Selasa, Januari 19, 2021

Nyinyiran tentang Nasionalisme

Universitas Dikelola Organisasi Perempuan

Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April. Raden Ajeng Kartini lahir 21 April 1879. Pada masa itu banyak anak-anak seumuran RA. Kartini yang tidak...

Buwas Vs Enggar, Kisruh Kebijakan Impor Beras

“Buwas vs Enggar” menjadi bahasan yang hangat beberapa pekan yang lalu sebelum Bencana Donggala dan isu Hoax RS yang menjadi isu nasional. Hal ini terkait...

Dolar, Minyak, dan Fatamorgana

Banyak orang yang berpandangan bahwa orde baru mengantarkan Indonesia menjadi Macan Asia. Bahkan, dunia luar menjuluki Indonesia sebagai Miracle of Asia karena pertumbuhan ekonomi...

Upaya Pemerintah Menangani Eksternalitas Negatif: Sampah Plastik

Pemerintah Indonesia saat ini sedang berupaya sekuat tenaga mencarikan solusi atas banyaknya eksternalitas negatif khususnya sampah plastik. Hal ini direfleksikan dengan rencana terbitnya berbagai...
Sardjito Ibnuqoyyim
Penulis Misantropis

Sebenarnya tulisan ini membuat penulis ragu untuk menjadikannya sebagai bahan pembicaraan. Akan tetapi, kalau ide tak dikeluarkan maka pada akhirnya akan hilang begitu saja. Dan jika tidak hilang, maka akan jadi beban yang membusuk di kepala sang penulis.

Berangkat dari pendidikan, penulis merasa nasionalisme itu hanya diletakkan pada sekolah umum atau negeri saja. Namun, kenyataannya berlain pihak. Dilihat dari kenyataannya memang bermakna ironi. Pengangguran semakin meningkat tiap tahunnya, sedangkan negara hanya diam melihat hal itu.

Yang paling parah malah terjadi. Seperti kekerasan yang terjadi dalam sekolah-sekolah negeri. Guru melawan muridnya. Muridnya melawan guru. Bahkan, perang antar sekolah negeri.

Industri makin lama makin sulit dibendung. Negara seharusnya bisa membangkitkan semangat nasionalisme kita dengan mengajarkan dan memfasilitas rakyatnya secara bertahap. Namun, lagi-lagi ironi semakin buruk saja. Industri malah merenggut rakyat kaya saja karena itu merupakan lahan barang dagangannya.

Alhasil, macet di mana-mana karena kendaraan pribadi sulit untuk dihitung. Belum lagi nasib para sopir angkutan umum kembali direnggut dengan hadirnya transportasi berbasis online.

Politik juga makin lama makin ke arah keuntungan pribadi. Agama pun kadang kala kita temukan sebagai alatnya. Penulis meyakini agama tak seharusnya dipakai sebagai alat politik. Di dalam Islam, sulit untuk dibedakan antara agama dan politik. Pada akhirnya, agama mampu berdiri sendiri.

Buktinya, Islam semakin banyak penganutnya. Namun juga, mungkin ini adalah sebuah pertanyaan aneh bagi setiap kaum beragama: mengapa ketika kita hidup yang di mana semua mayoritas beragama yang sama justru muncul masalah? Dan juga, apakah agama sekarang sudah menjadi pemicu pemecah nasionalisme?

Nasionalisme itu sendiri memang tak bisa dipungkiri berbau kepentingan. Tapi kepentingan apa yang dibawa oleh nasionalisme itu mestinya bukanlah kepentingan yang menguntungkan diri sendiri. Kepentingan sosiallah yang harus dibawa di dalam nasionalisme. Kepentingan yang tidak hanya memperuntukkan diri sendiri.

Namun, ada juga yang memakai panji-panji nasionalisme agar bisa meraih keuntungan sendiri dan bukan sebuah identitas sosial. Di sinilah letak kepentingan itu. Jabatan seharusnya menanggung sebuah amanah yang bersifat sosial. Banyak yang memandang ketika kita memiliki jabatan tertinggi pada suatu organisasi maupun dalam sebuah lembaga, jabatan itu bisa menghasilkan banyak keuntungan terlebih lagi itu “masalah duit”.

Nasionalisme dalam dunia pendidikan

Nasionalisme dalam dunia pendidikan memang patut diperhatikan. Pertama-tama marilah kita melihatnya secara keseluruhan. Dana pendidikan gratis mungkin bisa dikatakan gagal, karena pada akhirnya banyak yang berhenti belajar di sekolah-sekolah umum. Sedangkan sekolah-sekolah swasta, mereka yang mampu dalam segi materi bisa merangkul pendidikan yang layak.

Bakunin pernah mengungkapkan bahwa kita tak boleh terlalu idealis dalam menjalankan sebuah tindakan. Maksudnya apa pun yang berlangsung dengan idealisme pada akhirnya bakalan sulit untuk menjalankan suatu tindakan yang tak dibantu oleh materi. Dana pendidikan gratis memang patut dijalankan namun jangan mengabaikan pekerjaan orang tua dari peserta didik tersebut.

Kita tak bisa mengabaikan fakta ini. Mereka yang tak mampu kadang kali harus mau tak mau ikut membantu orang tuanya sehingga itu menjadi penyebab mereka berhenti sekolah. Negara tak seharusnya melepaskan realitas ini. Di sisi lain, negara juga harus menjaga sekolah-sekolah umum dari kepentingan industri. Boleh memasukkan industri ke dunia pendidikan, asalkan melalui tahapan.

Nasionalisme dalam dunia politik

Politik kerap kali disamakan dengan kerakusan pribadi akan keuntungan. Seperti tak ada hal yang lain selain hal buruk dari politik. Yang pada akhirnya kita menemukan kesulitan untuk menyatukan yang politik kepada nasionalisme.

Jika memang ingin menyatukannya, ada baiknya melakukan proses doktrin yang di mana para politikus benar-benar mengejar jabatan karena kepentingan sosial. Faktor utama yang bisa memperbaiki hal ini adalah melalui pendidikan. Pendidikan dini terutama agar nasionalisme menjadi budaya.

Industri, agama, dan nasionalisme

Industri pada akhirnya sulit untuk dibendung. Industri memang perlu menganut pemahaman nasionalisme agar hasil dari industri ini bukan hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang memiliki duit saja melainkan pada orang-orang yang tak mampu.

Maksudnya, industri yang mengajarkan nasionalisme kepada orang-orang yang mampu akan berdampak tentunya pada orang yang mampu, tapi orang yang mampu ini sebagai hasilnya apa yang ia dapatkan dari industri tersebut, dia bisa terapkan kepada masyarakat yang tak memandang kelas.

Nah, agama dan nasionalisme merupakan dua identitas yang berbeda. Nasionalisme sifatnya secara geografis bersejarah dan agama sifatnya merujuk kepada kemanusiaan dan keilahian. Namun, saat ini agama sudah menjadi sesuatu yang sangat mendasar kita peluk, sehingga mudah diadukan. Nasionalisme seharusnya bisa menjadi solusi untuk mengatasi hal ini. Boleh berbeda agama tapi semangat nasionalisme tetap satu.

Sebagai kesimpulan, tulisan ini hanya mengingatkan kita pentingnya nasionalisme sebagai jiwa sosial kita. Kita masih bisa menyelamatkan nasionalisme dengan beragam cara entah itu melalui politik, agama, atau bahkan dalam pendidikan itu sendiri.

Industri pun semakin lama semakin membuat kita terpecah, tapi bagaimanakah jika industri itu berbasis nasionalis? Jika itu berbasis nasionalis, mungkin nasionalisme masih bisa diselamatkan. Semoga nyinyiran tentang nasionalisme ini bisa menjadi bahan pembelajaran kita. Semoga.

Sardjito Ibnuqoyyim
Penulis Misantropis
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.