Jumat, Januari 22, 2021

Pak Tua itu Bernama HMI

Politik Bukan Kekuatan Sejarah Seutuhnya

Sejarah bukanlah perihal masa lampau yang tanpa gairah saat mempelajarinya, namun sejarah juga dapat menyebabkan seseorang menjadi begitu tendensius dalam menciptakan sejarahnya. Karena setiap...

Pers Masa Pergerakan: Sinar Djawa dan Sinar Hindia

Surat kabar Bumiputera pertama adalah Soenda Berita yang didirikan oleh R.M Tirtoadisuryo tahun 1903. Namun, surat kabar ini tak bertahan lama. Pada 1905-1906, Soenda...

Nasib Bola di Masa Pandemi Corona

Dalam beberapa bulan terakhir dunia berduka disebabkan adanya wabah virus Korona (Covid-19). Virus tersebut membuat seluruh warga dunia merasa terancam dan bahkan mengganggu aktivitas...

Warga Lakardowo Berjihad Bi’ah Melawan Limbah B3

Warga Lakardowo kembali menelan kekecewaannya, pasca PTUN Surabaya memutuskan untuk menolak gugatan mereka terhadap PT. PRIA, pada kamis 29 November 2018. Hakim menolak gugatan...
Reza Hikam
Mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara, FISIP, Universitas Airlangga, Aktif di Berpijar.co dan Center for Extresmism, Radicalism, and Security Studies (C-ERSS)

Himpunan Mahasiswa Islam, sekiranya itulah nama organisasi mahasiswa ekstra kampus yang baru saja bertambah usia menjadi 71 tahun di awal bulan Februari lalu (5 Februari).

Jika digambarkan dalam bentuk manusia, HMI (akronim) adalah Bapak Tua berjanggut yang memakai kopyah sedang duduk melihat Indonesia berkembang menuju era posmodernitas. Beliau sudah pernah mengawasi Indonesia selang beberapa tahun sesudah negeri ini lahir, sehingga secara pengalaman, Pak Tua ini sudah banyak makan asam garam.

Pak Tua ini telah melahirkan banyak cucu-cucu berupa alumni (begitu sebutan formalnya, Kanda dan Yunda sebagai sebutan kasih sayangnya). Alumni HMI ini banyak memilih jalur yang berbeda-beda seperti menjadi teknokrat di era Soeharto, teknokrat cetakan HMI sangat perhatian terhadap isu-isu ekonomi dan kerap menjadi kesayangan menteri keuangan saat itu, Pak Ali Wardhana.

Yang paling terkenal dari jenis teknokrat ini adalah Mr. Clean, yang nama aslinya adalah (alm) Mar’ie Muhammad. Selama ia menjadi bawahan Pak Ali, tidak pernah sekalipun ia menerima suap dalam bentuk apapun maka dari itu julukan Mr.Clean sangat cocok disematkan kepada Pak Mar’ie ini.

Meskipun teknokrat cukup digandrungi, cucu HMI paling banyak mengambil profesi sebagai politisi, hampir berbagai wajah HMI yang terpampang di publik pun sekarang adalah cucu-cucu HMI yang berprofesi sebagai politisi sejak era Orde Baru, seperti Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Pramono Anung, Mahfud MD, Zulkifli Hasan, Ade Komarudin dan sederetan nama lainnya yang masih sangat banyak untuk disebutkan.

Adanya pelatihan Ideopolstratak (Ideologi, Politik, Strategi dan Taktik) membuat alumni HMI sama sekali tidak asing dengan dunia perpolitikan di Indonesia. Menariknya juga, para alumni HMI menyebar hampir diseluruh partai yang ada di negeri Pancasila ini. Meskipun saat beralumni memang dilarang memasuki partai apapun karena independensi organisatoris (sudah menjadi aturan mutlak).

Politik memang asik untuk diarungi, tapi birokrasi juga tidak tanggung-tanggung untuk diambil alih pula bagi alumni HMI. Cetakan dalam bidang ini bisa dibilang juga ketat dalam menjalankan administrasi dan kerapkali dimusuhi banyak orang seperti Abraham Samad di KPK, Husni Kamil Malik di KPU, Harry Azhar Aziz sebagai ketua BPK, Mulyaman Hadad selaku ketua OJK dan berbagai nama lain yang tidak akan muat ditulis satu per satu. Mereka termasuk alumni HMI yang sangat gemilang dalam melaksanakan tugas pengabdiannya kepada negara. Alumni semacam inilah yang sedang naik daun dikalangan KAHMI sendiri, paling asik memang jadi pejabat.

Cucu yang paling terakhir sekarang acapkali tersingkirkan atau mereka lebih suka menjauh dari dunia politik, yakni para intelektual dan akademisi murni. Orang yang menjadi contoh kuat dalam intelektualitas HMI adalah Nurcholish Madjid yang kerap dipanggil Cak Nur, Ahmad Wahib yang menulis Pergolakan Pemikiran Islam, banyak dari mereka yang memilih jalur menjadi dosen dan mengabdikan dirinya untuk ilmu pengetahuan seperti Dawam Rahardjo yang pernah diundang dalam Diskusi Nasional GMNI sebagai penceramah pada tanggal 6-7 Juli 1981 dalam rangka Program Studi Ekonomi Pancasila (bisa dibilang Pak Dawam ini adalah cucu HMI yang paling progresif), bahkan sampai menjadi guru dan wafat dalam pengabdiannya seperti Pak Budi Cahyono.

Cucu ini adalah tonggak utama dimana sumber utama dari suburnya HMI adalah kemampuan para kadernya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dimana mereka berkuliah, karena kualitas insan pertama di HMI adalah Insan Cita, bukan insan politik.

Banyak pertanyaan dari orang luar, “lalu mana Islamnya? Kok gak ada agamawannya?”. Sederhana saja, keislaman sudah mendarah daging dalam kader dan alumni HMI sehingga tidak perlu dipertontonkan kepada publik, lagipula berdakwah bukanlah pekerjaan melainkan kewajiban seluruh umat Islam di dunia.

Sehingga agamawan bukanlah profesi melainkan pekerjaan sehari-hari kader HMI. Namun memang tidak dipungkiri bahwa HMI acapkali dituding sekuler dan liberal. Tidak ada dalam umat Islam itu fundamentalis atau liberalis, semuanya fundamental karena mengacu kepada Al-Qur’an dan Al-Hadis dalam kehidupan sehari-harinya. Tidak perlu sekiranya memperlihatkan ibadah kita kepada publik karena nanti akan dituding riya’.

Akhir kata, HMI sebagai Pak Tua sendiri memiliki anak-anak nakalnya. Memang tidak boleh dipungkiri “ada” alumni HMI yang melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan, namun kesalahan itu dilakukan secara personal, tidak secara kelembagaan HMI. Inilah yang menjadi penyakit orang Indonesia sekarang, melakukan stereotip dan generalisasi atas satu kasus kepada semua personalia organisasi terkait.

Untuk mengurangi tudingan semacam ini yang dilayangkan kepada HMI secara kelembagaan, maka lebih baik intelektualitas HMI ditingkatkan lagi. Harapan bangsa ini bertumpu pada pendidikan. Dan HMI, seperti yang dikatakan oleh Jenderal Sudirman, adalah Harapan Masyarakat Indonesia.

Meskipun sudah tua, akan tetapi semangat tetap muda karena HMI selalu berlipat ganda, semoga semakin progresif wacana yang dibawa HMI kedepannya. Hanya tulisan pendek ini yang bisa dihadiahkan oleh penulis kepada Pak Tua.

Reza Hikam
Mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara, FISIP, Universitas Airlangga, Aktif di Berpijar.co dan Center for Extresmism, Radicalism, and Security Studies (C-ERSS)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.