Banner Uhamka
Sabtu, September 26, 2020
Banner Uhamka

Negara Punah Ala Prabowo

Idul Adha Wahana Reformasi Akhlak

Di tengah hiruk pikuk kegaduhan politik yang semakin tidak bermoral sekarang ini, Idul Adha seharusnya menjadi momentum umat muslim memperbaiki akhlak kepada sesama manusia...

Freeport Di Mata Rocky Gerung, Profesor Ahli Kedunguan

Gambar di atas mungkin bagi sebagian orang dianggap lucu. Bagi saya, bila Rocky Gerung berpendapat begini, saya menyatakan bahwa Rocky Gerung benar-benar merupakan seorang...

Perlukah Undang-Undang Praktik Aborsi?

Negara Irlandia telah melegalkan sebuah undang-undang praktik aborsi sesuai dengan hasil referendum yang dilangungkan pemerintah Irlandia. Hal ini memang suatu perubahan yang radikal di...

Pancasila sebagai “Rukun” Berbangsa dan Bernegara

Sejak masih kecil kita diperkenalkan kepada rukun Islam, mulai dari dua kalimat syahadat, laa ila ha illah muhammadar rasulullah (tiada tuhan selain Allah dan...
Herlina Butar-Butar
Laboratorium Medis, Manajer di Alkes, Owner Laboratorium, Wartawan, NGO, Mendirikan BUMDES pertambangan (Non-Mercurial Gold Mining Project)

Kita tentu mahfum, beginilah suasana kampanye Pilpres saat ini. Kubu Joko Widodo selaku petahana sibuk mempromosikan capres andalannya dengan jargon, “kerja, kerja, kerja”. Mempertunjukkan hasil kerja dengan meresmikan banyak infrastruktur, membagi-bagikan sertifikat tanah buat masyarakat, dan atau mencoba membangkitkan semangat optimisme.

Sementara kubu penantang, Prabowo Subianto, sibuk gencar berupaya menghancurkan kesan hasil kerja petahana, bahkan hingga memberikan cibiran dan label “pencitraan” bila petahana mencoba menyebarluaskan hasil kerjanya kepada masyarakat.

Celotehan harga-harga mahal, tempe setipis ATM, rakyat makin susah ditambah ungkapan bahwa rakyat miskin semakin bertambah tentu sering didengar di televisi. Terlebih lagi, dari mulut Fadly Zon, sang punggawa Gerindra dan dari kader-kader Gerindra lain. Akhir-akhir ini muncul berita bahwa Prabowo menyatakan, “Kalau Kita Kalah, Negara Akan Punah”.

Mungkin, pada diri Joko Widodo selaku petahana, tidak terlalu mau ambil pusing atas semua cibiran serta label pencitraan. Tetapi, sebaik-baik manusia yang mencoba bersikap peduli kepada cibiran manusia lain, tentu ada batas kesabaran.

Jokowi terlihat beberapa kali meradang. Saat sang petahana pidato tentang sikap optimis melawan sikap pesimis, lalu muncul istilah genderuwo, sontoloyo, lalu perbedaan kritik dengan mencela hingga akhirnya Joko Widodo mempertontonkan keluarganya sebagai gambaran ikeluarga Indonesia yang ideal, normal, harmonis dan manis. Para pendukungnya lebih bersikap bertahan terhadap serangan-serangan pendukung Prabowo.

Jihad Harta, Sebuah Kontradiksi

Bahwa sementara kubu Prabowo meneriakkan kondisi banyaknya kemiskinan, Neno Warisman malah berseru, “Jihad Harta untuk Kemenangan Prabowo – Sandiaga, nanti Allah ganti”.

Dahi saya berkerut membaca seruan ini. Saya jadi ingat dulu. Ada seruan mbak Tutut agar masyarakat mengumpulkan emas untuk mengatasi krismon.

Harga-harga naik, masyarakat miskin semakin banyak, rakyat makin susah, tapi kok malah disuruh nyumbang capres kaya-raya yang hartanya sudah trilyunan? Apalagi cawapresnya, katanya pengusaha kaya-raya juga.

Kita gak pernah tahu, entah kemana raibnya emas-emas yang sudah terkumpul dari masyarakat. Alangkah naifnya cara berkampanye sepeti ini. Bila pendukung Prabowo melaksanakan seruan Neno Warisman, saya mengumpamakan laksana domba bodoh yang akan digiring ketempat penyembelihan dan manut aja tanpa melawan. Agak seperti pembodohan.

Saya gak tahu, ini ide Prabowo atau ide Neno Warisman sendiri. Tapi, kampanye begini benar-benar diluar nalar. Mungkin, hitung-hitung, kalo kalah, masih ada banyak hasil sumbangan yang terkumpul dari rakyat.

Mungkin dipikirnya, kalo kalah Pilpres, Neno Warisman masih dapat bagian, kelompoknya masih dapat bagian. Sementara rakyat semakin miskin, Prabowo akan semakin kaya.

Dan, inilah cara mudah membuat Indonesia punah. Rakyat sudah miskin, suruh jihad harta, lalu rakyat Indonesia semakin miskin, tinggal tunggu sebentar aja punah.

Herlina Butar-Butar
Laboratorium Medis, Manajer di Alkes, Owner Laboratorium, Wartawan, NGO, Mendirikan BUMDES pertambangan (Non-Mercurial Gold Mining Project)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengenal Beberapa Khazanah dan Pemikir Islam

Abad ke-14 dunia Islam mengalami kelesuan, akan tetapi dari Tunisia lahirlah seorang pemikir besar yaitu Ibn Khaldun (Abdurrahman ibn Khaldun, w. 808 H/1406 M)...

Seharusnya Perempuan Merdeka Sejak Usia Dini

Gender memberikan dampak yang berarti sepanjang jalan kehidupan seorang manusia. Tetapi karena diskriminasi atas dasar jenis kelamin dalam awal kehidupan, konsep kesetaraan bahkan pengetahuannya...

Disleksia Informasi di Tengah Pandemi

Perkembangan teknologi yang sudah tak terbendung bukan hal yang tabu bagi semua orang saat ini. Penerimaan informasi dari segala sumber mudah didapatkan melalui berbagai...

Opsi Menunda atau Melanjutkan Pilkada

Perhelatan akbar pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 akan bergulir. Pilkada yang sejak era reformasi pasca amandemen UUD 1945 telah memberi ruang...

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.