Rabu, April 14, 2021

Negara Sontoloyo dan Revolusi Mental

Mengulas Akar Radikalisme

Diskursus tentang radikalisme sampai saat ini masih berada dalam bingkai pemahaman yang mengalami peyorasi terhadap istilah tersebut. Secara umum, radikalisme dianggap sebagai sikap ekstrem dalam...

Generasi Peduli Lingkungan Hidup

Peduli lingkungan hidup menjadi topik yang hangat dikampanyekan akhir-akhir ini. Namun tetap saja, tak mudah membuat banyak orang sadar untuk peduli lingkungan hidup saat...

Koperasi Berdayakan Nelayan

Gotong royong selain mengandung nilai kebersamaan, juga mengandung arti kesadaran untuk mencapai suatu tujuan. Lebih dari itu, gotong royong menjadi bagian dasar filsafat Indonesia,...

Menjadi Boneka Inggris Kala Perang Terjadi Lagi

Bagaimana Sebuah Negara Mampu Menundukkan Banyak Wilayah? Inggris adalah negara yang memiliki daerah jajahan terbanyak pada masanya. Bahkan sebanyak 90 persen dari total wilayah di...
Indah Haryani
A traveler of life

“Ini saya kira bukan jamannya lagi menggunakan kampanye politik adu domba, politik pecah belah, politik kebencian. Jaman sekarang sudah politik adu program, kontestasi program, adu gagasan, adu ide, adu prestasi, adu rekam jejak. Kalau masih pakai cara-cara lama, itu namanya politik sontoloyo” ujar Jokowi dalam wawancara media seusai membuka Trade Expo Indonesia di ICE BSD, Tangerang Selatan.

Pernyataan Presiden tersebut memang sangat menarik untuk disimak dan dicermati, khususnya terkait dengan pesan moral yang ingin disampaikan. Fenomena yang terjadi dalam dunia perpolitikan saat ini memang seringkali mengarah kepada isu-isu non fundamental, seperti perilaku nyinyir, penggunaan isu SARA, serta penyebaran fitnah dan hoax, mulai dari rumah kardus hingga muka plastik.

Ungkapan “politik sontoloyo” yang terucap dari Presiden Jokowi merupakan suatu reaksi yang spontan akibat perkembangan perpolitikan di Indonesia yang cenderung semakin kurang kondusif. Kondisi ini bisa jadi disebabkan oleh permasalahan krisis karakter di masyarakat  sehingga mudah untuk diprovokasi.

Atas dasar itulah, Jokowi mengingatkan kita semua agar tidak larut dalam perseteruan atau konflik yang tidak produktif dan tidak memiliki manfaat sama sekali bagi kehidupan berbangsa. Perilaku politik kita seharusnya lebih menyentuh isu fundamental dan lebih produktif atau bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

Berikan program kebijakan apa yang paling efektif untuk mengatasi isu kemiskinan atau bombardir program-program ketimpangan ekonomi. Hal seperti ini yang seharusnya dibiasakan oleh para politisi kita untuk diperdebatkan dan didiskusikan, sehingga akan melahirkan sebuah ide dan gagasan yang lebih genuine dan terukur untuk mengatasi permasalahan yang sering muncul di Indonesia.

Mengarahkan dan membawa suatu negara dengan menanamkan karakter dalam kemajemukan pada masyarakatnya sepertinya memang sangat penting, sehingga diharapkan dapat menekan perpecahan yang sangat rentan terjadi.

Harus diakui bahwa negara ini sedang berproses untuk menorehkan capaian positif pada perubahan cara pikir dan cara kerja yang alurnya akan membawa perubahan pada cara hidup berbangsa. Perhelatan Asian Games dan Asian Para Games contohnya, yang kemudian kita rayakan bersama dengan rasa bangga.

Terasa betul bagaimana kemudian ajang olahraga itu menyatukan perbedaan, etnis, umur, bahkan pandangan politik. Di sini kita bisa lihat ada pilar-pilar integritas, etos kerja, dan gotong royong, semangat kebersamaan untuk menorehkan prestasi. Hal-hal inilah yang kemudian digunakan sebagai lokomotif perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.

Ajang olahraga internasional yang dihadiri oleh negara-negara di Kawasan Asia tersebut telah menghasilkan triliunan rupiah bagi ekonomi. Capaian yang nyata dan terukur seperti ini perlu terus menjadi standar keberhasilan dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh suatu negara.

Tapi yang kemudian tak disadari oleh masyarakat adalah wujud kesatuan dan berkembangnya nilai moralitas publik. Nilai-nilai rasa yang merupakan produk dari budaya dengan sistem nilai yang berlaku dan terbangun sejak lama sehingga dapat diterima lingkungan masyarakat dan akhirnya terimplementasikan. Bagaimanapun juga, arahnya tentu saja agar dapat memberi pengaruh pada potensi konflik dan prasangka antar kelompok masyarakat semakin berkurang, dan tak kalah penting mencegah radikalisme tentunya.

Lalu yang juga bisa secara bersama kita rasakan adalah perubahan-perubahan dalam proses birokrasi, inovasi pelayanan publik, gerakan bersih sanitasi publik, gerakan masyarakat sehat, gerakan sekolah bersih dan bebas intimidasi, pengurangan sampah plastik, serta peningkatan rasio kewirausahaan.

Terkait dengan tingkat rasio kewirausahaan, terjadi peningkatan yang cukup signifikan dari sebesar 1,65 persen di tahun 2014, meningkat 2 kali lipat (3,1 persen) di tahun 2016. Angka ini diproyeksikan akan terus meningkat hingga 5 persen di akhir tahun 2018. Hal ini memberikan sinyal positif bagi berkembangnya jiwa kewirausahaan masyarakat di tengah upaya pemerintah dalam mendorong sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Kondisi ini telah menjadi bukti nyata sekaligus sebagai tonggak dimulainya suatu perubahan ke arah yang lebih baik dalam fondasi revolusi mental.

Proses penyembuhan luka dalam krisis karakter negara ini sesungguhnya mulai menunjukkan perkembangan ke arah perbaikan. Meskipun masih ada luka-luka di beberapa tempat yang belum tertangani, itu hanya masalah waktu.

Karena pada akhirnya, masyarakat kita sudah mulai memahami tujuan bersama dan mampu menghasilkan generasi unggul untuk menuju Indonesia maju dengan gerakan perubahan dan mental-mental yang ter-revolusi. Jadi, pesan bagi para politikus yang sedang sangat ingin menjadi wali masyarakat dalam kemajuan bangsa,  keluarkan narasi dan program-program membangun untuk negaramu dan buang kesontoloyoanmu!

Indah Haryani
A traveler of life
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.