in

Negeri Pinokio


 

Pagi berdzikir, siang jadi kikir. Jum’at berkhotbah, malam minggu bermaksiat. Itulah demokrasi tipu-tipu untuk berkuasa dan memperkaya diri

(Gol A Gong)

Pinokio memang hanya kisah  fiktif belaka  dalam bentuk cerita berseri dengan judul “La Storia un Burattino (Kisah Seorang Marionette)” yang berlatar di negeri Italia. Buku itu pertama terbit di sana tahun 1883, dan sampai sekarang diterjemahkan lebih dari puluhan bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Siapa yang tidak kenal dengan karakter Pinokio yang familiar itu? Jika kita Tanya kepada anak-anak tentang Pinokio, barang tentu mereka akan menjawab “ Suka berbohong, kemudian hidungnya jadi panjang”.

Ya, begitulah karakter tokoh dari Pinokio. Suka berbohong,  culas, naïf, dan suka menafikan keberadaan orang lain. Cerita Pinokio tidak hanya sekedar cerita pengantar anak-anak tidur, atau mengisi waktu liburan keluarga di layar televisi. Barang kali karakter Pinokio itu hadir di tengah-tengah realita negeri ini.

Sebagai contoh, dalam arena politik di negara kita, Pinokio tidak sukar untuk dijumpai.  Momentum Pilpres 2014 silam kita disuguhkan bagaimana banyaknya manuver politik dengan berbohong, memfitnah, sumpah palsu, dan tidak jarang black campaign yang berujung pada isu SARA yang memainkan sentimen agama. Yang berbeda adalah jika Pinokio berbohong hidungnya bertambah panjang, sedangkan politikus kita tidak! Mengapa? Barangkali, ada rahasia Tuhan, kenapa karakter manusia dan watak bohongnya tersembunyi di dalam hati. Karena gesture selalu menipu, senyum menyapa kadang palsu,  kawan jadi lawan. Ya mirip-mirip intrik politik kita akhir-akhir ini di layar kaca.

Baca Juga :   PMII: Santri Kota-nya NU

Sementara itu, kekuasaan menjadi harga mati bagaimanapun caranya, termasuk berbohong. Jadilah kita penganut Machiavellian sejati. Bagi Machiavelli yang seorang penulis buku berjudul “ The Prince” ini mengatakan tak ada kejahatan dalam politik, yang ada hanya kesalahan kecil. Bahkan Machiavelli tidak tanggung-tanggung menghalalkan segala cara agar sampai ketujuan.


Belum lagi di media sosial (Medsos) begitu ramai adu argumen dan tak jarang saling menghujat satu sama lain. Beredarnya berita hoax bak jamur di musim penghujan, dan tragisnya hoax bagi sebagian kelompok dianggap sebagai jihad medsos manakala konten berita palsu dibumbui dengan brand agama.

Sering kali alam demokrasi diciderai oleh pemaksaan-pemaksaan kehendak janji ataupun ancaman. Tengok saja perhelatan PILKADA DKI beberapa waktu silam, tindakan persekusi, mimbar masjid penuh ujaran kebencian (hate speech), hingga mayat yang tak punya kepentingan pun ikut terseret dalam pusaran kuasa. Hal ini akan berimplikasi kepada tiadanya ketulusan dan keikhlasan dalam memilih. Disinilah demokrasi menjadi ujian ketulusan dan keihklasan, kunci dari semua itu adalah tidak lain adalah kejujujuran bukan kebohongan. Dalam alam demokrasi pula kita mengenal “agree to disagree” yang berarti  setuju untuk tidak setuju. Ungkapan itu menunjukan adanya prinsip solidaritas. Sebab, walau berbeda pandangan atau kepentingan para pihak tetap sepakat untuk mempertahankan ikatan bersama (unity).

Baca Juga :   Parlok Aceh dan Koalisi ParNas menjelang Pilpres 2019!

Memang sah-sah saja mengemukakan pendapat, tetapi kita harus mengutamakan nilai-nilai kepatutan dan etika. Karena negera mengatur itu dalam produk hukum kebebasan berpendapat. Sebagai negara demokrasi, sejatinya kejujuran adalah penyangga dan pilar penting demokratisasi. Pemimpin yang jujur dan amanah tentunya didambakan semua elemen masyarakat bukan sekedar pemimpin yang bisa pamer kekayaan dan modal (capital) semata. Jika para lingkaran elit pemimpin saja sudah tidak memberikan teladan dan berani dengan intrik-intrik kebohongan, sudah bisa dipastikan, Indonesia pun tidak bisa lepas dari kebohongan dan rekayasa sosial. Imbasnya, kita sebagai warga negara akan terbiasa berbohong dan jadilah manusia munafik tujuh turunan. Sedangkan nilai kejujuran ada di strata paling bawah dalam piramida moralitas.

Seandainya saja manusia seperti kita ini diciptakan oleh Tuhan sama seperti halnya Geppeto yang membuat karakter seorang Pinokio, entah sudah berapa meter panjangnya hidung kita saat ini, seratus meter? Seratus kilo meter? Ah, entahlah! Yang jelas mengerikan sekali jika itu terjadi.

Jika ukuran dan kadar kebohongan seseorang ditentukan oleh memanjangnya hidung, maka dalam hidup ini tidak akan ada hipokrisi, manipulasi, kamuflase dan saling fitnah. Orang akan selalu menjaga ucapan dan hatinya agar selaras. Kebohongan publik tidak akan terjadi, manipulasi laporan data-data statistik tak akan terjadi, lembaga survey tak mau intelektualnya di jual demi materi hanya untuk kepentingan pihak tertentu, dan para calon pemimpin negeri inipun tak seenaknya berani umbar janji kepada rakyat.

Baca Juga :   Tenun Persatuan, Tinggalkan Perseteruan!

Melihat fenomena tersebut, tampaknya kejujuran menjadi barang mahal saat ini, orang jujur bahkan  sukar kita temui. Seakan-akan orang jujur tak ada tempat di republik ini. Adapun orang baik dan jujur akan dihabisi dan dihancurkan citranya. Asumsi tersebut memang tidak ada salahnya, tapi jangan jadikan alasan pembenaran bahwasannya tidak ada lagi kejujuran yang bisa kita lihat di negeri ini.

Masih ada secercah harapan bahwa kejujuran akan lahir di tengah-tengah kita saat ini, di mulai dari kita, lingkungan keluarga, masyarakat, sampai kehidupan berbangsa dan bernegara.  Sekedar refleksi bersama, cukuplah bagaimana Tuhan mengingatkan kita dalam QS. Al-Isra ayat 36 “ Dan janganlah kamu mengikuti yang kamu tidak mengetahui pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggung jabawabannya”


Written by faqih albantani

Manajer Kajian Publik dan Penelitian Rafe'i Ali Institute

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR