Kamis, Maret 4, 2021

Obrolan Jokowi dan Prabowo di Gerbong MRT [Satire]

Sulitnya Memahami Situasi Politik Kita

Kita tidak punya musuh bersama. Karena itulah kita saling memusuhi. Yang pada mulanya kawan, pada akhirnya jadi lawan. Takdir betapa tiada yang abadi dalam...

Musik Diambang Pilu

Musik sangat dekat dengan  masyarakat, entah itu pejabat, penjual gorengan hingga presiden republik ini pun mengakui bahwa dia menggemari musik dengan distorsi keras. Ya...

Perlukah Pekerja Rentan Ikut May Day?

Dalam memahami konteks perjuangan kaum buruh hari ini, perlu dipahami pentingnya momentum May day sebagai pembuka aspirasi bagi buruh untuk bersuara. Nasib buruh hari...

Apa Kabar Deradikalisasi Agama? Sudahkah Dirimu Selesai?

Fenomena radikalisme di Indonesia sudah ada sejak negeri ini masih kecil. Namun salah satu kondisi paling akut pernah terjadi pada tahun 2009, saat negeri...
Tri Joko Her Riadi
Jurnalis, tinggal di Bandung.

Pertemuan antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto, yang ditunggu-tunggu sekaligus didorong-dorong oleh sekian banyak orang, akhirnya terjadi juga. Janjian di Stasiun MRT Lebakbulus, kedua politisi yang bertarung dalam pemiihan presiden (pilpres) 2019 itu berada dalam satu gerbong menuju Senayan, Sabtu (13/7/2019) siang.

Jutaan warga berharap agar pertemuan ini merupakan sebuah rekonsiliasi yang menghapus keterbelahan bangsa selama musim pilpres. Ekspektasinya begitu tinggi. Jangan lagi ada orang yang memutus pertemanan hanya karena beda pilihan politik. Jangan lagi ada grup WhatsApp keluarga yang menendang keluar salah  satu anggotanya hanya karena beda kesukaan capres. Lebih jauh lagi, jangan lagi ada saling serang dengan fitnah dan hoaks.

Pendek kata, setelahdan Prabowo akhirnya bertemu, hidup bakal kembali normal. Semua kembali baik-baik saja. Rukun dengan keluarga, rukun dengan tetangga. Betapa mahapenting pertemuan dua orang ini!

Setelah menunjukkan ke Jokowi hangatan di hadapan warga dan awak media di Stasiun Lebakbulus, Jokowi dan Prabowo masuk ke gerbong MRT. Mereka punya waktu kurang dari 25 menit untuk berbicara empat mata tentang beragam persoalan yang sebagian di antaranya sudah berseliweran di tengah masyarakat.

Barangkali ada pembicaraan tentang kepulangan Rizieq Shihab dari Arab Saudi. Atau tentang peluang keterwakilan kubu Prabowo dalam kabinet Jokowi kelak. Siapa tahu?

Saya sendiri lebih senang membayangkan Jokowi dan Prabowo mendiskusikan sebuah masalah yang jauh lebih berat dan lebih serius dari itu. Masalah yang melibatkan hajat hidup orang banyak. Masalah yang sudah meneror hidup berbangsa dan bernegara dalam satu tahun terakhir. Apalagi kalau bukan pertikaian antara cebong dan kampret.

“Pak Prabowo pasti tahu, perselisihan antara cebong dan kampret ini sudah berlebihan, sudah mengkhawatirkan. Bangsa kita, masyarakat kita, terbelah dua,” demikian Jokowi menjadi yang pertama memulai percakapan, sama seperti ketika ia juga berinisiatif untuk segera bertemu dengan Prabowo ketika tensi politik memanas di tengah hitung cepat pascapemungutan suara.

“Ya saya dapat banyak laporan seperti itu juga, Pak Jokowi,” timpal Prabowo ringkas.

Jokowi mengangguk-angguk, sambil berdehem pelan.

“Bapak pernah coba-coba mencari informasi tentang itu di Google?” tanyanya.

“Oh Google… Yang online-online itu ya?” kata Prabowo.

“Betul Pak. Kalau kita ketik ‘cebong adalah’, yang muncul paling atas bukan informasi tentang anak kodok, tapi malah keterangan tentang cebonger yang merupakan nama sindirian untuk para pendukung saya. Itu di Wikipedia lho ya.”

“Wikipedia itu…?”

“Ya masih sama, Pak. Yang online-online itu juga.”

“Ah ya… Kalau kampret bagaimana, Pak?

“Sama saja. Yang muncul teratas ya nama sindirian untuk pendukung Bapak.”

Prabowo menghela nafas. Bekas komandan Kopassus itu melemparkan pandangan ke luar jendela kereta yang sedang melesat.

“Do we have the same results in English?” tanya sang pecinta kuda yang gagal menjadi presiden untuk kali kedua.

“Mmmm… maaf, bagaimana maksudnya ya Pak?” ujar mantan tukang kayu yang bakal segera dilantik sebagai presiden untuk kali kedua.

“Maksud saya, bagaimana kalau orang-orang luar negeri sana mencari arti kedua kata tersebut? Hasilnya sama juga?”

Jokowi buru-buru mengambil telepon genggam di saku celana hitamnya, lalu menyerahkannya ke rival yang baru saja ia kalahkan dalam sidang Mahkamah Konstitusi.

“Silakan Pak Prabowo buktikan sendiri,” katanya.

Prabowo mengetik dan mendapati hasil pencarian yang membuatnya menggeleng-gelengkan kepala. Ia menjumpai beragam artikel berita, termasuk yang berbahasa Inggris, yang membahas perseteruan antara cebong dan kampret.

“Sudah tidak sehat ini, sudah tidak sehat. Bisa jatuh martabat dan wibawa bangsa kita di mata dunia,” katanya berapi-api.

“Persis seperti itu jugalah kekhawatiran saya, Pak,” sambar Jokowi. “Kita harus segera mengakhirinya.”

“Saya sepakat, Pak Jokowi. Mulai sekarang tidak boleh lagi ada sebutan cebong dan kampret!” kata Prabowo.

“Sepakat!” balas Jokowi.

“Oh ya, selain imbauan kita ke masing-masing pendukung, Pak Jokowi sebagai presiden barangkali bisa juga menertibkan yang di online-online itu tadi,” ujar Prabowo.

“Bisa-bisa saja Pak. Nanti saya omongkan dengan Menkominfo.”

Keduanya tersenyum, berjabat tangan, lalu berpelukan erat.

Seolah tiba-tiba, kereta modern supercepat yang mengangkut kedua tokoh sudah berhenti di Stasiun Senayan. Di dalam konferensi pers, Jokowi dan Prabowo menyampaikan kesepakatan mahapenting yang mereka buat di sepanjang perjalanan. Mulai hari ini, tidak ada lagi cebong dan kampret!

Berita tentang kesepakatan ini bakal tersebar ke mana-mana. Ke akun-akun media sosial dan grup-grup percakapan. Semua orang bertepuk tangan, gembira. Pujian bertaburan. Mereka percaya, bangsa ini akhirnya terbebas dari sebuah penderitaan yang berkepanjangan. Teman yang putus disapa kembali. Semua anggota keluarga dimasukkan lagi ke grup WA.

Demikianlah saya membayangkan ujung drama rekonsiliasi yang telah menguras perhatian orang satu negeri. Tidak ada barter pemulangan seorang tersangka dari luar negeri. Tidak ada janji bagi-bagi jatah menteri. Demi keutuhan NKRI, cebong dan kampret harus mati!

Itu sudah.

Tri Joko Her Riadi
Jurnalis, tinggal di Bandung.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.