Kamis, Desember 3, 2020

Nelangsa Mahasiswa Handphone Kentang dan Laptopnya Potato

Komunisme Sudah Runtuh, tapi…

Sejak Jenderal Gatot Nurmantyo menyuruh anak buahnya untuk nobar film G30S/PKI, isu mengenai bangkitnya PKI kembali marak diperbincangkan bulan ini. Netizen berbondong-bondong saling lempar...

Habis-Habisan Menggenjot Ekspor

Sedemikian gaduh isu impor, banyak yang lupa bahwa Indonesia pun mengekspor beragam komoditas dengan volume dan nilai transaksi yang tak sedikit. Pencapaian inilah yang...

Stadion Sepak Bola yang Mematikan sekaligus Menghidupkan

Kasus tewasnya seorang suporter ketika sedang menyaksikan pertandingan sepak bola, seakan belum mau hilang dari kancah persepakbolaan Indonesia. Setidaknya, dalam kurun waktu 4 bulan...

Paradigma Baru Pemberdayaan Perempuan

Selain soal gender, tak banyak isu lain yang lebih menantang dan penting dijadikan lensa yang dengannya komunitas Muslim dan non-Muslim memandang dan menilai Islam....
Samuel Santosa
College Student in Diponegoro University Departement Government and Political Science

“Kuliah hari ini saya berikan beberapa pertanyaan tentang mata kuliah kita, kalian jawab dan dikumpulkan 1 jam dari sekarang”

“Ting tong” sebuah notifikasi muncul di handphone dikala sedang leyeh-leyeh disiang hari menjelang sore,  rupanya salah satu dosen mengirim beberapa pesan terkait mata kuliah yang diampunya”. Aku yang terlalu asik berleyeh-leyeh juga lupa bahwa dijam dan hari itu ada mata kuliah, maklumlah karena efek pandemi ini semua jadwal jadi tidak tertata dengan rapi.

Setelah mendapat pesan tersebut aku bergegas menghidupkan laptop dan mencari beberapa rujukan di internet. Sialnya laptop pottato milikku—yang telah terisi banyak file dan aplikasi—ketika digunakan untuk membuka browser dan jendela yang amat banyak justru nge-hang. Hal itu lantas menghasilkan gerutu dibenakku kepada laptop potatto yang hanya diam. Dia—laptop potattoku—tidak meresponku sebab tulisan dilayar “not responding”, pantas saja dia tidak merespon gerutuku.

Akhirnya tanpa menunggu laptop merespon gerutuku, kumatikan saja laptop pottatoku secara paksa dengan menekan tombol power agak lama. Setelah terestart akhirnya kubuka kembali jendela browser, yah dari mulai awal nge-hang sampai terestart kembali butuh waktu 30 menit. Jadi tinggal 30 menit lagi sisa waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan rapid question dari salah satu dosen di waktu siang menjelang sore kala itu.

Aku menyiasatinya dengan hanya membuka beberapa jendela saja dan menutup beberapa aplikasi yang membuat kinerja laptop pottatoku menjadi lamban. Juga kumatikan musik yang selalu setia menemaniku dikala tugas yang tak kenal waktu itu datang. Akhirnya setelah bergulat dengan laptop pottatoku akhirnya selesai juga rapid question yang diberikan dosen kala itu. Beruntungnya ini hanya sekedar pertanyaan brainstorming dan bukannya ujian akhir atau lain sebagainya. “Semoga tidak terlalu berdampak besar terhadap nilai akhir” begitulah kataku ketika dimenit-menit krusial atau menit akhir mengirimkan rapid question ini.

Kentang dan potatto adalah pengistilahan yang saya berikan, maknanya sama dengan es teh dan ice tea. Es teh dijual Rp 2500 sedangkan ice tea dijual 5.000 rupiah meskipun rasa dan kualitasnya sebenarnya sama. Nah begitupun kentang dan potatto yang saya istilahkan pada dua barang milik saya yakni handphone dan laptop, keduanya sebenarnya sama, tidak ada bedanya. Fitur handphone kentang yang sederhana dan begitupun laptop yang juga sederhana. Namun kata pepatah selalu ada kemewahan dalam setiap kesederhanaan, barangkali itu kata yang cocok digunakan dalam gerutu ketika tidak kunjung direspon “not responding” oleh laptop dan handphone milik saya.

Laptop dan handphone bagi mahasiswa dikala pandemi ini adalah piranti yang sangat mendukung proses perkuliahan. Mereka menemani hidup kita 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Ibarat Arjuna dalam pewayangan yang mengandalkan panah sebagai senjata utama, mahasiswa pun memiliki senjata utama dikala Study From Home selanjutnya disebut SFH, yakni laptop dan handphone. Piranti tersebut digunakan para mahasiswa untuk bergelut melawan tugas yang tak kenal waktu dikala SFH ini.

Kendati demikian dikala semuanya serba online seperti sekarang ini ada juga mahasiswa yang memiliki nasib handphone kentang dan laptop potatto. Mereka perlu memiliki strategi yang jitu dikala semuanya serba online ini, hal ini perlu dilakukan karena ada sebuah pepatah yang berbunyi ”Sebab menyerah bukanlah sebuah pilihan”. Mahasiswa bernasib handphone kentang dan laptop tidak menyerah dengan kata “not responding” yang tertulis dilayar laptop ataupun handphone yang nge-hang.

Di masa SFH ini kegiatan perkuliahan di seluruh kampus di indonesia berdasarkan arahan Mas Menteri Nadiem Makarim dilaksanakan hingga akhir tahun. Kesabaran dan kewarasan mahasiswa ber-handphone kentang dan ber-laptop potatto sangat diuji untuk setidaknya beberapa bulan ke depan.

Bagi mereka yang ber-handphone kentang dan berlaptop potatto bisa menyiasati beberapa langkah, pertama dianjurkan untuk menghapus data-data aplikasi maupun file besar yang memakan kinerja handphone maupun laptop sehingga kinerjanya terhambat, sekiranya yang tidak terlalu dibutuhkan lebih baik dihapus saja, hal ini akan mengurangi kinerja dari aplikasi yang beroperasi secara bersamaan.

Kedua, dianjurkan untuk merestart laptop ataupun handphone sesuai kondisi awal pabrik, hal ini dimaksudkan agar kinerja handphone dan laptop kita sama seperti pertama kali membelinya. Namun yang perlu diperhatikan dari restart kondisi awal pabrik adalah jangan lupa untuk backup data. Jangan sampai handphone dan laptop kita kinerjanya lancar namun data-data penting perkuliahan lenyap semuanya, percuma saja kalo begitu.

Dan yang ketiga, siasat yang dapat dilakukan adalah membeli eksternal hardisk di toko perangkat pendukung laptop atau handphone yang menjualnya. Eksternal hardisk adalah langkah untuk menyiasati handphone kentang dan laptop potatto, caranya dengan memindahkan file-file dan aplikasi raksasa ke hardisk eksternal.

Tujuannya agar handphone kentang dan laptop potatto tetap berjalan dengan kinerja yang baik, sebab file-file dan aplikasi raksasa yang menganggu kinerja telah kita pindahkan ke eksternal hardisk. Cara terakhir ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki sedikit tabungan untuk membeli eksternal disk sebagai cara menyiasati handphone kentang dan laptop potatto. Jika tabungan sedang tidak mendukung lebih baik lupakan siasat ketiga ini, dan gunakan siasat yang pertama dan kedua.

Mahasiswa bernasib handphone kentang dan laptop potatto perlu bertahan untuk setidaknya beberapa bulan ke depan dimasa pandemi ini. Ada beberapa siasat yang perlu dilakukan mereka untuk setidaknya mengakali agar di saat SFH ini semuanya berjalan dengan baik. Akhirnya keuletan dan kegigihan mereka—mahasiswa bernasib handphone kentang dan laptop potatto—lebih dari orang-orang berprivillese yang memiliki handphone dan laptop super canggih, sebab mahasiswa bernasib handphone kentang dan laptop potatto terbiasa menjalankan siasat meskipun juga disertai gerutu.

Samuel Santosa
College Student in Diponegoro University Departement Government and Political Science
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.