Minggu, Maret 7, 2021

Omong Kosong Orba dan Politisasi Swasembada

Syariat dalam Kristen

Pertanyaan-pertanyaan seperti “Kok kamu enak ya ibadah cuma seminggu sekali, “orang Kristen apa sih makanan yang haram?” dan yang paling sering “nggak ada puasa...

“2(A+C+H+R)” Penghasil Fisikawan Muda Indonesia yang Berkarakter

Seorang tokoh sufi bernama Asy Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Rahimahullah pernah berkata, “Aku lebih menghargai orang yang beradap daripada orang yang berilmu. Kalau hanya...

Revitalisasi Pasar Desa di Indonesia

Manusia telah mengenal dan melakukan kegiatan jual beli sejak mengenal peradaban sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan. Dalam kegiatan jual beli, keberadaan pasar merupakan salah satu...

Memecah Kebisuan Korban Kekerasan Seksual

Geoffrey Parrinder, dalam bukunya Teologi Seksual (2004) mengatakan, seks dan agama merupakan dua keprihatinan fundamental manusia. Keduanya sering kali dipertentangkan sebagai yang fisikal melawan...
Zufi Misbahus Surur
Peminat Kajian Humanisme dan Postkolonialisme.

Apa yang paling menyakitkan dari pada ditinggal pas lagi sayang-sayangnya? Iya, anda betul. Utopia jargon-jargon Orba.

Mari kita bicara, mari kita berdiskusi. Anda sekalian pasti pernah paling tidak satu kali dalam seumur hidup menyaksikan salah satu narasi visual Orba yakni film Penghiatanan G30S/PKI. Sebuah karya seni yang hampir tidak pernah terlewatkan dalam akomodasi waktu rezim Orde Baru.

Film yang hampir diputar empat kali dalam sebulan di TV nasional dan tentu dalam siaran-siaran radio. Bahkan melampaui jatah bermain dan liburan kami sebagai kanak-kanak yang hanya sekedar bermain layang-layang di belakang rumah, sawah, dan memancing belut di daerah aliran sungai Brantas. Saya ingat, waktu itu saya masih kelas empat Madrasah Ibtidaiyah yang berhaluan kanan-nasionalis.

Adalah Nugroho Notosusanto sang Movie maker, seorang yang lahir di pertengahan tahun 1931 yang sangat terobsesi dengan militerisme. Pada usia 14 tahun ia bergabung kedalam Tentara Pelajar yang dikenal juga sebagai Barikade ke-17 Tentara Nasional . Kalaupun pada waktu itu Golden Globe menjadi ajang bergengsi di negeri ini, mungkin beliau pasti mendapatkan penghargaan kategori sutradara terbaik yang anti produk menye-menye khas anak indie milenial dan menyingkirkan kolega-kolega-nya. Tapi tidak, ini Indonesia dan ini Orde Baru, bung!

Apa pesan moral yang mampu anda ingat sampai detik ini dari film itu? Kalau saya sendiri alih-alih bahagia dan tertawa justru saya dipertontonkan dengan kebejatan dan kekejian. Secara simbolis saya dituntut untuk jangan pernah sekali-kali mengenal apa itu hantu komunisme, ideologi, dan tentu tujuan-tujuan politiknya. Mereka biadab, psikopat, pemerkosa, anti-modernisme, anti-barat, anti-kemajuan dan ya, pembunuh kyai-kyai desa.

Saya tidak paham betul kenapa di usia yang masih pentil itu, harus menonton Tragic-Scene hitam putih dan terkesan merah darah. Iya, Orde Baru putih dan Komunisme hitam legam. Merah darah adalah ongkos peradaban. Culik-menculik sebagai cara untuk membungkam yang pada akhirnya memproduksi pamali kebudayaan dengan istilah dulitan agar anak-anak tak membangkang untuk pulang terlalu sore selesai bermain-main dan bergembira. Tembak-menembak sebagai ritual keseharian bak cowboy pemabuk di bar-bar pinggir jalan menenteng botol minuman cum senapan. Dan suara adzan magrib sebagai penutup cerita hari yang sungguh melelahkan.

Mungkin anda sekalian boleh untuk tidak setuju dengan cerita kanak-kanak saya. Anda boleh tidak sepakat, tapi juga anda tidak boleh untuk tidak adil terhadap diri sendiri. Anda boleh bertanya pada kakek-kakek anda, pada saudara kakek-kakek anda atau bahkan modin desa yang berusia semenjana di pelosok-pelosok nusantara. Bahwa Orde Baru itu ada, membabi buta, dan berlipat ganda.

Di beberapa media arus utama belakangan ini kita bisa menyaksikan para politisi kita yang sedang merasakan kembali sensasi Orba, utopia-utopianya dan cara-cara mereka untuk lahir kembali. Mereka seakan kembali terobsesi untuk hidup dengan cara Orba, dengan menggolrifikasi Swasembada yang menjadi senjata utama rezim totalitarian itu. Apa yang paling menyakitkan dari pernyataan-pernyataan mereka?

Saya sebagai generasi pasca-reformasi yang dituntut untuk menjadi beradab seakan lunglai dan lemas seketika. Bapak-bapak bangsa kita menyuruh anak-anak peradaban untuk tidak melupakan sejarah, seperti yang Soekarno gaungkan dengan Jasmerah-nya. Atau adagium keberadaban suatu bangsa itu diukur dari tingkat manusianya yang menghargai betul sejarah bangsanya.

Tapi, lagi-lagi politisi kita pandai bersilat lidah. Pandai untuk memainkan rumus-rumus kekuasaan bahwa tidak ada yang abadi dalam politik dan kehidupan, yang abadi adalah kepentingan. Alih-alih para politisi kita mengajari majikannya tentang keberadaba, justru mereka mempertontonkan belatung-belatung dalam comberan peradaban.

Upaya kelahiran dan hegemoni Orde Baru lantas coba dihidupkan kembali lewat jargon-jargon. Lewat platform-platform yang berbeda. Kalau dulu kita mungkin bisa menelisik sejarah dengan hati-hati dan bertanggung jawab. Lewat berlama-lama membaca tumpukan literasi basi dan berkumpul dengan sejawat “kanan-kiri” untuk sekedar membicarakan dikotomi hitam-putih dan bagiamana cara menikmati kopi yang baik. Saat ini, hal itu sudah usang dan bukan lagi menjadi komoditi politik paling goldy.

Dulu karya sastra dan juga sinema perak mungkin adalah salah satu medium paling handal untuk menyebarkan infomasi berskala besar tanpa perlu bercapek-capek ria untuk sekedar berdebat kusir dan menunggangi kuda.

Lewat media itu, glorifikasi keberhasilan rezim Orba dengan segala pencapaian keberhasilaannya mampu sekaligus disampaikan. Tidak ada yang mampu dari kita sekalian untuk hanya sekedar berkomentar dan acapkali membuang muka karena tidak setuju dengan segala kebohongan dan tipu daya. Lewat medium itu pula ideologi, politik, dan segala macam pengetahuan dapat sesegera disampaikan dan dilegitimasi.

Galtung dalam Peace by Peacufull Means: Peace and Conflict, Development and Civilization (1996), ada satu esai yang berjudul “Cultural Violence” menjelaskan bagaimana produk-produk budaya seperti ideologi, bahasa, agama, seni dan pengetahuan dapat digunakan untuk melegitimasi praktik  kekerasan baik yang dilakukan secara langsung (fisik) maupun struktural (sistem sosial).

Semua jenis represi dan eksploitasi yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap kelompok lainnya dikategorikan sebagai kekerasan struktural, yakni kekerasan yang tidak mencelakai atau membunuh melalui senjata atau bom, melainkan melalui struktur sosial yang menyebabkan kemiskinan, ketidakseimbangan ekonomi, atau ketidakadilan sosial dan politik .

Apa yang dikatakan Galtung adalah sebuah isyarat kepada kita, bahwa kekerasan dan tipu daya Orde Baru tidak hanya dilakukan melalui medium sepatu lars dan senapan-senapan semi otomatis usang khas militer dunia ketiga. Namun melalui doktrinasi, fragmentasi utopis informasi, isu sara,  dan kicauan-kicauan twitter.

Lihat langsung : https://twitter.com/TitiekSoeharto/status/1062590488820109312
https://twitter.com/TitiekSoeharto/status/1062590488820109312

Saya percaya dengan konsepsi Swasembada, tapi saya tidak akan pernah sekalipun percaya pada narasi tipu-daya. Lantas, apakah anda sekalian akan kembali pada romantisme sejarah manipulatif penuh darah saudara kita dan dengan gagah mengatakan kita bangsa Swasembada? Anda pasti gila.

PS : Visualiasi Gambar buatan sendiri.

Daftar Pustaka

Galtung, Johan. Cultural and Violence. Journal of Peace Reasearch, Vo, 27, No. 3, 1990.

___, ________. 1996. Peace by Peaceful Means: Peace and Conflict, Development and Civilization. London: Sage.

Herlambang, Wijaya. 2013. Kekerasan Budaya Pasca 1965. Yogyakarta: Marjin Kiri

McGregor, Katherine. Nugroho Notosusanto: The Legacy of a Historian in the Service of an Authoritarian Regime” dalam Mary S Zurbuchen, (ed.), Beginning to Remember: The Past in the Indonesian Present (Singapore University Press, 2005).

Zufi Misbahus Surur
Peminat Kajian Humanisme dan Postkolonialisme.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.