Kamis, Februari 25, 2021

Negara “Lem Aibon”

Hasil Survei Prof Andalan Juara

Jika Pilkada Sulsel Dilaksanakan Saat ini, Menurut Survei Indo Barometer Prof Andalan JuaraCerita-cerita manis tentang keberhasilan Profesor Andalan, Nurdin Abdullah, terus jadi perbincangan yang...

‘Melawan Kemusyrikan di Purwakarta’

Semenjak di Pimpin oleh Dedi Mulyadi Purwakarta memang menjadi primadona di kancah nasional maupun Internasional.Selain karena sederet prestasi yang di gapai dengan berbagai kebijakan,...

Ramadhan dan Kontra Terorisme

Apapun alasannya, aksi Teror yang dilakukan beberapa hari ini di sejumlah tempat di tanah air, mulai dari bom di Gereja Surabaya sampai penyerangan di...

Keterwakilan Perempuan Pemecah Kebuntuan

Menolak calon legislatif yang terlibat kasus korupsi sebagai pangkal pemilu yang berintegritas menuai jalan buntu. Tentu sejak bergulirnya demokrasi dengan perangkat sistem pemilihan umum,...
Totoh Wildan
Pembelajar Hukum Lingkungan Hidup, Hak Asasi Manusia dan Tata Kelola Negara

Pada suatu hari yang cerah, seorang anak lelaki kumuh masuk ke dalam angkutan kota. Penampilan tadi membuat penumpang lain menjadi was-was. Memakai topi yang seperti sudah lama tak dicuci, berpadu dengan banyak sisa lem yang menempel di wajah dan tangan si anak lelaki ini.

Setelah beberapa meter berjalan, anak lelaki itu mengeluarkan sebuah lem aibon dan menghisap tanpa menghiraukan kehadiran penumpang lain. Hisapan demi hisapan terus dilakukan anak lelaki ini, berpadu dengan tatapan risih penumpang lain.

Cerita anak pecandu lem aibon di atas, merupakan satu cerminan kecil potret buram generasi “anak zaman now” perkotaan yang terbuai dalam dunia anak jalanan. Kerasnya hidup dijalanan memberikan andil lahirnya generasi anak lem tadi. Aroma lem aibon bagi anak tadi, mungkin seperti hiburan murah di tengah kehidupan perkotaan yang memang kian menjauh dari nilai-nilai moral, hukum dan lokal.

Fenomena anak lem tadi jika ditelusuri, merupakan sindrom umum yang tengah melanda kehidupan masyarakat. Hamparan jalan yang mulus pada angkutan kota tadi, pada akhirnya tidak menjamin dapat memberikan hamparan rezeki bagi setiap penghuni jalanan tadi.

Indonesia pada beberapa tahun terakhir, sedang dibuai dengan pembangunan infrastruktur. Baik itu membangun bandara, pelabuhan, jalan dan tempat umum lainnya. Proyek besar yang seharusnya menjadi “jalan” untuk membangun peradaban baru, justru menyimpang dan menjadi “lem aibon” yang memabukan masyarakat.

Aroma lem aibon yang bernama proyek infrastruktur itu, membawa masyarakat Indonesia mabuk dan tidak sadar akan kemunduran satu langkah peradaban Indonesia. Dalam buaian lem aibon bernama infrastuktur, masyarakat tidak sadar akan hilangnya satu nilai berharga yang selama ini menjadi kekuatan bangsa ini, yaitu hilangnya nilai-nilai sosial masyarakat lokal.

Salah satu contoh proyek infrastuktur adalah dibangunnya proyek kereta cepat Bandung-Jakarta. Pembanguan proyek kereta cepat akan melahirkan ekonomi baru, tapi dari sisi lain, nilai-nilai lokal yang terhampar dari Bandung, Purwakarta, Bekasi dan Jakarta akan tertindih bersama kumpulan batu dan besi proyek kereta cepat.

Petani yang selama ini menanam padi dengan riang gembira, dipaksa pergi dan meninggalkan hijaunya padi disawah-sawah mereka. Bukan hanya itu, ikatan sosial yang sudah terbangun, hilang seiring dengan berubahnya sawah, rumah, masjid, sekolah menjadi proyek kereta cepat.

Berkaca pada kasus proyek infrastuktur lain yaitu bendungan Jatigede, masyarakat Jatigede yang kebanyakan petani, berubah dari masyarakat beradab berbasis nilai-nilai local dan agama menjadi masyarakat tak beradab tanpa nilai-nilai local. Hal ini bisa dilihat dari maraknya kasus pencurian, perampokan pasca perpindahan ke tempat baru. Perubahan ini dapat terjadi karena masyarakat mengalami kebingungan dengan budaya baru ditengah kebingungan identitas baru, pasca hengakang dari sawah-sawah mereka.

Bukan hanya hilangnya nilai-nilai local, ada bencana lain yang tidak disadari yaitu lahirnya bencana ekologis bagi masyarakat. Bencana ekologis merupakan bencana yang tak dapat terhindarkan, mulai dari banjir, longsor, kekeringan. Bencana ekologis ini akan mudah terjadi ketika terjadi perubahan pada bentang dan struktur alam.

Hilangnya area persawahan akan melahirkan 3 dampak langsung pada lingkungan hidup, yaitu berkurangnya tempat resapan air, bertambahnya daerah potensi yang akan terkena kekeringan dan degradasi kualitas kesehatan hidup bagi masyarakat.

Derita tak kasatmata ini, tak akan dirasakan dan disadari oleh masyarakat yang sedang mabuk akibat aroma lem infrastruktur. Aroma lem aibon ini membuat masyarakat hilang kesadarannya akan sesuatu yang sedang menghilang dibanyak tempat akibat proyek infrastruktur.

Layaknya anak lelaki dalam angkutan kota yang sedang menikmati lem aibon, masyarakat yang sedang mabuk karena kuatnya hegemoni dan dominasi proyek infrastruktur. Dan pada akhirnya lem aibon itu akan merugikan masyarakat sendiri.

Kini sindrom mabuk lem aibon ini akan kian meluas. Datangnya tahun politik pada 2018 dan 2019, secara tidak langsung akan memberikan tambahan “kaleng baru lem aibon” untuk “dikonsumsi” oleh masyarakat secara bersama-sama.

Totoh Wildan
Pembelajar Hukum Lingkungan Hidup, Hak Asasi Manusia dan Tata Kelola Negara
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Polemik Pernikahan Dini Masa Pandemi

Menyebarnya virus covid 19 di Indonesia sangat cepat dan menyeluruh ke berbagai wilayah dari kota besar sampai daerah pelosok desa. Virus ini terjadi mulai...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

Revitalisasi Bahasa Daerah Melalui Tradisi Santri

Bahasa daerah merupakan bahasa awal yang digunakan manusia dalam berkomunikasi. Melihat bahasa daerah di Indonesia sangat banyak ragamnya dan merupakan kekayaan budaya Indonesia, seiring...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.