OUR NETWORK

Pak Polisi, piye Novel Baswedan?

Begitu banyak kasus- kasus besar yang mengganggu ketenangan publik selama dua bulan terakhir ini. Namun jika diklasifikasikan berdasarkan tingkat kriminalnya plus derajat kebiadabannya maka peristiwa siram air keras ke wajah penyidik KPK Novel Baswedan, barangkali adalah contoh yang pas.

Memang banyak contoh kasus serupa. Tapi jika direnungkan kembali, dalam usia reformasi yang cukup matang yakni 19 tahun lamanya. Pemberdayaan jasa preman bayaran oleh negara untuk menghilangkan mengintimidasi para aktivis di Negeri ini tidak pernah berhenti beroperasi.

Munculnya kasus Novel Baswedan ini, tampak nyata bahwa kondisi zaman ini tak banyak mengalami perubahan dari yang sebelumnya. Ya, Anda boleh saja bilang Jenderal Soeharto sudah tiada, tapi jangan salah, faktanya, praktek-praktek tindakan Soehartois masih relatif terjadi.

Era dimana mereka yang berani akan disapu bersih, saat dimana mereka yang sewot langsung disenyapkan, sebetulnya belum juga hilang dalam konteks bernegara dan berbangsa, kini. Reformasi dengan segala tetek bengek, supremasi hukum dan entah apalah. Tinggalah sekedar obrolan remeh temeh para cendekia dan para ahli hukum di ruang-ruang diskusi, seminar-seminar ilmiah di kampus atau bahkan acara talkshow di TV. Pada kenyataannya di lapangan tetaplah nol besar.

Dan tragisnya kita yang awam ini, yang sudah lama termakan hoax berantai bahwa reformasi adalah fase keemasan dari proses berdemokrasi kita.

Kadangkala tidak menyadari kira-kira apa sih narasi besar yang ditawarkan dari reformasi? Apa sih tujuannya ? Apa sih gunanya reformasi kalau korupsi masih menganga dimana-mana. Apa sih intinya reformasi kalau operasi senyap militer terhadap sipil masih berulang kali terjadi ?

Saya ingin menulis seperti ini supaya mayoritas dari kita senantiasa tak cepat lupa. Kendati telah berjalan dua bulan lamanya proses perburuan pelaku penyiraman wajah Novel. Sampai saat ini kerja Polisi rupanya belum memperlihatkan hasil apa-apa, nihil. Kalau sudah begini, itu artinya jargon supremasi hukum kita terlampau jauh panggang dari api. Alih-alih keadilan, halah.

Semakin bertambah lucu, Kapolri Tito Karnavian di depan rakyat nya pun tak dapat memberikan banyak komentar apa-apa selain meminta masyarakat untuk dapat terus bersabar. Aduh pak Tito, anda pasti tau kan falsafah hidup orang Indonesia, patients has limits, kalau unlimited itu namanya nikmat dan karunia yang diberikan tuhan kepada umat manusia. Nah, itu.

Apalagi untuk selevel Pak Tito Karnavian Ini. Jenderal tiga bintang dengan segudang prestasi yang sudah makan nyawa garam dalam buru-memburu, seharusnya kasus Novel Baswedan adalah makanan kecil baginya.

Lupakan saja masa lalu gemilang Anda yang berhasil melumpuhkan serangan Bom berskema internasional kalau kelas kerucut macam ini saja Anda tidak selesai. Berhenti membanggakan kehebatan Anda meringkus gembong teroris setenar Nurdin M Top bila jaringan teri model begini saja susah anda jerat.

Anda pasti tak dapat membayangkan, mungkin saja saat ini pelaku lagi melenggang bebas kesana-kesini, wara wiri, pelesir, santai di pantai, berpesta selangkangan, main ke mall, ngupi, update status di facebook. Lalu Novelnya? Lebaran dengan biji mata yang hampir rusak, Pak Polisi. Lucu kan?.

Tapi sebaiknya saya harus jernih berpikir sebelum mengkritik. Maksud saya, saya akan sebisanya menggunakan otak saya secara arif. Anggaplah polisi kita ini punya semacam skala prioritas penyelesaian kasus. Semua perkara akan segera ditangani. Untuk itu, sampai hari ini juga saya masih selalu percaya dengan prinsip kerja dari kepolisian ; bekerja dalam diam. Buktinya sampai hari kepolisian kita masih tetap diam ketika Novel Baswedan mengumumkan seorang Jenderal Polri turut terlibat sebagai dalang. (https://www.google.co.id/amp/amp.timeinc.net/time/4815928/indonesia-corruption-novel-baswedan-graft-kpk/%3Fsource%3Ddam )

Tapi demi penegakan Hukum yang seadil-adilnya kita harus terus menaruh kepercayaan pada upaya-upaya Polisi. Kalau bukan polisi siapa lagi. Kasus Novel mungkin saja sekarang sedang di dalami motifnya, sedang di telusuri aktornya, sedang kita disuruh bersabar sembari berdoa agar pelaku secepatnya ditangkap.

Sementara untuk politisi kita anggaplah mereka adalah orang-orang yang punya itikad baik untuk memperbaiki negara ini. Taruhlah prasangka negatif kita dulu jauh jauh. Mungkin saja hak angket yang dilayangkan DPR ke KPK adalah langkah awal untuk menciptakan open government di tubuh KPK. Ini yang harus terlebih dahulu dipahami oleh Tsamara amani sebelum membabi buta menyerang kicauan dari Fahri Hamzah. Bukankah check and balance itu penting untuk membagun birokrasi yang sehat dan bersih.

Tak perlu menumpuk banyak kecurigaan terhadap politisi kita. Kita tahu bahwa jalan kerusakan di dunia ini berawal dari rasa saling curiga. Seperti hadits rasulullah yang diriwayahkan oleh Muhammad Bin Ismail bin Ibrahim Bin Almughirah Bin Bardizbah Al- Ju’fi Al Bukhari dalam kitab shahih Al- Bukhari “jauhilah sifat berprasangka karena sifat berprasangka adalah sedusta-dusta pembicaraan”.

Kita butuh suasana yang lebih adem dan karena itulah menghabiskan tenaga untuk rasa marah atau curiga hanya akan membawa kita pada dua kerugian besar. Pertama adalah jatuh ke jurang kebencian dan kedua negara ini akan mundur secara perlahan.

Lagipula orang model kita ini yang cuman bisa beli motor kosong , masih sering terobos lampu merah, yang kadang-kadang juga membeli kaset bajakan, rasanya tidak adil juga menyodorkan pertanyaan naif kepada Pak polisi. Apa yang sudah bapak lakukan? Apa kerjaan Pak polisi selama ini? gantung biji ? tidak kan.

Saya malah justru ingin serius bertanya kepada Pak Kapolri. Pak Tito, Piye Novel Baswedan ?

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…