Senin, Oktober 26, 2020

Opini Komunitarian dalam Ruang Publik

Serikat Pekerja Media: 404 Not Found

Beberapa bulan yang lalu telah terjadi PHK massal yang dilakukan oleh MNC Group. PHK yang memberhentikan sebanyak 300 pekerja media tersebut terjadi setelah beberapa...

Pemilu 2019 Sudahkah Endgame?

Sama dengan yang sedang ramai saat ini Avengers: Endgame yaitu Pemilu 2019 resmi selesai dilaksanakan sesuai dengan jadwal dari KPU yaitu pada tanggal 17...

Momentum Silaturahim Umat Bernama Mudik

Hari raya Idul Fitri menjadi momentum tunggal bagi umat muslim untuk pulang kampung alias mudik. Mudik lebaran sudah menjadi tradisi yang terkesan wajib. Sesungguhnya,...

Melawan dengan Tagar #CrazyRichSurabayan

Twitter diramaikan dengan tagar #CrazyRichSurabayan pada pertengahan September 2018. Barangkali guyon terhadap gaya hidup dan perilaku orang tajir Surabaya bisa ditafsirkan sebagai lucu-lucuan semata, namun...
mia abz
Pegiat Literos yang masih menjadi mahasiswi magister ilmu komunikasi Universitas Diponegoro

Dalam linimasa media sosial Instagram, beredar video sekelompok masyarakat menghadang gerbang gereja di Medan, Sumatera Utara. Kasus ini menguap semenjak video yang diunggah oleh akun netcitizen merekam adegan adu teriak dan hampir saling mendorong satu sama lain.

Pekikan nama Tuhan yang berlainan pun terdengar jelas. Selain itu juga dari pakaian yang dikenakan dapat dipastikan menunjukkan antara dua entitas agama-mana yang sedang berhadapan di dalamnya.

Tidak berhenti disitu. Video balasan muncul dari akun pribadi kelompok lain mengenai kejelasan kasus tersebut. Video yang diunggah pertama diyakini oleh sebagian khalayak tidak menjelaskan konteks permasalahan. Namun, justru mengundang banyak pertanyaan dan tidak sedikit juga terpancing emosi. Video kedua ada perangkat masyarakat yang tengah menjelaskan duduk permasalahan. Masyarakat tampak lebih tenang dan kondusif.

Pemindahan rumah ibadah gereja bethel dari satu titik ke titik yang lain, kemudian masalah birokrasi yang lain, sehingga rumah ibadah tersebut “ilegal-partially”, dengan itu kegiatan di dalamnya juga dianggap dilarang dan ilegal. Anggapan ilegal tersebut akhirnya melahirkan tindakan anarkis prematur.

Belum lagi tidak terhitung asumsi-asumsi liar yang lahir dari khalayak medsos yang menonton video pendek. Siapa yang hendak bertanggungjawab atas interpretasi tidak kontekstual?

Ruang Publik Negara Demokrasi 

Ruang publik secara ringkas menurut pandangan Jurgen Habermas, seorang filsuf Jerman yang sangat berpengaruh sampai hari ini, adalah arena diskursus yang terbebas dari kepentingan politik dan ekonomi kapitalis sehingga masyarakat di dalamnya dapat saling bertukar pikiran.

Konsep ini sangat berbeda dengan sejarah lahirnya ruang publik. Yang lahir di kafe dan salon tempat para borjuis membicarakan politik dan modal ekonomi untuk mempromosikan kepentingan masing-masing. Sehingga menurut Habermas, makna dan fungsi ruang publik harus dikembalikan kepada hakikatnya.

Di dalam ruang publik yang ideal, akan berlangsung pedebatan publik, opini dan aspirasi diskursif yang dilakukan oleh masyarakat. Dan yang lebih penting, ruang publik harus terlepas dari segala bentuk intervensi. Tidak boleh ada satu budaya dan atau tradisi agama, kelompok, dan kepentingan tertentu yang dapat mengklaim dan mengubah struktur norma diskursus. Karena ruang publik itu otonom, hidup dari civil society.

Ruang publik harus bisa menjadi ruang tamu yang menyenangkan, menyatukan dan mendamaikan konflik-konflik dari seluruh lapisan masyarakat hingga bisa terselesaikan. Bahkan menurut Habermas lagi, hasil komunikasi masyarakat dalam ruang publik harus bisa ditransformasikan dalam undang-undang untuk menjawab permasalahan yang ada. Itu sebabnya di dalam ruang publik, tempat masyarakat memecahkan masalah, tidak boleh ada komunitarian yang mendominasi pembentukan opini publik.

Oleh karena itu dapat disimpulkan, ruang diskusi yang berisi orang-orang dengan ambisi bersama menyerang dan atau membangun sesuatu karena kepentingan kelompok tersebut terhadap kelompok lain, maka tidak dapat disebut sebagai ruang publik. Karena kesepakatan yang lahir, tidak berasal dari sperma kebebasan berkeadilan dan tumbuh di rahim demokrasi, melainkan komunitarianisme yang hendak berkuasa.

Masyarakat Postsekuler 

Dalam tesis Gusti Menoh yang dibukukan dengan judul Agama dalam Ruang Publik, sejarah kondisi masyarakat Indonesia dengan Amerika-Eropa memiliki kemiripan. Amerika dan Eropa sempat mengalami privatisasi agama dari ruang publik. Bahkan yang lebih ekstrim, liberalisme sekular mengambil tindakan yang sangat melawan agama. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan spirit masyarakat untuk beragama dan beraspirasi relijius. Revitalisasi keagamaan terus berlangsung, sampai pada titik bahwa makin hadir dan menguat di beberapa negara.

Demikian pula yang terjadi di Indonesia. Meski memiliki perbedaah sejarah politik, namun kondisi mental dan pandangan yang sama. Pada masa Orde Baru, represi dari pemerintah yang membuat agama cenderung diprivatisasi. Keberadaan kelompok-kelompok agama tidak memiliki pengaruh dalam pembuatan keputusan, meski dalam seharian masyarakat agama masih sangat erat. Artinya, ada pemisahan agama dengan pemerintahan pada saat itu.

Namun setelah orba runtuh, pandangan agama memenuhi seluruh ruang hukum dan politik Indonesia. Bahkan tidak tanggung-tanggung, presiden yang keempat terpilih dari kelompok agama. Kondisi bangkitnya kembali agama dalam bentuk aspirasi di ruang publik, khususnya ranah politik, disebut oleh Habermas sebagai postsekuler.

Penutup 

Indonesia sebagai negara demokrasi permusyawaratan, sebenarnya telah mengambil jalan tengah dalam mengawinkan hukum agama dan hukum rasional. Namun, realitas masyarakat yang fanatisme terhadap keyakinan bahwa keputusan sosial harus diselesaikan menggunakan ajaran agama tertentu dalam ruang publik, sangat salah. Sampai hari ini, masyarakat postsekuler yang tengah dimabuk asmara oleh janji surgawi tidak sedikit menghadapi konflik antar agama.

Padahal, rasio dan kemanusiaan bisa jauh lebih diutamakan dalam setiap tindakan bermasyarakat. Tindakan yang mudah menghakimi menggunakan pandangan yang sempit, hanya akan melahirkan perpecahan bangsa Indonesia.

Daftar Pustaka

Gusti A.B Menoh. 2015. Agama dalam Ruang Publik. Penerbit Kanisius : Yogyakarta

Jurgen Habermas. 2012. Ruang Publik. Kreasi Wacana : Yogyakarta.    

mia abz
Pegiat Literos yang masih menjadi mahasiswi magister ilmu komunikasi Universitas Diponegoro
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

ARTIKEL TERPOPULER

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.