OUR NETWORK

Pak Tua itu Bernama HMI

Meskipun teknokrat cukup digandrungi, cucu HMI paling banyak mengambil profesi sebagai politisi, hampir berbagai wajah HMI yang terpampang di publik pun sekarang adalah cucu-cucu HMI

Himpunan Mahasiswa Islam, sekiranya itulah nama organisasi mahasiswa ekstra kampus yang baru saja bertambah usia menjadi 71 tahun di awal bulan Februari lalu (5 Februari).

Jika digambarkan dalam bentuk manusia, HMI (akronim) adalah Bapak Tua berjanggut yang memakai kopyah sedang duduk melihat Indonesia berkembang menuju era posmodernitas. Beliau sudah pernah mengawasi Indonesia selang beberapa tahun sesudah negeri ini lahir, sehingga secara pengalaman, Pak Tua ini sudah banyak makan asam garam.


Pak Tua ini telah melahirkan banyak cucu-cucu berupa alumni (begitu sebutan formalnya, Kanda dan Yunda sebagai sebutan kasih sayangnya). Alumni HMI ini banyak memilih jalur yang berbeda-beda seperti menjadi teknokrat di era Soeharto, teknokrat cetakan HMI sangat perhatian terhadap isu-isu ekonomi dan kerap menjadi kesayangan menteri keuangan saat itu, Pak Ali Wardhana.

Yang paling terkenal dari jenis teknokrat ini adalah Mr. Clean, yang nama aslinya adalah (alm) Mar’ie Muhammad. Selama ia menjadi bawahan Pak Ali, tidak pernah sekalipun ia menerima suap dalam bentuk apapun maka dari itu julukan Mr.Clean sangat cocok disematkan kepada Pak Mar’ie ini.

Meskipun teknokrat cukup digandrungi, cucu HMI paling banyak mengambil profesi sebagai politisi, hampir berbagai wajah HMI yang terpampang di publik pun sekarang adalah cucu-cucu HMI yang berprofesi sebagai politisi sejak era Orde Baru, seperti Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Pramono Anung, Mahfud MD, Zulkifli Hasan, Ade Komarudin dan sederetan nama lainnya yang masih sangat banyak untuk disebutkan.

Adanya pelatihan Ideopolstratak (Ideologi, Politik, Strategi dan Taktik) membuat alumni HMI sama sekali tidak asing dengan dunia perpolitikan di Indonesia. Menariknya juga, para alumni HMI menyebar hampir diseluruh partai yang ada di negeri Pancasila ini. Meskipun saat beralumni memang dilarang memasuki partai apapun karena independensi organisatoris (sudah menjadi aturan mutlak).

Politik memang asik untuk diarungi, tapi birokrasi juga tidak tanggung-tanggung untuk diambil alih pula bagi alumni HMI. Cetakan dalam bidang ini bisa dibilang juga ketat dalam menjalankan administrasi dan kerapkali dimusuhi banyak orang seperti Abraham Samad di KPK, Husni Kamil Malik di KPU, Harry Azhar Aziz sebagai ketua BPK, Mulyaman Hadad selaku ketua OJK dan berbagai nama lain yang tidak akan muat ditulis satu per satu. Mereka termasuk alumni HMI yang sangat gemilang dalam melaksanakan tugas pengabdiannya kepada negara. Alumni semacam inilah yang sedang naik daun dikalangan KAHMI sendiri, paling asik memang jadi pejabat.

Cucu yang paling terakhir sekarang acapkali tersingkirkan atau mereka lebih suka menjauh dari dunia politik, yakni para intelektual dan akademisi murni. Orang yang menjadi contoh kuat dalam intelektualitas HMI adalah Nurcholish Madjid yang kerap dipanggil Cak Nur, Ahmad Wahib yang menulis Pergolakan Pemikiran Islam, banyak dari mereka yang memilih jalur menjadi dosen dan mengabdikan dirinya untuk ilmu pengetahuan seperti Dawam Rahardjo yang pernah diundang dalam Diskusi Nasional GMNI sebagai penceramah pada tanggal 6-7 Juli 1981 dalam rangka Program Studi Ekonomi Pancasila (bisa dibilang Pak Dawam ini adalah cucu HMI yang paling progresif), bahkan sampai menjadi guru dan wafat dalam pengabdiannya seperti Pak Budi Cahyono.

Cucu ini adalah tonggak utama dimana sumber utama dari suburnya HMI adalah kemampuan para kadernya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dimana mereka berkuliah, karena kualitas insan pertama di HMI adalah Insan Cita, bukan insan politik.

Banyak pertanyaan dari orang luar, “lalu mana Islamnya? Kok gak ada agamawannya?”. Sederhana saja, keislaman sudah mendarah daging dalam kader dan alumni HMI sehingga tidak perlu dipertontonkan kepada publik, lagipula berdakwah bukanlah pekerjaan melainkan kewajiban seluruh umat Islam di dunia.

Sehingga agamawan bukanlah profesi melainkan pekerjaan sehari-hari kader HMI. Namun memang tidak dipungkiri bahwa HMI acapkali dituding sekuler dan liberal. Tidak ada dalam umat Islam itu fundamentalis atau liberalis, semuanya fundamental karena mengacu kepada Al-Qur’an dan Al-Hadis dalam kehidupan sehari-harinya. Tidak perlu sekiranya memperlihatkan ibadah kita kepada publik karena nanti akan dituding riya’.


Akhir kata, HMI sebagai Pak Tua sendiri memiliki anak-anak nakalnya. Memang tidak boleh dipungkiri “ada” alumni HMI yang melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan, namun kesalahan itu dilakukan secara personal, tidak secara kelembagaan HMI. Inilah yang menjadi penyakit orang Indonesia sekarang, melakukan stereotip dan generalisasi atas satu kasus kepada semua personalia organisasi terkait.

Untuk mengurangi tudingan semacam ini yang dilayangkan kepada HMI secara kelembagaan, maka lebih baik intelektualitas HMI ditingkatkan lagi. Harapan bangsa ini bertumpu pada pendidikan. Dan HMI, seperti yang dikatakan oleh Jenderal Sudirman, adalah Harapan Masyarakat Indonesia.

Meskipun sudah tua, akan tetapi semangat tetap muda karena HMI selalu berlipat ganda, semoga semakin progresif wacana yang dibawa HMI kedepannya. Hanya tulisan pendek ini yang bisa dihadiahkan oleh penulis kepada Pak Tua.

Reviewer dan penulis di www.kedairesensisurabaya.com, Mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara, FISIP, Universitas Airlangga.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…