Kamis, Maret 4, 2021

Nyai Walidah dan Tren Jilbab

Wajah Seram Senayan

Sidang Paripurna DPR bersama Pemerintah akhirnya mengesahkan revisi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR,DPR,DPD, dan DPRD. Revisi yang pada akhirnya menimbulkan perdebatan banyak...

Disinformasi Sebagai Destruksi

Hoaks, yang kadang dikemas seolah tindakan politik oposisional, silih berganti menghasilkan gejolak sosial. Tidak berhasil menggerus dukungan lawan, penyebarluasan hoaks potensial mendelegitimasi Pemilu. Penyebarluasan...

Ancaman Profesi Hukum di Era Digital

Perkembangan perdagangan internasional mulai bergeser dari kiblat perdagangan barang ke perdagangan jasa. Perubahan ini ditandai dengan bermunculannya start up di banyak negara. Cina dan...

Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pada 6-9 Februari 2020 telah melaksanakan Tanwir yang ke XXVIII. Musyawarah tertinggi setelah Muktamar ini, berhasil dan sukses di laksanakan....
Ahmad Fahrizal Azizhttp://www.insight-blitar.my.id
Penikmat Sejarah, Tinggal di Blitar

Sejak tayang film biopik Nyai Ahmad Dahlan, bermunculan juga jilbab tren Nyai Dahlan. Jilbab yang juga melekat dalam foto resmi atau lukisan Nyai Dahlan. Jilbab yang pada waktu itu nampak berbeda, dibandingkan jilbab kebanyakan. Jilbab tersebut kemudian menjadi ciri khas para anggota Aisyiyah awal-awal berdirinya, termasuk digunakan oleh Siti Maryati ketika berorasi.

Bersama Kyai Ahmad Dahlan, Nyai Walidah mengelola bisnis batik. Jika era sekarang, akan disebut sebagai pengusaha fashion dengan berbagai kreatifitasnya. Bisa jadi jilbab yang dikenakan Nyai Walidah ketika kongres ke-15 Muhammadiyah di Surabaya kala itu, yang kemudian menjadi ikon, memang sengaja didesain khusus, mengingat latar belakangnya sebagai pengusaha dibidang fashion.

Namun “jilbab ikonik” tersebut sepertinya hanya dikenakan ketika acara-acara resmi. Kesehariannya, Nyai Walidah hanya mengenakan jilbab yang semacam kain selempang. Persepsi tentang jilbab, sebagai sebuah pakaian, pada zaman itu sepertinya lebih sederhana dibandingkan saat ini. Apalagi, ketika brand “jilbab syar’i” menjadi trend, yang mana panjang kainnya bisa sampai siku dan lutut.

Tidak saja Nyai Walidah, namun Istri KH. Hasyim Asya’ri dan sederet perempuan Muslim, pejuang dan sebagainya, pada saat itu memang terbiasa mengenakan busana khas daerah masing-masing. Kalau saat ini, nampak juga pada keluarga Alm. Abdurrahman Wahid, Quraish Shihab dan sederet tokoh Islam terkemuka lainnya.

Bisa jadi karena variasi fashion yang tidak sebanyak saat ini, bisa jadi pula bahwa jilbab dipandang lebih substansial, ketimbang hanya sekedar pakaian. Bahwa ada pandangan yang menyatakan jilbab tidak identik dengan pakaian saja, ini sejalan juga dengan pemahaman fiqiyah yang sekurang-kurangnya bersumber dari empat Imam Mahzab.

Aurat sendiri adalah bagian tubuh yang wajib ditutupi. Sebab jika tidak, ia bisa menimbulkan fitnah atau hal-hal buruk lainnya yang menjurus pada dosa. Perempuan dan Lelaki memiliki batasan aurat yang berbeda. Aurat perempuan lebih ketat, Imam Hanafi, Syafii dan Hambali nampak sependapat bahwa aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah, telapak tangan, dan kaki. Sementara Imam Maliki membagi antara aurat berat (Mughaladzah) dan aurat ringan (Mukhaffafah).

Sekujur tangan dan tepian rambut bagi Imam Maliki adalah aurat ringan. Meski begitu, dalam melaksanakan shalat tetap wajib menutupi seluruh aurat. Imam Maliki pun juga mengatakan, meskipun itu aurat ringan, kalau khawatir bisa menimbulkan syahwat, maka sebaiknya ditutupi. Semestinya, dalam konteks ini berlaku juga untuk laki-laki, dimana batasan aurat laki-laki hanya pusar sampai bawah lutut.

Variasi fiqh tersebut juga memunculkan beragam persepsi, terutama dalam menggunakan jilbab. Maka sekilas kita bertanya, kenapa orang terdahulu, sekalipun ia seorang Nyai, nampak begitu sederhana dalam berjilbab, bahkan hanya sekedar kain yang ditudungkan, bagian tepi rambutnya masih terlihat. Termasuk Nyai Walidah, termasuk juga Nyai Kapu (Istri KH. Hasyim Asya’ri).

Sebelum kemudian kita saling menyalahkan, bisa kita pahami barangkali fiqh yang digunakan sejalan dengan Malikiyah, yang didasarkan pada  QS. An-Nuur :31 bahwa perempuan dilarang menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Perbedaan semacam itu wajar saja terjadi, ditengah tafsir dan fiqh yang bervariasi. Termasuk ketika Imam Hanafi menyarankan untuk menutup wajah (bercadar), bukan karena wajah itu aurat, tapi ditakutkan memicu syahwat.

Namun secara bahasa, aurat berarti sesuatu yang terbuka, tidak tertutup, kemaluan, telanjang, aib dan cacat. Itu berarti, secara lebih luas, aurat tidak saja bagian tubuh, namun juga sisi lain, seperti perilaku yang bisa menimbulkan aib dan rasa malu dihadapan Tuhan dan masyarakat. Menutup aurat bisa bermakna juga berperilaku baik.

Namun sebagai sebuah mode fashion, tentu perempuan punya hak untuk mengenakan jilbab model apapun, bahkan jika itu berkaitan dengan pemahaman fiqh yang dianut. Tidak ada siapapun yang berhak melarang. Yang terpenting adalah, bagaimana pesan universal tokoh-tokoh perempuan Muslim zaman itu, termasuk Nyai Walidah diantaranya, tidak direduksi hanya sekedar simbol-simbol.

Jilbab Kehidupan

Bahwa ciri khas Muslimah yang kaffah ialah berjilbab, adalah hal yang tidak bisa dibantah. Namun ketika jilbab hanya dikhususkan sekedar simbol, ini yang perlu dipersoalkan. Sebagaimana respon sebagian warganet yang nampak permisif dengan kasus First Travel (FT), hanya karena salah satu bosnya mengenakan jilbab dengan beragam mode fashion terkini, maka jamaah yang dirugikan diminta mengikhlaskan dan memaafkan saja.

Pemikiran semacam ini jelas menggelisahkan nalar keberagamaan kita. Bahwa secara simbol bos FT memang berpakaian tertutup khas Muslimah, tapi secara substansial ia telah menciptakan aib (auratnya) yang akhirnya terlihat oleh publik. Lantas bagaimana jika itu adalah aurat yang sebenarnya? Bukan sekedar bagian tubuh? Sebab kalau hanya menutup bagian tubuh, siapapun asal memiliki uang, bisa melakukannya, bahkan berganti-ganti mode.

Pada sisi yang lain, jilbab sebenarnya juga memberikan ketenangan. Ini terlihat ketika mereka yang terjerat hukum, yang kesehariannya tidak berjilbab, mendadak berjilbab, meski hanya jilbab selempang sederhana. Ada dahaga spiritual yang ia reguk, meski banyak yang berprasangka, bahwa itu hanya untuk menutup aib. Lalu bagaimana dengan mereka yang berjilbab, namun hanya menjadikannya sebatas fashion?

Sangat menggelisahkan pula ketika sosok Nyai Walidah yang saat ini diperbincangkan, namun yang ditangkap dari sosoknya hanya sebatas trend jilbab saja. Hal lain, sebagai pejuang, pembela hak perempuan, hak anak-anak atas pendidikan, pemimpin gerakan perempuan, dan istri yang setia, harus juga ditangkap. Keluasan ilmunya, sehingga orang berbondong-bondong untuk belajar dengannya, jangan juga dilupakan. Wallohu’alam

Blitar, 25 September 2017

 

Ahmad Fahrizal Azizhttp://www.insight-blitar.my.id
Penikmat Sejarah, Tinggal di Blitar
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.