Sabtu, Desember 5, 2020

Orde Lama dan Kekuatan Politik Gerakan Mahasiswa

Muhammadiyah dan Tajdid Desa

Tulisan ini adalah refleksi dari dialog warga Muhammadiyah Kota Bogor dengan Ketua Umum Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir di pertengahan bulan Maret 2019 lalu. Memberikan...

Atraksi Interpersonal Menjelang Pilpres 2019

Mungkin yang hanya ada di benak para politisi adalah kekuasaan yang benar-benar mutlak. Entah doktrin apa yang ada di dalam dirinya itu, entah karena...

Terminologi “Kafir” dalam Konsep Religious Nation State

Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) menghasilkan beberapa rekomendasi salah satunya adalah mengganti istilah “kafir” dengan istilah “non-muslim”. Hal ini...

Kerentanan PRT Migran Mendesak Disahkannya RUU P-KS

Budaya Patriarki masih sangat kuat bercokol di kebudayaan masyarakat indonesia. “Jangan sekolah tinggi-tinggi. Ngapain perempuan sekolah kuliah nanti juga ujung-ujungnya menikah ngurus anak!”, itulah...
Razan Ghifari
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Airlangga. Peraih Beasiswa Rumah Kepemimpinan Regional Surabaya.

Ketika kita berbicara tentang gerakan mahasiswa yang terjadi selama orde lama, maka kita juga perlu membandingkan apa saja yang menjadi sorotan di tiap zaman, kemudian tuntutan apa saja yang menjadi fokus mahasiswa ketika pada masa-masa pemenerintahan Presiden Soekarno.

Gerakan mahasiswa yang sudah terjadi selama perjalanan Indonesia sampai sekarang tidak terlepas dari sejarah dan peran sentral mahasiswa sebagai garda terdepan di setiap perubahan sosial dan politik yang terjadi di tanah air.

Gerakan mahasiswa juga biasanya identik dengan aksi penyikapan terhadap isu-isu penolakan terhadap rezim, kebijakan yang tidak pro-rakyat, mobilisasi massa yang kuat, bahkan boikot dan aksi dan kritik terhadap isu-isu lokal, nasional dan internasional. Semua kekuatan gerakan ini didasari sifat mahasiswa yang kritis, tajam dalam intelektual, dan kelompok besar sebagai salah satu komponen revolusi daripada revolusioner, serta energi yang besar sehingga sering terlibat di dalam setiap perubahan sosial.

Gerakan Mahasiswa Orde Lama

Pada periode 1945-1965 muncul berbagai organisasi –organisasi ekstra kampus yang muncul seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Februari 1947, yang dimotori oleh Lafran Pane. Organisasi lain juga bermunculan seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dengan landasan ideologi Marhaenisme-nya Soekarno, Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia atau GAMSOS yang lebih cenderung ke ideologi Sosialisme, dan yang paling menjadi sorotan adalah munculnya Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) yang dekat dengan PKI karena memiliki ideologi yang sama yaitu komunis.

Pada zaman orde lama yang dimana PKI masih eksis, otomatis organisasi mahasiswa CGMI juga menjadi lebih menonjol dan lebih terkenal dibanding organisasi-organisasi lain seperti HMI, GMNI, dan lainnya karena kedekatannya dengan PKI.

Sebagai organisasi turunan dari PKI, CGMI lebih sering mengakomodir kepentingan politik PKI dan sering berkonfrontasi dengan gerakan mahasiswa lain sehingga ini menjadi awal perpecahan gerakan mahasiswa. Karena merasa sering berkonfrontasi dengan CGMI dan PKI dan punya perbedaan dari sisi ideologi maka HMI, GMKI, PMKRI, PMII, dan beberapa ormas lain membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia atau KAMI.

Tujuan KAMI sendiri adalah koordinasi perlawanan terhadap pengaruh PKI di Indonesia dan ini adalah awal perjuangan mahasiswa yang dikenal sebagai gerakan angkatan ’66 yang kemudian mulai melakukan pertentangan terhadap PKI dan ideologi komunis yang dianggap mengancam stabilisasi negara.

Gerakan mahasiswa yang paling santer dan berpengaruh pada masa itu adalah munculnya angkatan ’66 yang dimana menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional pada tahun 1966, ketika rezim Soekarno atau orde lama masih berkuasa.

Ketika orde lama, gerakan ini tampil sebagai aktor yang paling masif mengkritik pemerintah dan bahkan sebagai pahlawan moral yang menentang ideologi komunis yang dianggap sebagai ancaman bangsa pada saat itu.

Muncul tokoh-tokoh mahasiswa yang eksis dalam menentang komunis seperti Cosmas Batubara, Sofyan Wanandi, Akbar Tanjung, dan lain-lain. Para penentang komunis ini kemudian diberikan hadiah berupa kedudukan di MPR dan DPR ketika orde lama pada akhirnya runtuh dan zaman orde baru dimulai.

Ini yang disayangkan, ketika idealisme yang dibawa mahasiswa saat itu masih terjaga dan dijunjung tinggi, tetapi setelah orde lama runtuh, idelaisme mereka ikut luntur menyusul pemberian hadiah oleh pemerintah yang sedang berkuasa dengan disediakan kursi MPR dan DPR serta diangkat menjadi pejabat pemerintahan oleh penguasa orde baru.

Namun di tengah gelombang runtuhnya idealime mahasiswa tersebut, ternyata ada sosok mahasiswa yang sangat dikenal idealismenya hingga saat ini dan sampai sekarang tetap menjadi panutan para aktivis – aktivis mahasiswa di Indonesia, yaitu Soe Hok Gie. Soe Hok Gie melalui kalimat inspiratifnya berkata pada kawan seperjuangannya yang telah berbelok idealimenya dengan berkata “lebih baik terasingkan daripada hidup dalam kemunafikan”.

Tritura, KAMI, Dan Soekarno

Semua pasti mengetahui Tri Tuntutan Rakyat pada 10 Januari 1966 yang dimana ketika itu kondisi pemerintahan tidak stabil dan ditengah demonstrasi marak dimana-mana menuntut agar PKI dibubarkan karena meresahkan masyarakat.

Sebagai respon dari situasi tersebut, mahasiswa melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia melalukan aksi dengan mendatangi DPR dengan meneriakkan Tritura yang isinya pemerintah didesak untuk membubarkan PKI dan ormasnya, kemudian melakukan perombakan kabinet Dwikora, dan turunkan harga sandang pangan, karena kondisi politik yang tidak stabil pada saat itu juga mempengaruhi kondisi perekonomian nasional, seperti dengan melonjaknya harga barang pokok dan BBM.

Para delegasi KAMI kemudian diperintahkan kembali pulang ke Jakarta. Tetapi di sisi lain mahasiswa merasa belum menemukan konsensus melalui pertemuan di Bogor itu. Mahasiswa kemudian menngambil sikap tidak akan pulang sebelum PKI dibubarkan. Kemudian Cosmos dan beberapa mahasiswa menemui Soeharto dan menjelaskan bahwa mahasiswa tetap tidak akan pulang sebelum PKI dibubarkan.

Dan Soeharto menjawab kepada Cosmos bahwasanya PKI sudah dibubarkan, dan mahasiswa silahkan bubar. Beberapa waktu setelahnya, tepatnya pada puncak penggulingan Soekarno melalui Surat Perintah 11 Maret, Soeharto kemudian mengambil tonggak kepemimpinan presiden dan peristiwa ini menandakan akhir dari Orde Lama dan awal dari Orde Baru.

Perjalanan Orde Lama akhirnya selesai dan kita tidak bisa menampik bahwa mahasiswa pada saat itu berperan besar dalam perubahan sosial dan menjadi sebuah kekuatan politik yang bisa bergerak dengan skala yang besar.

Razan Ghifari
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Airlangga. Peraih Beasiswa Rumah Kepemimpinan Regional Surabaya.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.