Sabtu, Maret 6, 2021

Negara Plastik, Ketimpangan Edukasi Plastik

Tradisi Suro dalam Perspektif Islam

Kontras dengan perayaan tahun baru Masehi yang gegap gempita dengan berpesta-pora khas budaya Barat, peringatan tahun baru Hijriyah justru diisi aktivitas instropeksi diri (muhasabah)...

Menjemput Kepingan Paris Van Java di Matur

Jika Tuhan menciptakan Bumi Parahyangan saat sedang tersenyum, maka demikian pula halnya ketika Tuhan menciptakan Matur. Hamparan perbukitan dengan angin yang berhembus tenang, too...

Upaya Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan

Kasus KDRT khususnya terhadap perempuan masih banyak terdengar di wilayah Indonesia. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (6/03/20) juga meluncurkan catatan tahunan (CATAHU) yang...

Fenomena Belajar Agama di Internet

Ada apa dengan cara beragama kita  hari ini, mengapa begitu marak orang-orang yang belajar agama di internet. Padahal, umumnya internet dianggap sumber yang kurang...
sintajkartika
Sinta Johan Kartika. Lahir 21 Mei 1997. Alamat Jalan Prisma, Pojok, Tiyasan, Condongcatur, Yogyakarta. Saat ini menjadi mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UPN "Veteran" Yogyakarta

Menghadapi tahun politik dan pesta demokrasi, katanya negara ini tengah dibutakan oleh segala isu yang berhubungan dengan pertarungan calon presiden, maupun wakil rakyat. Walaupun asumsi tersebut bisa dibilang benar, bukan berarti seluruh dari komponen masyarakat Indonesia turut terbutakan.

Masih ada isu-isu lain yang dianggap lebih penting, dan untungnya banyak pula pihak yang turut peduli dibanding harus terlarut dalam drama politik bangsa.

Salah satu permasalahan yang awalnya dianggap sepele dibanding isu politik adalah kondisi sampah plastik di Indonesia. Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, pada Agustus 2018, Indonesia merupakan negara kedua terbesar penyumbang sampah plastik ke laut.

Pernyataan tersebut juga didukung oleh hasil penelitian dari McKinsey and Co. dan Ocean Conservancy, bahwa Indonesia sebagai negara penghasil sampah plastik terbanyak nomor dua di dunia setelah Cina.

Data dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukan bahwa sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun, di mana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut .

Mengetahui prestasi buruk tersebut, mungkin banyak yang sudah mengkampanyekan gerakan diet plastik. Namun, topik ini menjadi lebih hangat dari sebelumnya ketika muncul rentetan peristiwa yang menjadi viral lewat media sosial. Postingan viral sekaligus bentuk tamparan untuk negara plastik ini.

Postingan foto yang diunggah oleh WNA bernama Jordan Simons dengan nama akun @thelifeofjord di Instagram dan Twitter, adalah salah satu potret kondisi sampah di Indonesia yang berhasil mendapat perhatian besar publik.

Jepretan drone tersebut memperlihatkan  seorang perempuan berbikini, berbaring di pantai dengan sampah di sekelilingnya. Video dan foto-foto lain tentang binatang laut yang mati karena sampah plastik juga hadir sebagai bentuk peringatan pada penduduk negeri ini.

Kesadaran akan buruknya dampak sampah plastik yang membludak nyatanya sudah timbul di lingkungan masyarakat. Entah kita sadari bersama atau tidak, munculnya para penjual sedotan stainless yang bahkan menjadi tren di kalangan anak muda, adalah bukti meningkatnya semangat diet plastik.

Bukti lainnya seperti semakin meningkatnya para penjual dan pengguna tas belanja ramah lingkungan, serta kesadaran masyarakat untuk membawa botol minum dibanding harus membeli air dalam kemasan.

Proses positif di atas memang pantas untuk kita apresiasi dan jalankan bersama. Namun, mengapa sepertinya permasalahan sampah plastik ini tak kunjung membaik hingga sekarang? Ada beberapa alasan yang dapat menjadi perhatian untuk semua pihak.

Pertama, adalah ketimpangan. Ketimpangan dalam hal kesadaran maupun kebijakan.  Meningkatnya kesadaran masyarakat perkotaan dan kaum muda untuk menggeser segala teknologi yang berbahan plastik, nyatanya tidak diimbangi dengan kesadaran yang sama oleh masyarakat di pinggiran kota maupun pedesaan. Bisa dibilang, hampir seluruh warung makan dan toko kelontong di Indonesia masih menggunakan sedotan maupun kantong plastik untuk para konsumennya.

Kesadaran yang tidak merata ini bisa menjadi salah faktor mengapa diet plastik sebagaian masyarakat menjadi sia-sia. Edukasi adalah salah satu langkah dasar yang dapat mengurangi permasalahan ini.

Edukasi media sosial sudah terjamah oleh kaum-kaum canggih Indonesia, namun belum tentu didapatkan oleh masyarakat kelas bawah maupun para generasi tua. Sudah waktunya para penggiat diet plastik memperluas sasaran kampanye mereka dari kaum muda dan modern, ke masyarakat biasa, khususnya suburban dan pedesaan.

Ketimpangan selanjutnya mengenai kebijakan dari pemerintah. Di Bali, khususnya Denpasar, serta beberapa kota besar seperti Bogor dan Jakarta memang ada wacana terdekat, bahkan aturan yang sudah berlaku tentang mengurangi penggunaan kantong plastik. Sayangnya, kebijakan tersebut bahkan belum menjadi wacana di kota-kota lainnya.

Bukan hanya ketidaksinambungan, konsistensi pemerintah pada kebijakannyapun sangat buruk. Di kota yang sudah diatur saja masih banyak penggunaan plastik mubazir, apalagi di daerah yang bahkan belum ada edukasi maupun sosialisasi.

Aturan kantong plastik berbayar sempat berlaku di beberapa kota besar Indonesia, seperti Jogja, Jakarta, dan Bandung. Namun aturan tersebut hilang dengan sendirinya, entah bagaimana. Hanya bertahan beberapa bulan, saat ini konsumen bisa bebas menggunakan plastik ketika berbelanja.

Mengaca dari banyak negara yang dapat konsisten seperti Swiss dan Inggris, bukan berarti Indonesia tidak bisa mempertahan aturan-aturannya, perlu usaha yang lebih dari sebelumnya, juga pemerataan kebijakan di seluruh daerah Indonesia.

Alasan kedua yang patut menjadi perhatian adalah sistem pengelolaannya. Menyelesaikan masalah sampah plastik tidak cukup dengan gerakan diet plastik. Semua warga yang hidup di Indonesia, harus paham dan tahu bagaimana memperlakukan sampah plastik semestinya. Ketika akhirnya banyak yang terbuang ke laut, harusnya timbul banyak pertanyaan dan evaluasi adakah yang salah dengan sistem jalannya sampah-sampah plastik di Indonesia.

Jepang adalah salah satu negara pengelola sampah terbaik di dunia. Padahal, di Jepang hampir semua produk yang diperjual belikan dibalut dalam kemasan plastik yang hiegenis, khususnya makanan. Kebiasaan orang Jepang memperlakukan sampah plastik adalah kunci yang membedakan bangsanya dengan Indonesia.

Dari pihak warga dan pemerintahnya, Jepang memperlakukan sampah secara disiplin. Reduce, Reuse, dan Recycle bukan hanya selogan semata. Selain karena kecanggihan teknologi yang mereka miliki, masyarakat sebagai tangan pertama juga turut berpartisipasi.

Di pengolahan akhir, hasil berupa limbah makanan dan dapur bisa menjadi sumber daya penghasil listrik, sedangkan plastik didaur ulang menjadi bahan atau barang yang dapat dimanfaatkan kembali. Mencari jalan keluar permasalahan sampah plastik, Indonesia bisa belajar dari apa  yang dilakukan oleh Negeri Sakura tersebut.

Mengubah sistem dan menyelesaikan permasalahan sampah memang tidak semudah yang kita bayangkan. Tidak ada hari tanpa menghasilkan sampah, namun optimisme melepas prestasi negara plastik tetap dapat kita tanamkan dan wujudkan bersama.

Isu yang kita anggap remeh, nyatanya adalah permasalahan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Limbah plastik bukan hanya tanggung jawab beberapa pihak. Saat ini, kesinambungan antara produsen, konsumen, dan pembuat kebijakan di segala penjuru bangsa adalah penting adanya.

sintajkartika
Sinta Johan Kartika. Lahir 21 Mei 1997. Alamat Jalan Prisma, Pojok, Tiyasan, Condongcatur, Yogyakarta. Saat ini menjadi mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UPN "Veteran" Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.