OUR NETWORK

Neng Dara: Periwayat Ciputat

Mari melihat kondisi politik kampusnya: progresif dan sarat persaingan. Lantas, dunia pemikirannya?

Ciputat diidentikkan dengan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Mari melihat Ciputat dari dekat: kafe-kafe baru, tempat tongkrongan, dan toko baju serta jilbab berserak. Apa yang dikorbankan? Toko buku.

Mari melihat kondisi politik kampusnya: progresif dan sarat persaingan. Lantas, dunia pemikirannya? Tetap pembaharu. Tidak boleh tidak, di Ciputat masih dan harus bersemayam pemikiran Harun Nasution, Nurcholis Madjid (Cak Nur), bahkan Quraish Shibab.

Didiskusikan secara kontinyu, dituliskan berulang tanpa habis. Mereka ada di ruang-ruang kelas, dalam lembar-lembar skripsi, dan pelbagai macam tulisan. Sayang, pemikiran mereka hampir tidak dikembangkan.

Tapi, cuma ditulis ulang, dianalisis demi pembuktian, bahkan ditelan mentah-mentah sebagai kebenaran. Ke mana daya kritis itu? Kita tak pernah tahu. Kita pantas khawatir sebab kondisi semacam itu bukan hanya terjadi di Ciputat. Hampir seluruh lingkungan kampus Indonesia mengalami kemerosotan (perubahan?) pemikiran.

Tulisan tentang sejarah Ciputat–bukan isi pemikiran tokoh yang pernah hidup–jarang ditemukan. Kecuali, misalnya, dalam biografi tokoh terkenal. Kita masih beruntung, ada yang sempat menuliskannya. Neng Dara Affiah, aktivis perempuan, pernah menulis esai biografis berjudul Islam Hibrida.

Esai itu termuat dalam buku Muslimah Feminis (2009). Sebagai esai biografis, isi di dalamnya sangatlah jujur. Neng Dara merunut pengalamannya menjelajah belantara Ciputat. Dari esainya, kita bisa melihat Ciputat dalam kurun waktu 1987-1992. Saat itu, UIN Jakarta masih bernama IAIN. Tulisnya, “pertama kali menginjakkan kaki di lingkungan IAIN Jakarta di kawasan Ciputat, aku merasakan benar polarisasi yang ketat di antara beberapa organisasi mahasiswa Islam.

Ada Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).” Beruntung, Neng Dara punya kesadaran semacam itu. Tidak dengan mayoritas mahasiswa baru (maba) yang menginjakkan kaki di Ciputat untuk pertama kali. Kebanyakan mereka berasal dari luar daerah yang berharap mendapat banyak ilmu.

Sialnya, jauh sebelum ilmu yang mereka targetkan melekat dalam pikiran, tangan-tangan pelaku politik praktis terlebih dahulu mencengkeram. Menjelang pemilihan umum mahasiswa, para maba dipaksa memilih ikut ke bendera yang mana. Tiga yang terkuat: hijau, biru, dan merah. Tidak ada pilihan lain. Jika tak ikut organisasi mahasiswa, para maba paling hanya jadi mahasiswa “kupu-kupu”: kuliah-pulang, tanpa butuh berdiskusi. Padahal, di ruang kelas pun, belum tentu ada diskusi.

Intelektual sekaligus Komisioner Komnas Perempuan itu menulis riwayat perjalanan intelektualnya. Detail ia jelaskan, “aku pun turut belajar di Forum Mahasiswa Ciputat (FORMACI). Pada kelompok studi inilah aku menemukan kuliahku yang sebenarnya. Dalam komunitas ini kami melakukan penjelajahan berbagai bidang ilmu pengetahuan, terutama Kajian Islam (Islamic Studies), Filsafat dan Sosiologi.” Ada yang luput dari pencarian penuh penasaran dalam diri Neng Dara.

Ia mencari-cari ruang diskusi dalam organisasi. Padahal, ia hanya cukup mencari forum diskusi saja. Semua orang pasti akan menunjuk Formaci. Dari Formaci, ia merangkul semua organisasi mahasiswa lewat jalan jernih: ilmu pengetahuan. Terbukti dengan eksistensi Formaci hingga kini. Namun, Neng Dara, hampir sama dengan kebanyakan maba, keburu terpesona melihat kegagahan organisasi mahasiswa di Ciputat. Tujuan utama, belajar, meredup.

Kegiatan politik praktis menjadi rutinitas utama. Kegiatan belajar pun, seperti tidak lagi dibutuhkan. Membaca buku, misalnya. Kegiatan itu tidak lagi dibiasakan, paling-paling sekadar membaca buku untuk tugas kuliah. Jika ada sumber lebih mudah, internet misalnya, mahasiswa jaman now tak merasa perlu repot-repot. Buku yang semestinya menjadi teman, kini terbengkalai dalam rak dan pojok-pojok ruangan. Musuh utamanya, gawai, semakin membuat mahasiswa kelimpungan. Ada banyak ebook berserak. Kegiatan copy-paste dirasa lebih efektif ketimbang membaca dan menulis.

Dedi Ibmar, aktivis HMI sekaligus pembaca buku rakus, mengaku bahagia menjadi bagian dari Ciputat. Sebab, Ciputat baginya adalah kawasan dengan bulir-bulir pengetahuan. Ia identik dengan pemikiran Cak Nur, cendekiawan panutannya. “Namanya selalu dibahas di persidangan ilmiah, diperdebatkan di ruang-ruang diskusi, bahkan diperbincangkan di warung-warung kopi.

Semakin lama, Ciputat memang semakin karam. Kesulitan dalam mengikuti arus teknologi. Namun, dengan semangat yang lekat, dengannya Ciputat masih berhak untuk berharap. Menjadi role model intelektual progresif.” ujarnya. Optimisme itu, seharusnya ada di benak orang-orang yang sedang Nyiputat.

Namun, kita tidak sedang menghadapi mahasiswa dengan kondisi psikologi yang serupa mahasiswa di tahun ’90-an. Saat ini dan nanti, Ciputat dijejali mahasiswa kelahiran tahun 1990 dan 2000, alias generasi z atau kaum milenial. Mereka agaknya kurang peduli humanisme, kesetaraan gender, atau radikalisme.

Isu-isu seperti LGBT lebih menarik hati. Inilah yang kemudian, mengantarkan Ciputat menjadi pusat peradaban yang goyah. Di sisi lain, ingin mempertahankan keislamannya. Sedangkan, di masa depan, Ciputat dituntut untuk terus berkembang dalam teknologi dan sains, bukan pemikiran. Namun, kita semua tahu, musuh terbesar saat ini, bukan di ranah sains dan teknologi. Ia ada di ranah pemikiran: radikalisme. Teknologi hanya menjadi instrumen. Sains cuma ditunggangi kepentingan politik.

Maka, “Islam Hibrida” di benak Neng Dara dulu, tak lagi sama dengan keadaan hari ini dan nanti. Perbedaan bukan lagi soal Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Perbedaan semakin luas: Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, bahkan ISIS bisa terlibat dan mudah masuk ke Ciputat, mengisi kepala-kepala dengan doktrin yang dirasa paling benar. Para mahasiswa di tahun pertama adalah sasaran empuk.

Mahasiswa yang sudah lama pun dapat terpengaruh. Untuk mengurangi, kita mesti menjaga kesadaran. Bahwa tanpa membaca dan berdiskusi, kita akan kehilangan kemampuan menafsir. Nalar menjadi tak terjaga. Tanpa memahami teologi pembebasan Harun Nasution, katakanlah, Ciputat miskin pikir: tidak terbiasa dengan perbedaan pemikiran. Padahal, kekayaan cara berpikir itulah yang mesti dipelajari dan menjadi bekal untuk menghadapi realitas.

Lebih relevan, tentu saja ide pembaharuan Cak Nur. Konsep pluralismenya mengakomodasikan keberagaman atau kebhinekaan keyakinan di Indonesia. Kita sedang darurat persatuan. Seperti yang terjadi beberapa bulan silam, urusan Pilkada saja membuat kita compang-camping. Perbedaan, yang seharusnya bisa menyatukan, malah berbuah perseteruan tak berujung.

Pemahaman-pemahaman semacam inilah yang perlu ditanam dalam benak para mahasiswa. Tentu, harus pula didukung bacaan dan daya tafsir yang kuat. Ciputat masih lemah. Perpustakaannya, baik sistem maupun koleksi buku-buku, tak kunjung diperbaharui. Perpustakaan yang tidak kaya, menentukan para pengunjungnya. Kemiskinan cara berpikir, juga fasilitas tak memadai, membuat Ciputat tak lagi gagah.[]

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…