Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Ocehan Fahri Hamzah Soal Aksi Teroris, Ngelantur!

Raden Saleh, Si Pelukis Aristokrat

De Kock, Panglima perang Belanda, akhirnya berhasil menangkap Pangeran Dipanagara. Dengan sikap penuh persahabatan dan rasa hormat ia berhasil memperdayai Dipanagara. Pangeran Jawa dan...

Mengutuk Israel, AS, dan Yahya

Umat Islam terlalu sering mengutuk Israel dan Amerika Serikat (AS) bahkan telah over dosis. Dalam kasus Palestina, mengutuk Israel sia-sia saja. Israel tidak memiliki...

Politik Ekonomi dalam Perencanaan Kota Masa Depan

Surabaya bakal memiliki kota baru yang disebut Singapore of Surabaya. Kota Bandung memiliki konsep kota masa depan yang dikenal dengan istilah Bandung Teknopolis. Sedangkan...

Pembangunan Tanpa Identitas di Jawa Barat

'Belajar dari kasus bandung dan Purwakarta'Akademisi sering mengatakan kalau 'Pembangunan yang tidak berpihak pada identitas dan Kebudayaan sama saja dengan mengasingkan Rakyatnya di tanah...
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Keberadaan sosok Fahri Hamzah dan Fadli Zon, ‘bagai pinang dibelah dua’. Dua elit parpol yang berkantor di Senayan ini, gayanya sangat mirip dan sulit untuk dibedakan. Keduanya sama-sama ngomong ngelantur, terkait aksi teroris yang belum lama ini meledakkan bom di tiga gereja Surabaya.

Dua orang ini memang tidak kembar identik secara fisik, tetapi mereka selalu kompak mengeluarkan pernyataan-pernyataan nyeleneh yang membuat rakyat geram dan sakit hati. Fahri yang konon kabarnya sudah dipecat dari PKS, ogah hengkang dari Senayan dan tetap menunjukkan eksistensinya dengan berbagai komentar-komentar ngaco ketika mengeritik pemerintah. Elit parpol PKS yang uring-uringan melihat kelakuan Fahri, menemui jalan buntu untuk mendepak Fahri dari kursi DPR.

Dalam akun twitternya yang diunggah, Rabu 16 Mei 2018 lalu, Fahri merespon soal aksi teroris di Surabaya.

@Fahrihamzah: Musuh kita adalah pemerintah yang gagal membuat kita bersaudara sebab agama tidak ada yg mengajarkan kebencian…ajaran kebencian datang dari khotbah mereka yang gagal mengelola negara…perhatikanlah…

Dua hari sebelum Fahri ngoceh soal bom Surabaya, Fadli sudah menyatakan keberatan jika pemerintah menjadikan DPR sebagai ‘kambing hitam’ terkait regulasi terorisme.”Jangan seolah-olah karena gagal mengatasi (terorisme), undang-undang yang disalahkan. Yang salah jelas pemerintah dan aparat keamanan yang gagal mengamankan masyarakat,” kata Fadli di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (14/5/2018).

Bukan sebuah kebetulan antara Fadli (Gerindra) dan Fahri (PKS) sama-sama berasal dari parpol oposisi dan substansi komentarnya soal aksi terorisme juga sama-sama menyalahkan pemerintah.

Nampaknya, antara Fahri dan Fadli ada semacam kesepakatan bersama untuk selalu duet dalam mengkritisi Pemerintah, walaupun hampir sebagian besar kritikannya tak bermutu dan menentang arus suara rakyat, terutama soal aksi bom bunuh diri di tiga gereja Surabaya.

Keduanya sampai saat ini, masih nyaman-nyaman saja berkomentar. Padahal, setiap kali mereka berkomentar selalu memicu kemarahan rakyat. Sayangnya lagi, ratusan anggota DPR lainnya terkesan diam saja, cuek dan apatis terhadap tindak-tanduk Fahri dan Fadli yang dinilai rakyat sudah melampaui ambang batasnya sebagai wakil rakyat.

Elit politik Gerindra dan PKS juga sampai detik ini tidak pernah memberikan semacam teguran sedikitpun terhadap dua kadernya ini. Akibatnya, baik Fahri maupun Fadli seolah-olah merasa komentar mereka merupakan suara resmi parpolnya. Dengan kata lain, suara Fadli Zon adalah suara Gerindra dan suara Fahri Hamzah adalah suara PKS.

Saya berharap untuk masa-masa mendatang, rakyat harus lebih teliti lagi ketika memilih wakilnya untuk duduk di kursi DPR. Jangan sampai bangsa ini dipimpin oleh wakil-wakil rakyat yang bisa saja bersifat oportunis, rakus kekuasaan, bahkan sifatnya seperti sampah yang bau dan menjijikkan.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada kedua politisi muda ini, rasa-rasanya Fahri dan Fadli diduga kuat sudah mulai kehilangan kendali diri dan melupakan sumpah jabatan sebagai wakil rakyat. Perhatiannya terhadap rakyat hilang ditelan hawa nafsu politik yang membabi buta.

Tak ada larangan anggota Dewan mengkritisi pemerintah karena memang itu salah satu fungsinya. Namun, kritik yang ngelantur dan ngawur justru bisa menjadi bom waktu yang akan merusak keutuhan bangsa. Kritik harus dilandasi etika dan sopan santun, fokus terhadap se buah kasus, mengutamakan kepentingan bangsa, negara dan rakyat. Model kritik yang santun inilah yang tidak dimiliki Fahri dan Fadli. Seharusnya, Fahri dan Fadli memberikan contoh beradab dalam berkomentar maupun mengeritik, agar publik merasa nyaman secara psikologis maupun sosiologis.

Sekali lagi saya ingin menyampaikan bahwa fungsi DPR adalah sebagai lembaga kontrol terhadap Pemerintah. Namun, harus juga dipahami bahwa mengontrol dan mengeritik pemerintah, terkait aksi bom bunuh diri di Surabaya dengan memakai alat ukur kepentingan politik parpol dan hanya bertujuan untuk merebut kekuasaan adalah sebuah kesalahan besar yang tidak bisa ditolerir.

Kenapa begitu? Karena anggota DPR adalah wakil rakyat dan digaji oleh uang rakyat. Jadi, sangat tidak beradab kalau seorang politisi bicara hanya untuk parpolnya dan mengabaikan kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Terus, apakah Anda masih percaya dengan ocehan Fahri dan Fadli? Itu semua terserah Anda.

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.