Minggu, Oktober 25, 2020

Novel Baswedan, Bintang Emon, dan Payahnya Hukum di Indonesia

Ahok Belum Selesai!

 "Tak ada manusia yang bisa masuk dua kali di sungai yang sama" Herakleitos Jika mengacu persidangan normatif, persoalan kasus Basuki Tjahaja Purnama sudah sah bersalah atas...

Indonesia Darurat Akan Pelecehan Seksual

Tanpa di sadari yang namanya perilaku negatif terus bermunculan, yang mana perilaku tersebut tidak di imbangi dengan perilaku positif. Dari waktu ke waktu pola...

Melacak Inferioritas Rasial Bangsa Kita dari Orientalisme

Masih segar di ingatan kita bahwa media-media arus utama beberapa waktu lalu “membombardir” linimasa  masyarakat digital dengan komodifikasi pernikahan lintas-ras antara surfer asal Magelang...

Dilema Empati Mahasiswa

Dalam sebuah video berdurasi kurang dari semenit, tampak seorang pria penyandang disabilitas ditarik-tarik tasnya oleh empat mahasiswa di Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta. Pria berkebutuhan...
Gigih Imanadi
Santri Kalong di Bentala Tamaddun Nusantara.

Banyak hal yang ganjil dari babak akhir kasus penyiraman air keras terhadap Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan. Mulai dari lamanya proses hukum, unsur “tidak sengaja”, hingga rendahnya masa hukuman yang diterima oleh pelaku Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette.

Putusan Jaksa terhadap dua anggota Kepolisian itu seolah merendahkan nalar berpikir dan mencederai akal sehat masyrakat, terutama kelas menengah terdidik, kita lalu bertanya, bukankah hukum dibentuk untuk menghasilkan justice atau keadilan? Tapi yang tak boleh luput dari kesadaran kita bahwa dibalik meja hukum yang bekerja adalah uang atau iming-iming jabatan.

Itulah jawaban mengapa hukum sering berakhir di tempat yang salah. Dalam hal ini, kita patut menduga, barangkali perangkat hukum yang mengurusi kasus Novel Baswedan “tidak sengaja” melenceng dari sumpah kejujuran profesi yang tempo hari mereka ucapkan di bawah kitab suci dan atas nama Tuhan.

Kasus Novel Baswedan tersebut kemudian memancing reaksi pelbagai pihak, di sosial media, warganet ramai-ramai protes, mengungkapkan kekesalannya dan Bintang Emon memlih untuk melempar video bernarasi komedi sebagai bentuk kritik di tengah derasnya  konten tulisan dengan tinjauan yang akademik-analitik.

Apa yang dilakukan oleh pemilik nama lengkap Gusti Muhammad Abdurahman Bintang Mahaputra itu dirasa cukup mewakili keresahan banyak orang, warganet bersorak dan menyambut positif, video yang diunggah pada 13 Juni 2020 lalu, hingga kini telah ditonton dan diputar sebanyak 11 Juta kali lebih.

Juara 1 kompetisi pelawak tunggal di sebuah televisi swasta itu memang kerapkali mengunggah konten video-video komedi, disampaikan dengan kalimat-kalimat jenaka, menggelitik, dan penalaran yang mudah dipahami membuat nama Bintang Emon tenar di jagat maya. Tenar adalah kutub yang berlawanan, artinya ada yang suka tetapi sekaligus tak sedikit yang merespons negatif.

Komedi, Buzzer, dan Ketersinggungan

Kebutuhan manusia akan tawa menjadikan industri komedi bakal susah untuk digeser, dan itulah mengapa juru lawak alias komedian tak pernah kehabisan bakar bahan untuk bekerja.

Kita butuh komedi untuk mencuci tumpukan masalah hidup, mulai dari  “dendam pribadi” yang receh hingga masalah serius soal ketidakbecusan negara. Komedi mungkin adalah cara yang paling aman untuk mengoreksi, menggugat, dan sekaligus menertawakan kejadian hari-hari.

Jika kalian berpikir melucu adalah satu hal yang mulia, maka itu ada benarnya : membuat orang bahagia dengan tawa, melupakan masalah hidup, dan sebagainya, kelihatanya sederhana tapi jelas melucu bukanlah perkara gampang. Semua orang punya sisi humor, tapi tak semua bisa menciptakan tawa. Profesi ini bukan tanpa resiko, sebab dalam berkomedi ketersinggungan adalah sesuatu yang sulit untuk dihindari.

Karena komedi adalah soal selera, sedang selera orang tak seragam. Komedian butuh objek dan karena tiap-tiap orang punya pengalaman berbeda, jadilah ada objek yang merasa ditertawakan. Dalam komedi bumbu-bumbu hiperbolik sah hukum nya, suka atau tidak tersinggung adalah sesuatu yang datang dari luar, artinya audiens bisa memilih untuk tersinnggung atau santai saja.

Dalam arti kata lain, seorang komedian membingkai potret yang ia lihat lalu menyajikanya dengan formulasi yang kadang absurd, sulit untuk ditebak, atau tak pernah terpikirkan oleh audiens. Dan audiens kerap gagal masuk ke dalam cara berpikir komedian.

Tiga kalimat  di atas yang sengaja saya tebalkan, inilah yang tengah menimpa Komika Bintang Emon, ia dituduh yang tidak-tidak, sebagai pemakai narkoba jenis sabu-sabu oleh beberapa akun di Twitter yang setelah ditelusuri rupanya memang sengaja memancing keruh.

Seperti missal, akun Twitter yang sekarang sudah tidak bisa diakses, @Lintanghanita, dalam cuitannya lengkap dengan beberapa gambar yang sudah diedit, menuding, “ Demi menjaga stamina, komika  Emon mengakui makai narkoba.“

Bintang Emon bukan orang pertama yang menerima serangan siber, kejadian serupa berulang kali menyasar orang-orang yang dianggap publik kritis terhadap isu sosial, politik, hukum, yang penangannnya melibatkan instrumen negara. Warganet Indonesia menamainya dengan istilah “ BuzzeRp”, bukan “Buzzer” (Rp adalah simbol dari mata uang).

Kita bisa menduga, buzzer adalah perpanjangan perasaan dari negara, mereka bekerja untuk mewakili ketersinggungan negara, dalam hal ini pejabat publik yang bersangkutan tak punya cukup waktu untuk menangapi, urusan itu akhirnya dilimpahkan pada buzzer. Beri mereka rupiah, perangkat internet dan sembunyikan identitas pribadi, semudah itu.

Komedi dan Sikap Politik

Seperti yang lainnya, komedi punya banyak sisi atau mata pisau, tapi prinsip dasar komedi adalah tentang berkesenian dan yang baik tentu adalah yang “tak melayani” narasi sempit kekuasaan, komedi adalah cara mengakomodir suara resah yang berasal dari suara rakyat. Inilah yang dimaksud oleh Sakdiyah Mar’uf, Stand Up Comedian perempuan sebagai komedi sesungguhnya yang menyuarakan suara penderitaan terdalam.

Sejalan dengan yang dikatakan penulis novel-novel bertema dystopia, George Orwell, pria kelahiran India itu berkelakar bahwa, “Kamu tidak benar-benar lucu sampai kamu menyinggung yang angkuh dan yang berkuasa,”

Kalau pemerintah atau negara jadi geram, marah, dan ujung-ujungnya menyerang balik lewat buzzer, bukankah itu adalah tindakan konyol? Membungkam komedian atau siapapun yang mengkritik rezim yang sedang berkuasa tak ubahnya menyingkap tabir kebobrokan, bagai menepuk air tapi terciprat muka sendiri.

Komedi memang berguna sekali ditengah kejenuhan, kebuntuan dan situasi politik yang makin morat-marit, seorang komedian yang berniat untuk melucu kadang secara tak langsung berdiri di atas sikap politik, meski niat awalnya adalah tak lebih dari bahan lawakan semata.

Dan Bintang Emon saya pikir adalah contoh yang demikian, selebihnya ia seperti sedang “menjewer” kita semua, menyadarkan kita yang seakan pura-pura tak paham duduk persoalan. Kita sering menyaksikan sinetron yang lebih norak dan peran yang kelewat didramatisir,  Dalam konteks ini, tentu sutradaranya adalah negara. Kasus Novel Baswedan harusnya membuat kita tidak kaget-kaget amat.

Gigih Imanadi
Santri Kalong di Bentala Tamaddun Nusantara.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.