Jumat, Oktober 30, 2020

Komunitarian dalam Ruang Publik

Guncangan Ekonomi Iran Menghadapi Wabah Corona

Belum selesai perekonomian Iran berjibaku dengan beban sanksi embargo Amerika Serikat (AS). Kini, Iran harus menghadapi wabah virus Corona yang tentunya berdampak negatif terhadap...

Gempa Lombok : Panggung Politik Digital

Bencana Gempa Bumi yang melumpuhkan Pulau Lombok dibuat oleh politisi sebagai bedak dan gincu. Sejak gempa mengguncang yang tertanggal 05 Agustus 2018 yang berkekuatan...

PPDB 2020 Masih Ribut Soal Zonasi

Keputusan pemprov DKI Jakarta menggunakan jalur zonasi pada PPDB 2020 menuai protes dari orang tua murid. Protes tersebut dilayangkan oleh wali murid lantaran menganggap...

Perlindungan Hukum Aktivis Lingkungan

Indonesia sebagai negara berkembang gencar melakukan pembangunan-pembangunan infrastruktur. Dimulai sejak lahirnya Orde Baru, pembangunan sangat masif. Rezim pembangunan ini memanfaatkan alam sebagai bagian dari...
mia abz
Pegiat Literos yang masih menjadi mahasiswi magister ilmu komunikasi Universitas Diponegoro

Belakangan ramai diperbincangkan surat yang berkop Forum Muslim Bogor melarang perayaan acara umat konghucu. Dalam surat seruan tersebut terdapat beberapa poin yang hendak menjadi pokok pernyataan mereka.

Yakni melarang pemerintah Kabupaten dan Kota Bogor untuk memfasilitasi acara tersebut, melarang penampilan dalam bentuk apapun meski dengan dalih seni budaya, dan tentunya melarang umat muslim untuk hadir serta merayakannya. Tidak lama sebelum ini pun, beredar video aksi di depan Balai Kota Solo yang menolak pemasangan sejumlah lampion sebagai bentuk perayaan imlek.

Tidak lama sebelum itu juga, dalam linimasa media sosial Instagram, beredar video sekelompok masyarakat menghadang gerbang gereja di Medan, Sumatera Utara. Kasus ini menguap semenjak video yang diunggah oleh akun netcitizen merekam adegan adu teriak dan hampir saling mendorong satu sama lain. Pekikan nama Tuhan yang berlainan pun terdengar jelas. Selain itu juga dari pakaian yang dikenakan dapat dipastikan menunjukkan antara dua entitas agama-mana yang sedang berhadapan di dalamnya.

Tidak berhenti disitu. Video balasan muncul dari akun pribadi kelompok lain mengenai  kejelasan kasus tersebut. Video yang diunggah pertama diyakini oleh sebagian khalayak tidak menjelaskan konteks permasalahan. Namun, justru mengundang banyak pertanyaan dan tidak sedikit juga terpancing emosi. Video kedua ada perangkat masyarakat yang tengah menjelaskan duduk permasalahan. Masyarakat tampak lebih tenang dan kondusif.

Pemindahan rumah ibadah gereja bethel dari satu titik ke titik yang lain, kemudian masalah birokrasi yang lain, sehingga rumah ibadah tersebut “ilegal-partially”, dengan itu kegiatan di dalamnya juga dianggap dilarang dan ilegal. Anggapan ilegal tersebut akhirnya melahirkan tindakan anarkis prematur. Belum lagi tidak terhitung asumsi-asumsi liar yang lahir dari khalayak medsos yang menonton video pendek. Siapa yang hendak bertanggungjawab atas interpretasi tidak kontekstual?

Ruang Publik Negara Demokrasi

Ruang publik secara ringkas menurut pandangan Jurgen Habermas, seorang filsuf Jerman yang sangat berpengaruh sampai hari ini, adalah arena diskursus yang terbebas dari kepentingan politik dan ekonomi kapitalis sehingga masyarakat di dalamnya dapat saling bertukar pikiran.

Konsep ini sangat berbeda dengan sejarah lahirnya ruang publik. Yang lahir di kafe dan salon tempat para borjuis membicarakan politik dan modal ekonomi untuk mempromosikan kepentingan masing-masing. Sehingga menurut Habermas, makna dan fungsi ruang publik harus dikembalikan kepada hakikatnya.

Di dalam ruang publik yang ideal, akan berlangsung pedebatan publik, opini dan aspirasi diskursif yang dilakukan oleh masyarakat. Dan yang lebih penting, ruang publik harus terlepas dari segala bentuk intervensi. Tidak boleh ada satu budaya dan atau tradisi agama, kelompok, dan kepentingan tertentu yang dapat mengklaim dan mengubah struktur norma diskursus. Karena ruang publik itu otonom, hidup dari civil society.

Ruang publik harus bisa menjadi ruang tamu yang menyenangkan, menyatukan dan mendamaikan konflik-konflik dari seluruh lapisan masyarakat hingga bisa terselesaikan. Bahkan menurut Habermas lagi, hasil komunikasi masyarakat dalam ruang publik harus bisa ditransformasikan dalam undang-undang untuk menjawab permasalahan yang ada. Itu sebabnya di dalam ruang publik, tempat masyarakat memecahkan masalah, tidak boleh ada komunitarian yang mendominasi pembentukan opini publik.

Oleh karena itu dapat disimpulkan, ruang diskusi yang berisi orang-orang dengan ambisi bersama menyerang dan atau membangun sesuatu karena kepentingan kelompok tersebut terhadap kelompok lain, maka tidak dapat disebut sebagai ruang publik. Karena kesepakatan yang lahir, tidak berasal dari sperma kebebasan berkeadilan dan tumbuh di rahim demokrasi, melainkan komunitarianisme yang hendak berkuasa.

Masyarakat Postsekuler  

Dalam tesis Gusti Menoh yang dibukukan dengan judul Agama dalam Ruang Publik, sejarah kondisi masyarakat Indonesia dengan Amerika-Eropa memiliki kemiripan. Amerika dan Eropa sempat mengalami privatisasi agama dari ruang publik. Bahkan yang lebih ekstrim, liberalisme sekular mengambil tindakan yang sangat melawan agama. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan spirit masyarakat untuk beragama dan beraspirasi relijius. Revitalisasi keagamaan terus berlangsung, sampai pada titik bahwa makin hadir dan menguat di beberapa negara.

Demikian pula yang terjadi di Indonesia. Meski memiliki perbedaah sejarah politik, namun kondisi mental dan pandangan yang sama. Pada masa Orde Baru, represi dari pemerintah yang membuat agama cenderung diprivatisasi. Keberadaan kelompok-kelompok agama tidak memiliki pengaruh dalam pembuatan keputusan, meski dalam seharian masyarakat agama masih sangat erat. Artinya, ada pemisahan agama dengan pemerintahan pada saat itu.

Namun setelah orba runtuh, pandangan agama memenuhi seluruh ruang hukum dan politik Indonesia. Bahkan tidak tanggung-tanggung, presiden yang keempat terpilih dari kelompok agama. Kondisi bangkitnya kembali agama dalam bentuk aspirasi di ruang publik, khususnya ranah politik, disebut oleh Habermas sebagai postsekuler.

Penutup

Indonesia sebagai negara demokrasi permusyawaratan, sebenarnya telah mengambil jalan tengah dalam mengawinkan hukum agama dan hukum rasional. Namun, realitas masyarakat yang fanatisme terhadap keyakinan bahwa keputusan sosial harus diselesaikan menggunakan ajaran agama tertentu dalam ruang publik, sangat salah. Sampai hari ini, masyarakat postsekuler yang tengah dimabuk asmara oleh janji surgawi tidak sedikit menghadapi konflik antar agama.

Permasalahan yang berkaitan dengan administrasi dan proses hukum yang sedang berlangsung, tentu tidak diperlukan lagi tindakan lain. Apalagi tindakan yang tidak kooperatif serta mengorbankan kedamaian. Padahal, rasio dan kemanusiaan bisa jauh lebih diutamakan dalam setiap tindakan bermasyarakat. Tindakan yang mudah menghakimi menggunakan pandangan yang sempit, hanya akan melahirkan perpecahan bangsa Indonesia.

Daftar Pustaka

Gusti A.B Menoh. 2015. Agama dalam Ruang Publik. Penerbit Kanisius : Yogyakarta

Jurgen Habermas. 2012. Ruang Publik. Kreasi Wacana : Yogyakarta.

mia abz
Pegiat Literos yang masih menjadi mahasiswi magister ilmu komunikasi Universitas Diponegoro
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.