Selasa, Maret 2, 2021

Oktober Bulan Pemuda

Gombal Ideologi: Coelho, Revolusi, dan Pilkada

Di arena kurusetra politik, panji-panji kemuliaan apa yang menjadi dalil kelayakan seorang individu atau kelompok dalam meraih kekuasaan? Apakah naluri tajam alamiahnya sebagai zoon...

Sistem Zonasi PPDB, Cocok Gak Sih untuk Kita? (1)

Setelah ramai-ramai pendaftaran PPDB beberapa waktu kemarin, sekolah-sekolah sudah memulai aktivitasnya kembali hampir 1 bulan lamanya. Guru kembali dengan setumpuk tugasnya dan murid kembali...

Jenderal Merah, Jenderal Hijau, dan Jenderal Merah Putih

LB Moerdani, Ali Moertopo dan Sudomo adalah 3 sekawan yang menjadi operator politik Soeharto yang paling ganas. Mereka sering dikelompokan dalam "jenderal-jenderal merah". Di...

Mengapa Orang Madura Agamanya Disebut NU?

Saya sebagai orang Madura awalnya juga kaget, mengapa agamanya orang Madura kok disebut NU. Padahal tidak ada agama NU yang ada agama Islam, Kristen,...
MK Ridwan
Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif, Awardee MAARIF Fellowship (MAF) MAARIF Institute for Culture and Humanity, Alumni Qur'anic Studies IAIN Salatiga

Setelah 22 Oktober diperingati Hari Santri Nasional (HSN) yang mayoritas para santri adalah kaum muda, kini pemuda Indonesia akan kembali menyambut salah satu sejarah paling penting bagi kelahiran bangsa Indonesia yaitu Hari Sumpah Pemuda (HSP) yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Cukuplah hal-hal ini bisa dijadikan apologi bahwa Oktober adalah bulan pemuda.

Pemuda adalah sosok yang selalu berpikir tentang perubahan. Pemuda adalah sosok pemikir yang selalu cepat dalam segala sesuatu tanpa memikirkan risiko apalagi tentang kegagalan. Sistemnya, pemuda selalu optimis pada tujuan keberhasilan dan bayangan akan kesuksesan dari sebuah rencana.

Inilah karakter kaum muda, yang selalu bertindak aktif dan responsif terhadap berbagai isu kebangsaan dan tidak berlama-lama dalam mengambil sebuah sikap dan keputusan. Mungkin ini sedikit bernada negatif di mata kaum tua yang menganggap bahwa pemuda adalah sosok yang labil dan gegabah dengan segala kecerobohannya.

Namun, sejarah telah mencatat berbagai peristiwa penting di mana pemuda dengan segala atribut pemikirannya memberikan kontribusi berharga bagi pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana sekarang ini. Misalnya, nasionalisme pertama kali lahir ketika sekelompok pemuda pada 28 Oktober 1928 dengan berbekal tekad dan keberanian yang tinggi secara bersama-sama mendeklarasikan spirit persatuan dengan konsekuensi menanggalkan segala atribut keegoan, kesukuan, keagamaan dan kedaerahan.

Hasilnya, peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda itu berhasil meyakinkan para pemuda sekaligus masyarakat Indonesia untuk bersatu dan bekerja sama dalam mengusahakan kemerdekaan yang masih berupa imajinasi.

Para pemuda sepenuhnya menyadari bahwa situasi keterjajahan hanya bisa dilawan dengan persatuan yang kokoh dan usaha-usaha sistematis serta berkelanjutan dalam menggalang kekuatan. Pemikiran pemuda yang selalu responsif atas segala permasalahan bangsa nyatanya menjadi penggerak yang paling penting bagi perubahan-perubahan signifikan di bangsa ini.

Kembali sejarah mencatat bagaimana heroisme kaum pemuda ketika menculik Soekarno dan Hatta pada peristiwa Rengasdengklok untuk mendesak penyegeraan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kaum tua yang cenderung banyak mempertimbangkan “ABC” dianggap lambat dan kurang progresif dalam mengambil peluang dan kebijakan.

Akhirnya, atas keberanian pemuda itulah, bangsa Indonesia dapat memproklamasikan kemerdekaan sebelum Belanda kembali datang untuk menjajah. Sistem berpikir yang akseleratif, progresif dan responsif lagi-lagi memberikan dampak yang signifikan bagi perkembangan sejarah bangsa Indonesia.

Ini bukan berarti bersikap euforia, justru ini merupakan refleksi kritis atas peran pemuda dalam panggung sejarah bangsa Indonesia. Tentu setiap periode zaman memiliki karakteristik dan tantangannya masing-masing.

Pemuda hari ini pun tidak bisa secara taken for granted meniru terhadap apa yang tercatat dalam sejarah. Pemuda di satu sisi harus bersikap bijak dan cerdas membaca situasi kondisi zaman. Maka diperlukan gerakan yang cocok dan relevan dengan segala karakteristiknya untuk konteks saat ini.

Jika diumpamakan, mungkin Tan Malaka, WR Supratman, Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, Syahrir, Soekarno, Hatta dan pemuda generasi abad 20 lainnya akan mengalami kesulitan-kesulitan yang sama dalam memberikan respon dan solusi jika mereka hidup di generasi abad 21.

Artinya, peristiwa Sumpah Pemuda menjadi tonggak sejarah kesadaran yang harus diinternalisasikan oleh setiap pemuda masa kini. Peristiwa heroisme Sumpah Pemuda maupun Rengasdengklok mungkin tidak akan terulang kembali, namun spirit perubahan dari peristiwa-peristiwa tersebut tidak akan pernah mati.

Pemuda Indonesia tumbuh berkembang sesuai konteks zaman. Peranan dan metode dalam memberikan kontribusinya pun beragam. Jika hari ini pemuda Indonesia dihadapkan pada kondisi di mana mereka cenderung apatis, lebih suka menghabiskan waktu di depan layar gawai, dan cenderung bersifat individuasi. Maka dibutuhkan satu tujuan bersama (common mission) dalam rangka merancang agenda perubahan bangsa ke arah yang lebih baik.

Spirit-spirit persatuan dan kolaborasi menjadi poin penting di era seperti sekarang ini. Kesadaran kolektivitas, penguasaan teknologi dan peningkatan kualitas moral, adalah senjata terbaik dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 yang penuh dengan disrupsi.

Akhirnya, sampai kapanpun, negeri ini, tidak akan pernah berhenti berharap pada kekuatan kaum muda Indonesia.

MK Ridwan
Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif, Awardee MAARIF Fellowship (MAF) MAARIF Institute for Culture and Humanity, Alumni Qur'anic Studies IAIN Salatiga
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.