Minggu, Maret 7, 2021

Melawan Kejahatan Kemanusiaan

Menakar Kekuatan Ahok Dalam Film A Man Called Ahok

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) Tokoh politisi amat tegas yang pernah memimpin jakarta selama dua tahun lebih dengan berbagai perkembangan pembangunan. Karakter ketegasan Ahok membawa...

Impor Beras yang (Tak) Waras

Beras adalah kebutuhan primer manusia. Dari beras tersebut banyak olahan makanan yang dapat dibuat sebagai makanan pokok. Beras (nasi) terus diupayakan agar dapat dikonsumsi...

Film Ramah Anak

Saya seringkali mengurungkan niat untuk pergi ke bioskop bersama keluarga karena mempertimbangan kedua anak saya yang masih berusia di bawah enam tahun. Karena sampai...

Demokrasi Kita: Pagan atau Dialektis?

Pada awal 2018 yang lalu detik.com meliput ribuan warga desa Dermolo, Jepara yang menggelar doa lintas agama sambil berharap tidak ada lagi perpecahan saat...

Kekerasan dalam bentuk apapun tidak boleh dibiarkan. Kekerasan hanya dapat dijelaskan di dalam negara yang barbar, tak memiliki peradaban yang halus dan tidak memiliki rasa kemanusiaan. Dan sejauh sebuah bangsa mengakui nilai-nilai kemanusiaan, sejauh itu pula kekerasan adalah barang yang haram yang tak boleh tampak sedikit pun.

Komitmen dari pernyataan ini tegas dalam diri Puan Maharani. Dia mengutuk kekerasan dalam bentuk dan kekerasan kepada siapa pun. Kekerasan yang terutama saat ini masih rentan terjadi adalah kepada perempuan dan anak-anak. Persoalan perlakuan terhadap perempuan dan anak selama ini memang selalu menjadi persoalan yang disoroti oleh berbagai pihak. Perlakuan kurang baik memang selalu menimpa perempuan dan anak. Dua mahluk ini seolah mahluk yang begitu lemah. Mereka sering jadi korban orang-orang jahat. Dan oleh sebab itu, perlindungan kepada mereka menjadi suatu kemestian.

Menyikapi persoalan ini, Puan Maharani tidak diam. Sebagai tugas kemanusiaannya dan juga tugas melayani seluruh rakyat Indonesia, dia mengambil langkah tegas. Perlakuan atas perempuan dan anak-anak dalam bentuk kekerasan atau pelecehan adalah kejahatan kemanusiaan. Tidak boleh dibiarkan. Semua orang yang berhati dan menyadari persoalan ini pasti mengiyakan.

Apa yang ditegaskan oleh Puan Maharani untuk mengentaskan persoalan ini? Langkah hukum yang tegas adalah kunci utama. Puan menegaskan agar hukum benar-benar bisa ditegakkan kepada pelaku kekerasan ini. Berbagai upaya ketegasan hukum atas segala tindakan seperti ini harus ditingkatkan.

Perlakuan kekerasan sungguh tidak menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Hukum seberat-beratnya. Perlakuan seperti ini – kejahatan atas perempuan dan anak – harus benar-benar bisa diakhiri. Kita tak ingin mendapati berbagai kenyataan masih banyaknya kejahatan seperti ini. Betapa malunya, tentu saja, negara seperti ini yang masih dipenuhi oleh berbagai bentuk kejahatan kemanusiaan seperti ini.

Tetapi selain menegaskan pentingnya ketegasan hukum, Puan Maharani berbicara tentang bagaimana menyembuhkan korban yang traumatis akibat menjadi korban kekerasan? Puan Maharani melakukan langkah-langkah layanan rehabilitasi. Para korban kejahatan ini harus dikembalikan kesehatan mentalnya seperti semula. Mereka harus dibebaskan dari kungkungan trauma akibat kejahatan yang menimpanya. Maka sekali lagi, langkah-langkah jenius untuk mengembalikan mereka sebagaimana awalnya, menjadi manusia yang kembali normal, mutlak diperlukan.

Maka melalui Deputi bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak, Sujatmiko, langkah-langkah diambil dalam sebuah rapat koordinasi. Yang menjadi bahasan antara lain peningkatan layanan rehabilitas sosial, pemulangan dan reintegrasi sosial. Pembahasan ini sejalan dengan UU 21 Tahun 2007 pasal 51 yang menegaskan bahwa korban berhak memperoleh rehabilitasi sosial dari pemerintah apabila yang bersangkutan mengalami penderitaan baik fisik maupun psikis akibat tindak pidana perdagangan orang. (kemenkopmk.go.id, 31/07/2017).

Soal-soal yang dibicarakan dalam rapat itu antara lain bagaimana segera menyelesaikan persoalan teknis. Misalnya, belum semua daerah ada Pusat Pelayanan Terpadu untuk TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang). Persoalan lainnya adalah terbatasnya rumah perlindungan bagi korban TPPO, masih lemahnya kapasitas SDM dalam pelayanan korban TPPO, dan beberapa persoalan lain (kemenkopmk.go.id).

Tentu ini tidak boleh menerbitkan pesimisme. Komitmen untuk memerangi kejahatan kemanusiaan terus ditingkatkan. Kendala-kendala teknis perlu terus diperbaiki dan ditingkatkan pelayanannya. Sujatmiko memaparkan bahwa sub gugus tugas rehabilitasi sosial, pemulangan, dan reintegrasi sosial telah diintegrasikan untuk pengembangan rumah perlindungan sosial anak/perempuan, pusat krisis/trauma, standarisasi sistem repatriasi, rehabilitasi sosial dan reintegrasi, pengembangan kapasitas, pengalokasian anggaran, monitoring dan evaluasi serta pembinaan (kemenko.go.id).

Puan Maharani beserta jajaran kementerian yang lain yang memiliki konsentrasi di bidang kemanusiaan ini terus bekerja. Masukan demi masukan dari lembaga-lembaga yang memiliki konsen di bidang ini tentu sangat penting. Tokoh-tokoh pakar dan profesional sudah seharusnya turut memberi masukan demi meningkatkan pelayanan bagi korban kemanusiaan ini. Tak kalah penting pencegahan perlu terus ditingkatkan.

 Puan mengatakan dengan tegaskan: bekerja untuk manusia adalah suatu kemuliaan. Berbekal keteguhan moral itu, kerja-kerja bermartabat untuk kemanusiaan terus meningkat.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.