OUR NETWORK

Open House dan Silaturahmi Senyap

Demi menekan tersebarnya virus corona, Presiden RI, Joko Widodo, juga telah mengumumkan untuk tidak menggelar kunjungan silaturahmi. Bagitu juga dengan Wakil Presiden, KH. Ma’ruf Amin, juga tidak akan menggelar acara tahunan ini.
Foto sebelum covid, arsip penulis

Seperti biasanya, pada saat Hari Raya Idul Fitri, sejumlah pejabat negara menggelar acara Open House di kediamannya masing-masing. Acara gelar griya ini dimaksudkan sebagai ajang silaturrahmi antara pejabat itu sendiri dengan masyarakat sekitar. Dengan demikian, akan terjadi hubungan kekerabatan yang semakin dekat, sehingga antara pemerintah dan rakyat berkesalingan dalam membangun bangsa.

Terkait dengan virus pandemik, covid-19, beberapa pejabat negara –jauh-jauh hari sebelumnya– sudah memberitahukan kepada khalayak bahwa tidak akan lagi menggelar Open House atau gelar griya.

Demi menekan tersebarnya virus corona, Presiden RI, Joko Widodo, juga telah mengumumkan untuk tidak menggelar kunjungan silaturahmi. Bagitu juga dengan Wakil Presiden, KH. Ma’ruf Amin, juga tidak akan menggelar acara tahunan ini.

Muhammad Jusuf Kalla, mantan Wakil Preaiden (dua kali) juga memberi kabar bahwa tidak akan menggelar Open House. Pandemik virus covid-19 menjadi alasan kagiatan silaturrahmi ini tidak dilaksanakan. Sebab, sesuai protokoler WHO kita harus jaga jarak, Physical Distencing, Social Distencing, dan Pembatasan Sosial.

Tradisi Open House

Presiden RI Joko Widodo, sudah memastikan tidak akan menggelar acara Open House. Bahkan, kepada jajaran kabinet Indonesia Bersatu, Jokowi juga mewanti-wanti untuk tidak mengadakan gelar griya. Hal ini sebagai upaya untuk menekan penyebaran virus corona.

Open House adalah sebuah tradisi ala pejabat Indonesia. Pada hari-hari tertentu, biasanya pada hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), para pejabat (tidak semuanya) menggelar acara silaturrahmi untuk membangun kedekatan dengan rakyat dan masyarakat sekitar.

Open House atau disebut juga Gelar Griya (KBBI: pintu terbuka), sebagaimana dilansir oleh wikipedia.org sebuah acara yang diadakan di sebuah institusi di mana pintunya terbuka untuk umum agar orang dapat melihat-lihat institusi tersebut dan mempelajarinya.

Terkait dengan suasana lebaran, Gelar Griya dimaksudkan sebagai ajang silaturrahmi dengan masyarakat sekitar. Dengan demikian diharapkan terjadi hubungan komonikatif demi tercapainya pembangunan bangsa seutuhnya.

Terkait dengan silaturrahmi (menyambung kekerabatan) Rasulullah saw bersabda, “Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi”. (HR. Bukhari). Rahim (rahmi) mempunyai arti kasih sayang. Jadi silaturrahmi artinya menyambung kasih sayang, yaitu menghilangkan kekeruhan hati agar tidak ada dendam dan sakit hati (lagi).

Hadis lain menjelaskan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang senang diluaskan rezeqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi.”

Pejabat Tanpa Sekat

Open House yang merupakan kegiatan kekerabatan mempunyai hikmah yang sangat luas. Pejabat yang melaksanakan acara ini telah menghilangkan sekat atau jarak antar ia dan rakyat. Kegiatan ini memberikan nuansa keterbukaan, sehingga rakyat tidak merasa takut untuk memberikan kritik ketika pejabat tersebut membuat keputusan yang kurang bijak.

Begitupun dengan pejabat tersebut, memberikan seluas-luasnya kepada khalayak untuk membantu tercapainya cita-cita bangsa. Ajang silaturrahmi ini juga berdampak kepada kepercayaan rakyat yang semakin besar dan nyata. Tentu, harus dibarengi dengan kebijakan yang memihak kepada rakyat kecil.

Kedekatan rakyat dengan pejabat negara juga memberikan dampak yang signifikan terhadap nilai-nilai kepercayaan. Kepercayaan rakyat sangat dibutuhkan agar perjalanan perintah (pemerintahan) tanpa kendala dan mendapat dukungan besar dari semua kalangan. Rakyat pada dasarnya mempunyai peranan besar dalam pencapaian pembangunan bangsa.

Silaturahmi Tahunan

Open House atau Gelar Griya merupakan acara tahunan. Dalam waktu setahun sekali (Idul Fitri) masyarakat sekitar diberi kesempatan untuk berkunjung secara terbuka tanpa adanya kertas undangan. Di samping terjalin kedekatan (jarak), mereka juga (biasanya) mendapat bingkisan (angpao). Nilai bingkisan ini tidak terlalu besar, namun mempunyai arti tersendiri di dalam hati masing-masing.

Untuk tahun ini, Hari Raya Idul Fitri 1441 H., yang jatuh pada hari Minggu, tanggal 24 Mei 2020, sesuai keputusan Menteri Agam, Fachrul Rasi, tidak menyelenggarakan Open House. Untuk menekan tersebarnya virus corona, maka kegiatan tahunan ini (terpaksa) ditiadakan.

Namun, seperti yang diharapkan oleh Presiden Jokowi, silatirrahmi tetap bisa dilakukan dengan cara virtual. Memaksimalkan gadget yang kita punya, ajang berkunjung dapat dilakukan melalui berbagai aplikasi. Ini yang kita kenal dengan silaturrahmi senyap. Tanpa riuh gelak tawa handai tolan dan sanak serta kadang. Sunyi bersama gerak tari jemari untuk mengucap “Minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin.” 

Tentu saja hal seperti ini tidak sama dengan silaturrahmi secara langsung. Namun setidaknya ada sedikit pengobat rindu kepada keluarga jauh yang dibatasi oleh wabah pandemik. Tetap kita gaungkan lirik doa, “Taqabbalallhu minna wamingkum, Allahumma taqabbal ya Karim.”

Kita berharap bahwa dalam waktu dekat wabah pandemik segara berakhir. Kita dapat kembali beraktifitas secara normatif. Untuk saat ini kita harus bersabar karena diuji oleh Alla swt dengan adanya wabah virus covid-19.

Supaya sebaran virus ini tidak semakin liar, maka kita paruhi anjuran pemerimtah. Jaga jarak, memakai masker, physical distencing, sosial distencing, PSBB, dan cuci tangan serta selalu menjaga kebersihan. Wallahu A’lam!

Rusdi El Umar lahir dan besar di Sumenep, alumni PP Annuqayah, sebagai pengajar di SMP Negeri 1 Batang-Batang dan MTs. Darul Ulum Batuputih. Beberapa artikel sudah dimuat di mass media seperti Majalah MPA, Surabaya Pos, Banjarmasin Pos, Radar Banyuwangi, Majalah Edukasi, Radar Madura, dll. Beberapa buku tunggal dan antologi bersama juga sudah diterbitkan. Buku terakhir yang diterbitkan tunggal adalah antologi puisi “Setajam Rindu Abandira.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.