Minggu, Oktober 25, 2020

Oktober Bulan Pemuda

Kenapa Sih, Penolakan Pabrik Semen Harus Ricuh

Sampai dengan hari ini, saya masih belum paham. Apa sebenarnya yang membuat, aksi penolakan terhadap rencana pembangunan pabrik semen, di Kawasan bentang Karst Sangkulirang...

Pemerintahan, Kekuasaan, dan Kekerasan

Seringkali kita mendengar kata kekerasan dan kekuasaan, yang menjadi asumsi perbuatan buruk dalam hidup manusia. Namun, bukankah kekerasan dan kekuasaan diperlukan untuk mencapai kesetaraan...

UNESCO Masih Eurosentrik, Indonesia Menjadi Korbannya

Meski dipisahkan oleh Atlantik, gaung Black Lives Matter memiliki animo yang tidak kalah besar di kota-kota besar Eropa. Protes terhadap diskriminasi rasial menjadi topik...

Ramuan Pencegahan Kekerasaan Seksual

Bagi masyarakat awam, pada umumnya kekerasan seksual diidentikkan dengan pemerkosaan. Seiring dengan perkembangan zaman bentuk kekerasaan seksual  beraneka ragam. Terhitung sejak tahun 2008-2013 ada...
MK Ridwan
Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif, Awardee MAARIF Fellowship (MAF) MAARIF Institute for Culture and Humanity, Alumni Qur'anic Studies IAIN Salatiga

Setelah 22 Oktober diperingati Hari Santri Nasional (HSN) yang mayoritas para santri adalah kaum muda, kini pemuda Indonesia akan kembali menyambut salah satu sejarah paling penting bagi kelahiran bangsa Indonesia yaitu Hari Sumpah Pemuda (HSP) yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Cukuplah hal-hal ini bisa dijadikan apologi bahwa Oktober adalah bulan pemuda.

Pemuda adalah sosok yang selalu berpikir tentang perubahan. Pemuda adalah sosok pemikir yang selalu cepat dalam segala sesuatu tanpa memikirkan risiko apalagi tentang kegagalan. Sistemnya, pemuda selalu optimis pada tujuan keberhasilan dan bayangan akan kesuksesan dari sebuah rencana.

Inilah karakter kaum muda, yang selalu bertindak aktif dan responsif terhadap berbagai isu kebangsaan dan tidak berlama-lama dalam mengambil sebuah sikap dan keputusan. Mungkin ini sedikit bernada negatif di mata kaum tua yang menganggap bahwa pemuda adalah sosok yang labil dan gegabah dengan segala kecerobohannya.

Namun, sejarah telah mencatat berbagai peristiwa penting di mana pemuda dengan segala atribut pemikirannya memberikan kontribusi berharga bagi pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana sekarang ini. Misalnya, nasionalisme pertama kali lahir ketika sekelompok pemuda pada 28 Oktober 1928 dengan berbekal tekad dan keberanian yang tinggi secara bersama-sama mendeklarasikan spirit persatuan dengan konsekuensi menanggalkan segala atribut keegoan, kesukuan, keagamaan dan kedaerahan.

Hasilnya, peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda itu berhasil meyakinkan para pemuda sekaligus masyarakat Indonesia untuk bersatu dan bekerja sama dalam mengusahakan kemerdekaan yang masih berupa imajinasi.

Para pemuda sepenuhnya menyadari bahwa situasi keterjajahan hanya bisa dilawan dengan persatuan yang kokoh dan usaha-usaha sistematis serta berkelanjutan dalam menggalang kekuatan. Pemikiran pemuda yang selalu responsif atas segala permasalahan bangsa nyatanya menjadi penggerak yang paling penting bagi perubahan-perubahan signifikan di bangsa ini.

Kembali sejarah mencatat bagaimana heroisme kaum pemuda ketika menculik Soekarno dan Hatta pada peristiwa Rengasdengklok untuk mendesak penyegeraan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kaum tua yang cenderung banyak mempertimbangkan “ABC” dianggap lambat dan kurang progresif dalam mengambil peluang dan kebijakan.

Akhirnya, atas keberanian pemuda itulah, bangsa Indonesia dapat memproklamasikan kemerdekaan sebelum Belanda kembali datang untuk menjajah. Sistem berpikir yang akseleratif, progresif dan responsif lagi-lagi memberikan dampak yang signifikan bagi perkembangan sejarah bangsa Indonesia.

Ini bukan berarti bersikap euforia, justru ini merupakan refleksi kritis atas peran pemuda dalam panggung sejarah bangsa Indonesia. Tentu setiap periode zaman memiliki karakteristik dan tantangannya masing-masing.

Pemuda hari ini pun tidak bisa secara taken for granted meniru terhadap apa yang tercatat dalam sejarah. Pemuda di satu sisi harus bersikap bijak dan cerdas membaca situasi kondisi zaman. Maka diperlukan gerakan yang cocok dan relevan dengan segala karakteristiknya untuk konteks saat ini.

Jika diumpamakan, mungkin Tan Malaka, WR Supratman, Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, Syahrir, Soekarno, Hatta dan pemuda generasi abad 20 lainnya akan mengalami kesulitan-kesulitan yang sama dalam memberikan respon dan solusi jika mereka hidup di generasi abad 21.

Artinya, peristiwa Sumpah Pemuda menjadi tonggak sejarah kesadaran yang harus diinternalisasikan oleh setiap pemuda masa kini. Peristiwa heroisme Sumpah Pemuda maupun Rengasdengklok mungkin tidak akan terulang kembali, namun spirit perubahan dari peristiwa-peristiwa tersebut tidak akan pernah mati.

Pemuda Indonesia tumbuh berkembang sesuai konteks zaman. Peranan dan metode dalam memberikan kontribusinya pun beragam. Jika hari ini pemuda Indonesia dihadapkan pada kondisi di mana mereka cenderung apatis, lebih suka menghabiskan waktu di depan layar gawai, dan cenderung bersifat individuasi. Maka dibutuhkan satu tujuan bersama (common mission) dalam rangka merancang agenda perubahan bangsa ke arah yang lebih baik.

Spirit-spirit persatuan dan kolaborasi menjadi poin penting di era seperti sekarang ini. Kesadaran kolektivitas, penguasaan teknologi dan peningkatan kualitas moral, adalah senjata terbaik dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 yang penuh dengan disrupsi.

Akhirnya, sampai kapanpun, negeri ini, tidak akan pernah berhenti berharap pada kekuatan kaum muda Indonesia.

MK Ridwan
Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif, Awardee MAARIF Fellowship (MAF) MAARIF Institute for Culture and Humanity, Alumni Qur'anic Studies IAIN Salatiga
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.