OUR NETWORK

Nyinyiran Abu Jahal dan Isra Mi’raj

Akal manusia tidak cukup kuat untuk memahami peristiwa besar itu. Iman merupakan perangkat satu-satunya untuk memahaminya.

Mencemooh itulah yang dilakukan Abu Jahal dan kawan-kawannya ketika mendengar Nabi Muhammad baru saja menjalani isra’ dan mi’raj. Isra’ berarti berjalan pada waktu malam dari Mekah ke Yerusalem. Sedangkan mi’raj berarti naik ke langit (shidratul muntaha) untuk menerima perintah shalat.

Jarak yang jauh itu dilakukan oleh Nabi dalam waktu semalam. Akibat peristiwa yang terjadi tahun ke-10 pasca kenabian itu, Nabi dimusuhi oleh Abu Jahal dan kawan-kawannya. Mereka menganggap Nabi sebagai tukang tipu.

Apa yang mendorong mereka bersikap demikian? Mereka terbelenggu oleh dimensi dan logikanya sendiri. Bagi dimensi manusia, peristiwa itu memang tidak logis. Tapi, bagi dimensi Tuhan, hal itu logis dan mudah dilakukan.

Dalam peristiwa itu, Nabi meninggalkan dimensi manusia dan memasuki dimensi Tuhan. Karena telah beralih dimensi, Nabi menjalankan sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukan manusia, tapi mungkin bagi Tuhan.

Bagi Nabi sendiri, yang sulit dari peristiwa itu bukannya menjalani peristiwanya, tapi bagaimana menyampaikan berita besar itu pada penduduk Mekah. Diriwayatkan bahwa sepulang dari Masjidil Aqsha, pagi harinya Nabi duduk termenung di Masjidil Haram. Tiba-tiba Abu Jahal menghampirinya.

Terjadilah dialog hingga Abu Jahal sampai pada pertanyaan tentang pengalaman Muhammad semalam. Nabi menjawabnya dengan jujur dan Abu Jahal serta para pengikutnya mengolok-oloknya sembari mengabarkan peristiwa itu ke seluruh penjuru kota.

Berkat propaganda Abu Jahal itu, sebagian penduduk yang semula percaya pada Nabi berubah mengingkarinya dan ikut menganggapnya sebagai tukang sihir. Ketika berita itu sampai pada Abu Bakar, ia bersikap berbeda.

Ia berkata: “Jika Muhammad mengatakan ini, sesungguhnya ia benar! Aku memercayainya bahkan tentang apa yang lebih jauh dari itu….” Sejak saat itu, Abu Bakar mendapatkan gelar ash-Shiddiq. Berbeda dengan Abu Jahal, berkat keimanannya Abu Bakar tidak terbelenggu oleh logikanya sendiri.

Hingga saat ini, para ahli sepakat bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj bukanlah dijalani oleh ruh Muhammad semata, melainkan juga dengan jasadnya sekaligus. Apakah itu mungkin, padahal waktunya semalam? Bila kita terbelenggu oleh dimensi dan logika kemanusiaan kita, maka kita akan menjawabnya tidak mungkin.

Tapi bila kita memahaminya berdasarkan dimensi Tuhan, pastilah mungkin. Akal manusia tidak cukup kuat untuk memahami peristiwa besar itu. Iman merupakan perangkat satu-satunya untuk memahaminya.

Dalam keseharian kita, keterbatasan akal sering terjadi. Akal anak kecil, misalnya, pasti menolak saat orang tuanya mencegahnya dari makan permen. Padahal keinginan orang tua itu benar. Mengapa si anak menolak? Karena akalnya belum bisa menangkap kebenaran.

Kesulitan dan Hikmah

Terdapat dua hikmah yang bisa diambil dari peristiwa besar itu. Pertama,manusia perlu menggunakan akal sebatas proporsinya. Kita yang hidup lima belas abad setelah peristiwa itu, belum bisa membuktikan dengan akal kita bahwa peristiwa itu memang logis.

Logika kita tidak mampu menjelaskan bagaimana Nabi menempuh jarak yang hampir tak terhingga dalam waktu semalam. Di manakah Shidratul Muntaha yang terletak di langit ketujuh itu? Ini semua menunjukkan bahwa akal manusia ada batasnya.

Oleh karena itu manusia perlu menggunakannya sesuai dengan proporsinya. Bila akal manusia telah tidak mampu, maka iman bisa memberikan jalan keluar. Sesuatu yang tidak masuk akal, bukan berarti pasti tiada.

Kedua, jangan putus asa. Dibalik kesulitan pasti ada peluang harapan. Mengapa Allah memberikan tumpangan gratis kepada Nabi untuk berkunjung ke Shidratul Muntaha? Selain untuk memberinya hadiah juga untuk menghiburnya setelah dirundung kesedihan bertubi-tubi. Sebelum di-isra’ mi’raj-kan, Nabi mencoba hijrah ke Thaif, namun ditolak para pembesar Thaif.

Nabi juga ditinggal wafat pamannya, Abu Thalib, dan istrinya, Khadijah, yang selalu rajin membelanya saat tekanan kafir Quraysh datang. Semua itu melukai jiwa Nabi, tapi Nabi tak pernah putus asa.

Sebagai bangsa yang tengah dirundung malang akibat krisis berkepanjangan, kita harus yakin bahwa setelah semua kesulitan ini berlalupasti muncul hikmah.

Peristiwa isra’ mi’raj mengajarkan bahwa tak ada kesedihan yang tak bisa diobati, tak ada kebuntuan yang tanpa solusi. Wahai saudaraku, pupuklah harapan.

Blogger Partikelir, Alumni di UIN Walisongo Semarang Jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…