Rabu, Maret 3, 2021

Pak Malik, Gus Dur, dan HMI

Manusia, Akhlak, dan Alam Semesta

Akhlak yang mulia/baik adalah semulia-mulianya sesuatu, sebaik baiknya manusia. Dengan akhlak baik, manusia menjadi lebih tinggi derajatnya ketimbang derajat binatang! Manusia hanyalah sosok yang...

Reaktualisasi pemahaman keberagaman kita

Potret Indonesia dewasa ini memasuki dinamika yang cukup rumit. Banyak sekali permasalahan yang harus dihadapi. Semisal masalah pilkada yang tak henti-hentinya menimbulkan kemelut panas....

#2019GantiPresiden, Propaganda Politik Pilpres 2019

Pemasangan spanduk bertuliskan tagar #2019GantiPresiden di Masjid al-Amin, Jalan Serdang Medan, Sumatera Utara, pada tanggal, 18 April 2018 kemarin (Promol.co) merupakan kelanjutan dari kegaduhan...

Tentang Perilaku yang Merusak Karya Seni

Karya seni sedang populer di Indonesia, sayangnya popularitas itu disertai cerita tentang rusaknya berbagai karya seni dan para pengunjung yang hanya sibuk melakukan swafoto...
Ahmad Fahrizal Azizhttp://www.insight-blitar.my.id
Penikmat Sejarah, Tinggal di Blitar

Kala masih kuliah di Malang, sering saya mengikuti forum yang dihadiri Pak Malik Fadjar, baik Pak Malik sebagai pembicaranya, atau sekadar memberi sambutan. Pernah juga melakukan wawancara khusus, terutama karena beliau adalah sosok penting di UIN Malang. Big fathernya.

Salah satu forum yang dihadiri Pak Malik, yang begitu saya ingat adalah Seminar Pesantren di UMM, kala rektor UMM masih dijabat Prof. Muhadjir Effendy.

Kala itu hadir juga Gus Sholah, adik Gus Dur. UMM dan Tebuireng punya hubungan yang harmonis. Gus Dur sempat mau kuliah S2 di UMM, setelah ditolak IAIN karena administrasi tak terpenuhi. Namun, Pak Malik yang saat itu rektor, justru menawarinya jadi dosen S2.

Kata Gus Sholah, Pak Malik berkata: Gus Dur tidak perlu kuliah, langsung saja jadi dosen. Mungkin itu setengah guyonan Gus Sholah, namun menunjukkan betapa cairnya hubungan antar tokoh dua lembaga beda ormas tersebut.

Pak Malik juga salah satu tokoh penting dalam kemelut politik 1998. Beliau bersama beberapa orang antara lain Cak Nur, Cak Nun, Pak Quraish Shihab, adalah orang yang diundang khusus Pak Harto ke Istana untuk memberi semacam Advice.

Pak Malik bercerita, bahwa Pak Harto ingin membentuk dewan atau komite reformasi, dan meminta Cak Nur (Nurcholish Madjid) sebagai ketuanya. Pak Harto ingin mundur sepaket dengan wakilnya, B.J Habibie. Sementara mandat pengamanan penuh diberikan Jenderal Wiranto.

Namun Cak Nur tidak bersedia. Pak Habibie juga tidak ikut mundur. Setengah hati Pak Harto menyerahkan mandat itu ke Pak Habibie, yang akhirnya naik jadi Presiden.

Sejarah ini menarik, bahwa Pak Harto sebenarnya juga karib dengan tokoh-tokoh HMI. Andai Cak Nur menerima tawaran Pak Harto, bisa jadi Cak Nur lah yang akan jadi Presiden atau pemimpin transisi atas dasar delegation of power, karena Pak Wiranto juga tidak menunjukkan keinginan untuk menjadikan mandat itu–seperti Supersemar, misalnya.

Pak Malik termasuk tokoh teras KAHMI. Jangan keliru, Ia dekat dengan Gus Dur, namun dalam buku Menjerat Gus Dur, dituliskan bahwa pihak yang melengserkannya adalah HMI Connections.

Singkat cerita, Pak Habibie naik jadi Presiden. Pak Malik jadi Menteri Agama, menggantikan Prof. Quraish Shihab.

Ketika Gus Dur memenangkan polling di DPR dan akhirnya jadi Presiden, jabatan Menteri Agama digantikan KH. Tolchah Hasan. Pak Malik tidak mejabat apapun, namun posisi Menteri Pendidikan Nasional tetap dijabat tokoh dari Muhammadiyah yaitu Prof. Yahya Muhaimin, bukan dari HMI, melainkan IMM.

Sosok Pak Malik sangat unik, disamping dekat dengan Pesantren Tebuireng, juga punya hubungan baik dengan Bu Megawati. Saking dekatnya, jabatan Menko Kesra Ad-interim pun dipercayakan ke Pak Malik.

Kedekatannya dengan Bu Mega, tidak lain karena hubungan historis-ideologis. Bu Mega adalah keturunan tokoh Muhammadiyah.

Dalam suasana politik yang serba rumit, Pak Malik bisa menjalin relasi baik dengan Bu Mega dan Gus Dur sekaligus, serta posisinya sebagai tokoh HMI. Kita semua mungkin penasaran bagaimana respon beliau terkait HMI Connections yang disebut melengserkan Gus Dur.

Intinya, sikap luas dan luwes yang jadi motto hidupnya benar-benar dijalankan. Pergaulannya yang luas, sekaligus luwes menghadapi kondisi sosial politik yang ada, menjadikannya teladan pada banyak aspek. Selamat jalan, Pak Malik.

Ahmad Fahrizal Azizhttp://www.insight-blitar.my.id
Penikmat Sejarah, Tinggal di Blitar
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.