Minggu, November 1, 2020

Pancasila dan Senjakala Kemanusiaan

Dilematis Revolusi Industri 4.0

Yang abadi dalam kehidupan manusia adalah perubahan. Manusia merupakan mahluk ciptaan Tuhan yang selalu mengubah dirinya untuk menyesuaikan dengan keadaan yang baru. Selain beradaptasi dengan...

Penyair Melankolis dan Sajak Sebatang Lisong

Menilik beberapa hari ke belakang saya merasa ada kejanggalan dengan kita, generasi muda. Saya melihat banyak sekali puisi tentang cinta dan patah hati di...

Pelajaran dari Ratna Sarumpaet

Kebohongan aktivis perempuan yang dikenal galak dan garang terhadap pemerintahan Jokowi, Ratna Sarumpaet, beberapa hari yang lalu telah menghebohkan seluruh penduduk negeri ini. Dia...

Hari Bhayangkara, Apa Maknanya?

Entah mengapa institusi negara Republik Indonesia yang paling tidak jelas hari kelahirannya justru institusi yang paling menjadi garda depan keamanan nasional sekarang sekaligus sebagai...
Samuel
Penulis ialah yang suka memasak. Kadang minum kopi dan menulis.

Lahirnya Pancasila adalah judul pidato yang disampaikan oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno dalam sidang “Dokuritsu Junbi Cosakai”, Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 1 Juni 1945, merupakan bentuk persiapan yang dilakukan oleh The Founding Fathers.

Memasuki umur Tujuh Puluh Lima (75) tahun, Pancasila bukan lagi barang baru di Indonesia. Bahkan umur tersebut mengklusterkan bahwa ia tidak lagi muda atau bahkan dewasa, jika masuk kategori umur manusia ia digolongkan pada kaum lanjut umur (rentan).

Umur lanjut tersebut, nyatanya kita belum final dalam hal pengamalan Pancasila hingga saat ini. Berbagai usaha kian dilakukan oleh pemerintah pun non pemerintah dalam menggaungkan nilai dalam Pancasila, bahkan presiden Jokowi sendiri selalu menekankan hal tersebut. Tapi, tampaknya sia-sia, bahkan jauh dari harapan.

Momentum lahirnya Pancasila di tengah pandemi Covid-19, memberikan pesan sarat pada tatanan ‘New Normal’ dengan harapan membubuhi momentum kali ini, harus jauh berbeda. Bukan sekedar seremoni musiman, tidak kala jargon ‘Saya Indonesia, Saya Pancasila’ yang dipopulerkan oleh Jokowi tersebut hanya sebatas buah bibir di masyarakat.

Persoalan fatal Pancasila masih didominasi pada mengakarnya sikap Intoleransi dan Radikalisme. Perihal sikap ini, kita masih jauh tertinggal. Tercatat dari Global Terrorism Index (GTI) untuk tahun 2019, Indonesia berada diangka tertinggi sepanjang sejarah, yaitu 5,07, dengan tahun sebelumnya berada diangka 4,55 (2017) dan 4,54 (2018).

Peningkatan ini, tentu juga diikuti dengan naiknya peringkat terorisme Indonesia di mata dunia. Jika semulanya tercatat di peringkat 42 pada tahun 2017 dan 2018, maka pada tahun 2019 Indonesia telah jauh berada di peringkat 45 global. Bahkan, Indonesia masuk ke dalam daftar 10 negara dengan angka kematian tertinggi akibat kejahatan terorisme.

Sikap dasar untuk menghargai perbedaan yang ada dimasyarakat masih menjadi barang mahal, bahkan tergolong langka. Padahal jika merujuk kepada nilai-nilai dari Pancasila, ada tiga (3) Sila mengandung makna kemanusiaan, Sila Pertama, Kedua dan Kelima begitu erat dalam menopang rasa kemanusiaan.

Permasalahan pancasila sudah begitu kompleks di negeri ini. Nilai tawar untuk Pancasila sendiri sudah dipandang kuno dibanyak masyarakat, bahkan untuk sekedar mengucapkan saja kita masih latah dan tidak jarang lupa, pun pengurutan ke-5 sila tersebut ditemukan berantakan ihwal penyebutan.

Pendidikan Pancasila dewasa ini dipandang membosankan dan membuang-buang waktu, apalagi dengan generasi muda yang tidak sabaran dan individualis saat ini, menganggap bahwa Pancasila itu tidak berdampak kepada prestasi atau pendapatannya. Indikasinya banyak orang sekelas artis tidak hafal ke-lima sila, apalagi untuk memahaminya.

Jika dari segi pendidikan, sejak era reformasi untuk pendidikan Pancasila memang sudah banyak mengalami degradasi. Penataran P4 dihapuskan serta nilai-nilai Pancasila diperkecil menggantikannya dengan mata pelajaran PPKn yang tidak memiliki pengaruh terhadap kenaikan kelas, berbeda dengan P4 sebelumnya yang memiliki pengaruh besar.

Merebaknya sikap intoleransi menjadi catatan penting bahwa nilai dalam Pancasila tidak lagi dipandang sakral. Pelarangan ibadah yang masih masif, pembakaran/pengeboman rumah ibadah, penistaan agama secara verbal maupun virtual menjadi barang biasa di tengah masyarakat kita.

Tindakan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) lebih jauh harus dilihat sebagai suatu perilaku perusakan kemanusiaan, yang dengan tentu sebagai kegagalan dari pengalaman nilai Pancasila. Nyatanya tindakan yang korup dari segi materi, waktu dan sebagainya berkorelasi penuh dengan tingkat kemiskinan yang masih menjadi masalah bersama dari hulu ke hilir.

Sepadan dengan hal tersebut, hingga Desember 2019 terdapat enam puluh satu (61) triliun rupiah aset negara yang diselamatkan akibat tindakan korup tersebut. Belum lagi beberapa kasus yang masih mandek ditangan KPK maupun lembaga lainnya kian belum terselesaikan, apalagi saat pandemi seperti demikian.

Senjakala kemanusiaan tampaknya masih menjadi persoalan berlapis di negeri ini. Bahkan sadar atau tidak negara menjadi suluh dari sumber dari intoleransi tersebut. Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (PMB) No. 9 Tahun 2006 dan No. 8 Tahun 2006 Tentang Pendirian Rumah Ibadat, seringkali menjadi alat bagi kaum intoleran.

Persoalan pendirian rumah ibadat sudah menjadi bulan-bulanan dihampir seluruh pelosok negeri. Konflik yang sering muncul ihwal pendirian, selalu dikaitkan dengan Peraturan Bersama Menteri (PBM) 2006 tersebut, seakan menjadi instrumen yang diberikan pemerintah kepada kaum intoleran.

Lemahnya penegakan hukum menjadi masalah klasik yang kian tidak berujung. Lemahnya penegakan masih menjadi penyebab kentalnya sikap intoleran di negeri ini. Pembiaran ruang kepada kelompok intoleran menjadi bentuk bahwa lemahnya penegakan hukum dalam perlawanan terhadap intoleransi di Indonesia.

Jika melirik dari instrumen pendidikan, kurikulum ihwal Pancasila harus dikembalikan kepada ruh yang sebenarnya. Menjadikan pendidikan Pancasila sebagai mata pelajaran yang sangat berpengaruh masih menjadi solusi cerdas, demi menolong berlanjutnya kemanusiaan.

Momentum di umur ke-75 tahun Pancasila harus menjadi suatu yang berbeda, sejalannya kata dan perbuatan. Kemanusiaan harus menjadi agenda utama negeri ini. Seperti pemikir novelis ulung kemanusiaan, Pramoedya Ananta Toer yang ‘Menempatkan Manusia Sebagai Yang Utama’. Selamat Hari Lahir Pancasila ke-75 tahun.

Samuel
Penulis ialah yang suka memasak. Kadang minum kopi dan menulis.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjaga Kesehatan Tubuh dari Covid-19

Menjaga kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan semua kalangan. Apalagi dengan kondisi alam yang semakin merabahnya virus covid 19. Terkadang hal sederhana yang rutin...

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.