Rabu, April 14, 2021

Ketika Penegak Hukum Melipat Moral

Analisis Konteks dan Konten, Mengapa RUU PKS Harus Segera Disahkan?

Dalam sebuah seri diskusi, seorang akademisi pernah mengucapkan bahwa perempuan sebagai proletarnya proletariat. Lebih lanjut diterangkan, bila si buruh lelaki diartikan sebagai seorang yang...

Rekonstruksi Rekrutmen Hakim

Indonesia secara konstitusional menjujung tinggi konsepsi negara hukum yang tertuang dalam Pasal 1 ayat (3) UUD NRI 1945. Hal ini merupakan tombak utama untuk...

Wujudkan Kembali Yogyakarta Sebagai City of Tolerance

Pagi itu saya terkejut ketika membaca postingan sebuah akun media sosial yang memberitakan peristiwa penyerangan dan penganiayaan terhadap pastur dan jemaat gereja St. Lidwina,...

Menyoal RUU Permusikan

Belakangan ini sedang ramai di media sosial soal RUU permusikan yang digagas oleh komisi X DPR RI. RUU ini menuai banyak kontra dari para...
ARIF BUDIMAN
Peneliti Muda, Penulis Lepas, Pemerhati Hukum, Sosial dan Agama Ketua III Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cab. DI.Yogyakarta. Kader Muda Nahdlatul Ulama.

Prilaku di luar batas Moral Kemanusiaan, seperti pengeroyokan dan main Hakim sendiri tidak hanya sering di lakukan oleh masyarakat dalam menindak setiap orang yang melakukan pelanggaran terhadap norma, etika dan Hukum. Akan tetapi, prilaku main hakim sendiri ternyata membuka tabir lain, sehingga juga dapat dilakukan oleh penegak Hukum negeri ini. Hal inilah, yang di lakukan oleh penegak Hukum Jaksa Kejari Kabupaten Musi Banyuasin (Kab.MUBA) Sumatera Selatan (SUMSEL) terhadap Zulfandi Effendi Anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sekaligus sopir Wakil Bupati Musi Rawas Utara. Atas kasus ini, banyak anggapan masyarakat bermunculan. Di satu sisi, Jaksa tidak akan melakukan tindakan tersebut jika tidak ada pemicu. Di sisi lain, meskipun korban pengeroyokan melakukan kesalahan tidak sewajarnya melakukan tindakan main hakim sendiri. Bagaimana prilaku ini, bisa terjadi di negara berdasarkan pancasila yang menjunjung tinggi nilai Moral dankemanusiaan. Sangat ironis.

Penegak hukum adalah tumpuan masyarakat dalam memperjuangkan hak dan keadilan. Sebagai publik pigur dalam penegakan hukum, secara Das sollen memberikan contoh kepada masyarakat dalam berprilaku baik sebagaimana setiap prilaku di atur dalam perundang-undangan dan peraturan lainnya. Prilaku main hakim meskipun secara spesifik tidak di atur didalam KUH Pidana, tetapi bukan berarti perbuatan tersebut tidak dapat dikenakan sanksi pidana sebab dapat dikenakan pasal 351 tentang pengeroyokan dan pasal 170 tentang kekerasan. Artinya main sendiri di negara hukum pancasila tidak dapat dibenarkan sekalipun pelakunya penegak hukum itu sendiri. Konsekuensi logis, maka jaksa tersebut dapat kenakan sanksi pidana berdasarkan pasal di atas.

Adanya kasus ini, terlepas siapa benar dan salah sangat tidak patut untuk dilakukan di negara Multikultur, Multi Etni, Multi Karakter. Terlebih negara yang berdasarkan Hukum Pancasila. Prilaku main hakim sendiri, merupakan prilaku yang didorong oleh rendahnya pendidikan Moral. Di akui atau tidak, kurangnya pengetahuan moral secara psikis mendorong setiap orang untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan dan sebagainya. Selain itu, lemahnya penegakan hukum sebagai pemicu main hakim sendiri semakin masif terjadi. Bagaimana dengan Penegak hukum yang main hakim sendiri?

Memang krisis moral di negeri ini begitu akut. Cita-cita negara yang mampu mewujudkan keadilan tersendat oleh faktor prilaku tak bermoral penegak hukum. Melihat Fenomena demikian, berharap keadilan di tegal meskipun langit runtuh ” Bagai Panggang Jauh Api” sehingga usulan pecat jaksa yang melakukan tindakan seperti ini sudah harus dilakukan. Bila tidak sampai kapan negeri ini, dapat mencapai cita keadilan dalam penegakan hukum.

Harapan lain, adanya revisi Undang-Undang No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia (“UU Kejaksaan”), karena syarat menjadi jaksa di atur di dalamnya. Revisi ini, lebih mengarah di masukannya suatu ketentuan seperti tes psikologis. Mengapa, ini menjadi syarat penting dalam pengangkatan jaksa karena psikologis seorang jaksa haruslah sehat rohaninya ”kejiwaanya” agar prilaku serupa tidak terjadi. Penulis mengindikasikan prilaku main hakim sendiri yang dilakukan seorang jaksa merupakan prilaku yang didorong oleh gangguan psikis.

Tindakan seperti ini sudah tidak mencerminkan nilai-nilai Pancasila sebagai Norma Dasar Fundamental Bernegara (staat fundamental norm), dan pandangan hidup. Padahal, pancasila di negeri ini sungguh Relevan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain bangsa berketuhanan, juga bangsa yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Pun demikian cita-cita Faunding Father agar negeri ini mampu mewujudkan keadilan, keadaban dan kemanusiaan. Sehingga, kita mengutuk keras prilaku yang tidak berprikemanusiaan dan prilaku tidak bermoral.

ARIF BUDIMAN
Peneliti Muda, Penulis Lepas, Pemerhati Hukum, Sosial dan Agama Ketua III Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cab. DI.Yogyakarta. Kader Muda Nahdlatul Ulama.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.