengan cara berpura-pura menyanjung penguasa lokal dengan kata-kata yes man.

Praktik bapakisme bukan budaya demokrasi. Pasalnya, sikap ini mengekang kebebasan warga negara dalam menyuarakan pendapat dan menentukan nasib sendiri. Sikap seperti ini tercermin dalam relasi atasan-bawahan, guru-murid, senior-junior, dan dosen-mahasiswa. Ungkapan, ‘anak harus patuh dengan keinginan dan perintah Bapak’ memberikan efek ganda yang berlawanan.

Pertama, mematuhi perintah dan keinginan Bapak merupakan salah bentuk pengabdian kepada kedua orang tua dan menjadi kewajiban bagi pemeluknya dalam beragama. Namun, sikap seperti mematikan inisiatif seseorang karena orang tidak bisa menyuarakan aspirasi dan perasaan yang bertentangan dengan penguasa. Mereka yang berbeda haluan akan dipersekusi dan dibunuh karakter oleh penguasa. Sikap gak enakan ini menjadi pangkal ketidakbahagiaan seseorang karena harus berkali-kali membohongi diri sendiri untuk menyenangkan hati penguasa.

Pemaparan sifat munafik orang Indonesia dalam perspektif Mochtar Lubis menjadi renungan untuk kita semua. Kita sebagai orang Indonesia berupaya intropeksi diri atas mengapa bencana bertubi-tubi melanda di Indonesia setiap harinya. Boleh sikap munafik ini lah menyebabkan Indonesia sulit berkembang lebih progresif. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

 

Genta Ramadhan
Mahasiswa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.