Senin, Oktober 26, 2020

Optimisme di Tengah Ketidakbersatuan ASEAN

Membaca Garis Tangan Ilmu Sosial Era 4.0

Perdebatan dalam WhatsApp Group (WAG) Asosiasi Dosen Ilmu-Ilmu Sosial tentang Quo Vadis dan nasib ilmu-ilmu sosial di era Mendikbud Nadiem Makarim yang menekankan roadmap...

Selamat Hari Pers Nasional, Masih Adakah Idealisme Wartawan?

Selamat hari Pers Nasional 9 Februari 2018, masih adakah idealisme wartawan? Pertanyaan ini sungguh menohok. Apa itu idealisme wartawan? Jawaban gampangnya ialah seorang wartawan...

Kenabian Muhammad di Mata Michael Cook

Orang-orang pada saat itu menganggap Nabi Muhammad gila dan sesat. Sebagai pembawa agama baru, Nabi Muhammad terlebih dahulu mempertimbangkan apa sumber daya yang tersedia...

Bencana Bonus Demografi, Gagalnya Omnibus Law Soal Peluang Kerja

Satu abadnya Indonesia, diprediksi akan menjadi tahun emas bagi masyarakat luas, pun berdampak bagi negara lain. Karena saat keadaan tersebut, Indonesia akan menyongsong meledaknya...
Ludiro Madu
Dosen di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta. Peminat studi ASEAN, Asia Tenggara, Politik Luar Negeri & Diplomasi Indonesia, dan kaitan internet-hubungan internasional

Optimisme ASEAN yang memasuki usia 53 tahun pada 8 Agustus lalu harus dihadapkan pada kenyataan pahit dan diliputi keprihatinan. Negara-negara anggota ASEAN dipaksa atau terpaksa tidak bisa bersatu menghadapi pandemi Covid-19 dan konflik klaim di Laut China Selatan (LCS). Kedua masalah eksternal itu ternyata juga tidak bisa mendorong ke-10 negara anggota ASEAN untuk bersatu padu bertindak bersama dan keluar dari kedua masalah itu.

Sejak awal virus Corona menyebar di kawasan Asia Tenggara pada Februari 2020, semua anggota ASEAN lebih berorientasi nasionalistik dan unilateral demi melindungi kesehatan warganegaranya sendiri. Pintu-pintu internasional ditutup untuk menghambat perpindahan manusia melintas batas negara-negara ASEAN. Masing-masing negara berupaya keras mengamankan persediaan alat-alat kesehatan dan obat-obatan.

Negara-negara anggota ASEAN juga tidak bisa bersatu menghadapi konflik klaim di perairan LCS. Konflik antara China dan 4 negara anggota ASEAN (Vietnam, Filipina, Brunei Darusallam, dan Malaysia) telah mempersulit posisi ASEAN. Masing-masing negara anggota ASEAN yang berkonflik itu pun tidak bisa menyatukan posisi mereka berempat untuk menantang posisi China. Pada insiden terakhir, Filipina dan Vietnam bahkan terlibat baku mulut di kawasan LCS.

Perbedaan kebijakan itu bahkan melebar pada perbedaan dukungan mereka terhadap manuver Amerika Serikat (AS) di perairan LCS. Dibandingkan ketiga negara lain yang cenderung di pihak Amerika Serikat (AS), Filipina lebih memihak China.

Menurut saya, kedua persoalan itu menjadi tantangan terbesar ASEAN di usia ke-53 ini. Apakah ASEAN diam saja tanpa tanggapan terhadap kedua masalah itu? Tentu saja tidak. Optimisme terhadap ASEAN tetap perlu ada sambil berupaya keras mendorong lembaga regional ini selalu ‘hadir’ dalam dinamika persoalan di Asia Tenggara. ASEAN telah melakukan banyak hal untuk kedua soal itu. Bahkan dalam 6 bulan ini, ASEAN melakukan berbagai upaya penanganan dan penyelesaian kedua masalah pelik itu secara virtual atau memakai video conference.

Masih ada optimisme

Berbagai protokol atau aturan main regional telah diusulkan pada Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) khusus tentang penanganan Covid-19 di Februari dan KTT ke-36 ASEAN di Juni lalu. ASEAN tampaknya menyadari keterbatasan gerakan lembaganya dan juga kenyataan bahwa negara-negara anggotanya lebih berorientasi pada kepentingan nasional masing-masing ketimbang kepentingan regional. Dalam situasi krisis saat ini, ASEAN tidak bisa mengambil tindakan-tindakan konkrit, selain memaksimalkan upaya membuat norma-norma regional.

Dalam situasi ketidakbersatuan dan upaya ASEAN tetap menjaga sentralitasnya di kawasan Asia Tenggara, maka kegiatan ASEAN Virtual Cross-Pillar Consultation on the Narrative of ASEAN Identity (31/08/2020) menjadi sangat relevan. Apalagi konsultasi virtual itu mengedepankan narasi identitas ASEAN sebagai upaya meningkatkan kesadaran ASEAN dan memperkuat relevansi organisasi regional ini di tengah pusaran pandemi Covid-19 dan konflik di LCS.

Isu identitas ASEAN ini sangat menarik karena realitas negara-negara ASEAN yang berbeda ini yang selama ini malah berkontribusi penting dalan menyatukan ASEAN. Perbedaan struktur sosial-budaya, ekonomi, dan politik malahan telah berkontribusi besar dalam membangun semangat kebersatuan ASEAN.

Orang seringkali membandingkan ASEAN dengan Uni Eropa (UE). Kenyataan memang menunjukkan bahwa ASEAN memang berbeda dari UE dalam membangun organisasi regionalnya. UE memerlukan syarat kesamaan struktur ekonomi, politik, dan sosial-budaya di antara negara-negara anggotanya. Sedangkan ASEAN malah sebaliknya.

Dalam pandangan saya, karakteristik ini menyebabkan peran ASEAN lebih terbatas dibandingkan UE. Terbatas dalam pengertian ASEAN terpaksa tidak bisa menyatukan sikap negara-negara anggota ASEAN. Prinsip non-intervensi telah membatasi ASEAN untuk mencampuri isu-isu nasional dari negara-negara anggotanya. Yang bisa dilakukan ASEAN adalah tidak mengambil sikap memihak terhadap kekuatan besar (AS dan China), namun lebih fokus kepada upaya-upaya proaktif ikut merespon persoalan-persoalan regional, seperti pandemi Covid-19 dan konflik di LCS.

Sikap bersama dan kesatuan pandangan di antara ke-10 negara-negara anggota ASEAN tentu saja menjadi harapan bersama bagi organisasi regional ini. Kebersatuan ASEAN diyakini menjadi modalitas strategis dalam mendorong sentralitasnya di kawasan ini dalam berinteraksi dengan mitra-mitranya (seperti AS, China, Rusia, India, Jepang) dalam memperoleh dukungna terhadap inisiatif Indo-Pasifik.

Di tengah upaya membangun komunitas ASEAN itu pula, optimisme mengenai ‘we feeling’ juga dihadapkan pada kenyataan tentang nasionalisme vaksin di antara negara-negara anggota ASEAN. Perlombaan ikut menemukan vaksin dan berebut akses terhadap vaksin Covid-19 berlangsung di antara anggota ASEAN. Nasionalisme vaksin bahkan menunjukkan kepentingan geopolitik mereka terhadap kekuatan global, seperti AS, China, dan Rusia.

Optimisme dalam komunitas regional ASEAN yang bersatu tampak sekali menghadapi tantangan besar, yaitu perbedaan sikap yang didorong kepentingan nasional.

Masalah pandemi dan vaksin Covid-19, serta konflik LCS memang memaksa negara-negara anggota ASEAN tidak bisa bersatu, namun justru ini harus menjadi momentum untuk memperkuat ASEAN.

Organisasi regional ini memang kelihatan gagap dalam merespon kedua persoalan itu, namun —menurut saya— optimisme tetap perlu dibangun. Terlalu sederhana untuk mengatakan bahwa ASEAN telah gagal.

Ludiro Madu
Dosen di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta. Peminat studi ASEAN, Asia Tenggara, Politik Luar Negeri & Diplomasi Indonesia, dan kaitan internet-hubungan internasional
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

ARTIKEL TERPOPULER

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.