OUR NETWORK

Pablo Escobar dan Kapitalisme dalam Serial Netflix

Narcos adalah sebuah serial Netflix

Narcos adalah sebuah serial Netflix, yang berkisah tentang dunia hitam kartel-kartel narkotika di Kolombia, Mexico, dan kebijakan War on Drugs, Pemerintah Amerika Serikat, tahun 80 dan 90-an. Sepertinya diskusi tentang serial ini kurang begitu mengemuka di Indonesia, akan tetapi, sebenarnya, banyak sekali pengetahuan-pengetahuan penting yang bisa didapat dari serial ini.

Escobar bukan hanya sekedar gembong Narkoba biasa, tetapi adalah raja dari semua gembong narkoba. Ia menguasai 80% peredaran narkoba di seluruh dunia. Kokain, jenis narkotika utama, yang diedarkan oleh kartel pimpinan Escobar, yaitu Medellin Cartel.

Dari serial Narcos inilah saya baru paham bahwa ternyata awal mula Escobar bergiat dalam bisnis kokain, adalah karena dikenalkan oleh seseorang ahli Kimia dari Chile yang bernama Mateo Moreno.

Alkisah, pada masa kudeta Pinochet terhadap Allende, salah satu kebijakan Pinochet adalah menembak mati semua gembong narkotika. Mereka semua dijejerkan di lapangan tembak, termasuk Mateo “Cuca” Moreno.

Setelah hukuman tembak dilaksanakan, puluhan mayat, bergelimpangan bersimbah darah. Entah karena keberuntungan atau lainnya, si Mateo a.k.a Cucaracha (kata dari bahasa Spanyol, yang berarti kecoak) ini selamat. Ia kemudian memutuskan meninggalkan Chile, dan membawa semua pekerja dan perlengkapan pabrik serta laboratorium tradisional untuk memproduksi kokain, miliknya.

Cuca kemudian berlabuh di Kolombia, yang kala itu hidup seorang bandit penyelundup yang bernama Pablo Escobar. Singkat kata, mereka kemudian berkenalan di sebuah pub, di sanalah Cuca memperkenalkan kokain pada Escobar. Setelah perkenalan ini, dimulailah karir Escobar sebagai gembong kokain terbesar.

Total penghasilannya setahun, pada masa jayanya, adalah sekitar 30 milyar dolar Amerika Serikat, atau sekitar 420 triliun rupiah pertahunnya. Luar biasa bukan? Rakyat biasa seperti kita yang hidup dari gaji sekitar UMR (Upah Minimum Regional) mungkin hanya bisa bermimpi mendapatkan uang sebanyak itu.

Akan tetapi, Escobar sadar asal-usul dirinya sebagai orang yang tak berpunya, ia selalu bilang ketika sedang berdebat atau menjelaskan pada siapapun, “I come from nothing“, atau aku dulunya bukan siapa-siapa.

Kesadaran inilah mungkin salah satunya yang membuat Escobar getol untuk memberi pada kaum miskin di Medellin, Kolombia. Ia bangun berbagai perumahan, lapangan sepakbola untuk rakyat.

Ia juga berkontribusi terhadap perkembangan persepakbolaan di Kolombia. Tercatat pada tahun 1989, klub milik Escobar, Atletico Nacional, menjadi klub Sepakbola Kolombia pertama yang berhasil menjuarai Copa Libertadores.

Puncak perkembangan sepakbola Kolombia, adalah ketika Timnas mereka berhasil melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 1990, setelah menahan imbang Jerman, yang kemudian menjuarai turnamen, pada pertandingan terakhir babak penyisihan. Tim Kolombia kala itu didominasi oleh pemain sepakbola dari klub milik Escobar, Atletico Nacional.

Sisi lain Escobar, yang sangat sayang pada keluarganya, istrinya, anak-anaknya, dan ibunya, sangat kentara sekali ditampilkan dalam serial Narcos. Selain itu, Escobar juga adalah seorang yang dermawan pada siapa saja, khususnya rakyat miskin Kolombia.

Ada suatu adegan, ketika Escobar dan gengnya sedang bergerak incognito, salah seorang warga dari perkampungan kumuh tiba-tiba menyapanya, dan ia pun lalu dikerumuni banyak warga sekitar, yang semuanya memujanya. Escobar pada adegan itu membagi-bagikan banyak uang pada warga. “Pemurah seperti biasanya, Don Pablo”, begitu komentar salah seorang warga saat itu.

Jiwa sosialis Escobar inilah yang mungkin membuatnya cocok beraliansi dengan berbagai negara sosialis seperti Kuba dan Nikaragua, yang kala itu dipimpin gerilyawan Sandinista. Pesawat yang mengangkut kokain Escobar dari Kolombia ke Miami, Amerika Serikat, kerapkali transit di kedua negara sosialis tersebut.

Ini pula yang mungkin membuat Maradona, legenda hidup sepakbola dari Argentina, memiliki sikap politik yang cenderung memihak pada berbagai pemerintahan kiri dan sosialis di Amerika Latin. Ya, Maradona adalah salah seorang pemain sepak bola yang sempat berkunjung ke penjara mewah Escobar, “La Catedral”.

Kedekatan Escobar dengan berbagai negara sosialis tersebutlah yang membuat Negara Kapitalis, Amerika Serikat di bawah Ronald Reagan dan George Bush Senior, begitu bersemangat memeranginya.

Dalam serial tersebut, juga dikisahkan bagaimana seorang agen CIA (Central Intelligence Agency) mempersenjatai milisi ultra kanan di Kolombia,  Peasant Self-Defenders of Córdoba and Urabá/ Kelompok Bela Diri Petani Kordoba dan Uraba (ACCU), pimpinan Castano bersaudara, untuk memerangi kelompok gerilyawan kiri seperti FARC (Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia/Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia).

Milisi ultra kanan, yang gemar membunuhi petani-petani penggarap, simpatisan FARC ini pulalah yang kemudian membunuhi pentolan-pentolan Medellin Cartel, pimpinan Escobar, dengan nama “Los Pepes”.

Otentisitas kisah hidup Pablo Escobar dalam serial ini, sebenarnya sudah dibantah oleh anak Escobar, yaitu Juan Pablo Escobar, yang sekarang bernama Sebastian Marroquin, dalam sebuah status Facebook, sebagaimana dilansir oleh The Telegraph.

Menurutnya, ada 28 ketidakakuratan dalam Serial Narcos Netflix, salah satunya adalah posisi La Quica, salah seorang hitman Escobar, yang dalam serial tersebut digambarkan ditangkap di Kolombia beberapa saat sebelum Escobar terbunuh, padahal dalam kenyataannya, La Quica ditangkap pada bulan September 1991 di New York, Amerika Serikat, atau dua tahun sebelum Escobar ditembak mati (https://www.telegraph.co.uk/, diakses 6 Agustus 2019).

Walaupun demikian, sisi lain Escobar yang penyayang pada keluarganya dan dekat dengan rakyat, adalah kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Adalah hal yang lumrah kala itu ditemukan lukisan Escobar sebagai seorang Santo yang berjajar dengan salib dan lukisan Yesus Kristus dalam rumah-rumah di perkampungan kumuh, Kolombia.

Akhir kata, butuh sebuah sikap kritis dalam menonton serial Narcos Netflix, supaya tidak terjebak dalam perspektif hitam putih, yang selalu menghiasi berbagai film Hollywood dan serial televisi keluaran Amerika Serikat. Dalam kenyataannya memang, kebijakan Amerika Serikat cukup berbeda dalam menghadapi Escobar dan Medellin Cartel, dengan Cali Cartel, pimpinan Rodriguez bersaudara.

Escobar dan pentolan Medellin Cartel, sebagian besar ditembak mati, sementara pimpinan Cali Cartel, Gilberto dan Miguel Rodriguez, sampai sekarang masih hidup dalam penjara di Amerika Serikat.

Padahal brutalitas kedua cartel tersebut hampir sama, bedanya Cali Cartel tidak bermesraan dengan pemerintahan-pemerintahan kiri dan sosialis, sebagaimana  halnya Pablo Escobar.

Sistem kapitalisme memang tidak bergerak atas dasar keadilan, tetapi berdasarkan kepentingan modal/uang/kapital, sepanjang menguntungkan, sebrutal apapun, akan dibela dan dipertahankan, sebaliknya kalau merugikan, maka akan diperangi habis-habisan.

Harsa Permata lahir di Aceh Selatan, pada tanggal 30 Januari 1979. Ia adalah alumni Filsafat Universitas Gadjah Mada, gelar Sarjana Filsafat diraihnya pada tahun 2005. Pada tahun 2013, ia menyelesaikan studi pada program pascasarjana di kampus yang sama. Ia sempat menjadi pengajar di Sekolah Dasar dan Menengah internasional di Jakarta, pada tahun 2005-2011. Sekarang ia adalah dosen tetap di Universitas Universal, Batam, dan dosen tidak tetap di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…