Senin, April 12, 2021

Nyinyiran Abu Jahal dan Isra Mi’raj

Ketika “yang umum” diselingkuhi

Setiap pasangan di muka bumi ini pasti tak mau diselingkuhi. Bahkan poligami, status beristri lebih dari satu, juga saat ini menjadi topik hangat yang...

Dilema Intelektual Muslim dalam Revitalisasi Peradaban Tauhid

Pembahasan tentang peradaban memang tidak akan ada habisnya, khususnya peradaban Islam. Pada masanya, Islam pernah menjadi sistem aturan hidup yang memberi kesejahteraan, kebahagiaan serta...

Korupsi dan Pendidikan

Korupsi adalah fakta sistemik yang selalu menarik perhatian. Menjadi lebih menarik karena fenomena ini rupanya mengakar kuat dalam dinamika masyarakat Indonesia, menjadi sesuatu yang...

Mengenal Syekh Yusri dan Ajaran Tasawufnya (Bag. 2)

Membumikan Spirit Cinta dalam Beragama Tulisan bagian pertama klik di sini. Di antara pahatan terpenting dalam bangunan ajaran Tasawuf Syekh Yusri—sebagaimana ajaran para sufi pada umumnya—ialah...
Haris Fauzi
DUTA SHAMPO LAIN. Menyelesaikan studi magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.~

Mencemooh itulah yang dilakukan Abu Jahal dan kawan-kawannya ketika mendengar Nabi Muhammad baru saja menjalani isra’ dan mi’raj. Isra’ berarti berjalan pada waktu malam dari Mekah ke Yerusalem. Sedangkan mi’raj berarti naik ke langit (shidratul muntaha) untuk menerima perintah shalat.

Jarak yang jauh itu dilakukan oleh Nabi dalam waktu semalam. Akibat peristiwa yang terjadi tahun ke-10 pasca kenabian itu, Nabi dimusuhi oleh Abu Jahal dan kawan-kawannya. Mereka menganggap Nabi sebagai tukang tipu.

Apa yang mendorong mereka bersikap demikian? Mereka terbelenggu oleh dimensi dan logikanya sendiri. Bagi dimensi manusia, peristiwa itu memang tidak logis. Tapi, bagi dimensi Tuhan, hal itu logis dan mudah dilakukan.

Dalam peristiwa itu, Nabi meninggalkan dimensi manusia dan memasuki dimensi Tuhan. Karena telah beralih dimensi, Nabi menjalankan sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukan manusia, tapi mungkin bagi Tuhan.

Bagi Nabi sendiri, yang sulit dari peristiwa itu bukannya menjalani peristiwanya, tapi bagaimana menyampaikan berita besar itu pada penduduk Mekah. Diriwayatkan bahwa sepulang dari Masjidil Aqsha, pagi harinya Nabi duduk termenung di Masjidil Haram. Tiba-tiba Abu Jahal menghampirinya.

Terjadilah dialog hingga Abu Jahal sampai pada pertanyaan tentang pengalaman Muhammad semalam. Nabi menjawabnya dengan jujur dan Abu Jahal serta para pengikutnya mengolok-oloknya sembari mengabarkan peristiwa itu ke seluruh penjuru kota.

Berkat propaganda Abu Jahal itu, sebagian penduduk yang semula percaya pada Nabi berubah mengingkarinya dan ikut menganggapnya sebagai tukang sihir. Ketika berita itu sampai pada Abu Bakar, ia bersikap berbeda.

Ia berkata: “Jika Muhammad mengatakan ini, sesungguhnya ia benar! Aku memercayainya bahkan tentang apa yang lebih jauh dari itu….” Sejak saat itu, Abu Bakar mendapatkan gelar ash-Shiddiq. Berbeda dengan Abu Jahal, berkat keimanannya Abu Bakar tidak terbelenggu oleh logikanya sendiri.

Hingga saat ini, para ahli sepakat bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj bukanlah dijalani oleh ruh Muhammad semata, melainkan juga dengan jasadnya sekaligus. Apakah itu mungkin, padahal waktunya semalam? Bila kita terbelenggu oleh dimensi dan logika kemanusiaan kita, maka kita akan menjawabnya tidak mungkin.

Tapi bila kita memahaminya berdasarkan dimensi Tuhan, pastilah mungkin. Akal manusia tidak cukup kuat untuk memahami peristiwa besar itu. Iman merupakan perangkat satu-satunya untuk memahaminya.

Dalam keseharian kita, keterbatasan akal sering terjadi. Akal anak kecil, misalnya, pasti menolak saat orang tuanya mencegahnya dari makan permen. Padahal keinginan orang tua itu benar. Mengapa si anak menolak? Karena akalnya belum bisa menangkap kebenaran.

Kesulitan dan Hikmah

Terdapat dua hikmah yang bisa diambil dari peristiwa besar itu. Pertama,manusia perlu menggunakan akal sebatas proporsinya. Kita yang hidup lima belas abad setelah peristiwa itu, belum bisa membuktikan dengan akal kita bahwa peristiwa itu memang logis.

Logika kita tidak mampu menjelaskan bagaimana Nabi menempuh jarak yang hampir tak terhingga dalam waktu semalam. Di manakah Shidratul Muntaha yang terletak di langit ketujuh itu? Ini semua menunjukkan bahwa akal manusia ada batasnya.

Oleh karena itu manusia perlu menggunakannya sesuai dengan proporsinya. Bila akal manusia telah tidak mampu, maka iman bisa memberikan jalan keluar. Sesuatu yang tidak masuk akal, bukan berarti pasti tiada.

Kedua, jangan putus asa. Dibalik kesulitan pasti ada peluang harapan. Mengapa Allah memberikan tumpangan gratis kepada Nabi untuk berkunjung ke Shidratul Muntaha? Selain untuk memberinya hadiah juga untuk menghiburnya setelah dirundung kesedihan bertubi-tubi. Sebelum di-isra’ mi’raj-kan, Nabi mencoba hijrah ke Thaif, namun ditolak para pembesar Thaif.

Nabi juga ditinggal wafat pamannya, Abu Thalib, dan istrinya, Khadijah, yang selalu rajin membelanya saat tekanan kafir Quraysh datang. Semua itu melukai jiwa Nabi, tapi Nabi tak pernah putus asa.

Sebagai bangsa yang tengah dirundung malang akibat krisis berkepanjangan, kita harus yakin bahwa setelah semua kesulitan ini berlalupasti muncul hikmah.

Peristiwa isra’ mi’raj mengajarkan bahwa tak ada kesedihan yang tak bisa diobati, tak ada kebuntuan yang tanpa solusi. Wahai saudaraku, pupuklah harapan.

Haris Fauzi
DUTA SHAMPO LAIN. Menyelesaikan studi magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.~
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.