Senin, Oktober 26, 2020

Negara Islam untuk Indonesia Is A Bad Idea

Papua dan Militer yang Eksis

Apa yang pertama kali ada dalam bayangan manusia modern ketika mendengar nama Papua? Freeport dan alam yang indah mungkin adalah pilihan utama yang muncul...

PSI dan Nasib Perempuan Perdagangan Orang

Ditengah kecamuk tahun politik, persis saat partai saling “pukul” kemudian alpa dengan hal-hal konkrit yang dibutuhkan masyarakat, saya mengapresiasi langkah Partai Solidaritas Indonesia (PSI)...

Paperless Culture

Kertas adalah benda ajaib yang membantu dan memudahkan banyak hal dalam hidup kita. Mulai dari pembungkus makanan, buku catatan, tisu hingga struk belanja, kehidupan...

Kegagalan Melki Membaca Made Supriatma

Malam ini agenda saya untuk istrahat sejenak memeras otak untuk berpikir dan menjauhkan sejenak mata saya yang mulai rabun akibat terlalu lama terpapar layar...
Ruth Stephanie
Content writer. For me, "Educating the mind without educating the heart is no education at all."

Beberapa minggu yang lalu, saya mendapatkan info bahwa akan ada sebuah diskusi yang mengangkat Islam, Demokrasi, dan Identitas Indonesia sebagai topik pembicaraannya. Jelas saja saya sangat tertarik.

Sebelum me-reserved tempat, saya pun juga ikut me-share info diskusi ini ke beberapa teman saya. Siapa tahu, ada juga yang tertarik untuk menghadiri diskusi ini. Komentar yang saya dapatkan beragam, tetapi ada komentar yang begitu menarik menurut saya. Begini, “Itu kan tentang Islam, ‘Teph. Lo kan bukan Islam, untuk apa ikut-ikutan?” Menarik, bukan?

Akhirnya, tadi pagi (Kamis, 6 Desember 2018) di sela-sela kesibukan saya, saya dapat mengikuti diskusi yang menarik ini yang diselenggarakan oleh Leimena Institute dan Erasmus Huis yang bertempat di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta sebagai tuan rumah. Penuh. Tak ada bangku kosong yang terlihat. Para mahasiswa, pengajar, periset, jurnalis, dan berbagai kalangan pun dapat terlihat di ruang diskusi yang nyaman tersebut.

Sayang seribu sayang, diskusi yang diambil dari judul buku yang ditulis oleh seorang Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif ini, tidak bisa dihadiri langsung oleh beliau sebagai penulis. Kami hanya disajikan sebuah video berdurasi kurang lebih 15 menit mengenai pendapat seorang Syafii Maarif akan Islam, Demokrasi, dan Identitas Indonesia.

Walau begitu, hal tersebut tidak menjadikan diskusi ini bagaikan tak ada nyawa. Masih ada para pembicara yang memaparkan pendapatnya masing-masing akan Islam, Demokrasi, dan Identitas Indonesia.

Sebut saja ada Bapak Jakob Tobing seorang mantan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh sekaligus Presiden Leimena Instutute, ada pula Ibu Elsebeth Søndergaard, seorang Diplomat Denmark, dan tentu saja Bapak Azyurmadi Azra, seorang cendekiawan muslim ternama. Selain itu hadir pula Bapak Alwi Shihab, seorang mantan Menteri dan paman dari jurnalis ternama pula, Mbak Najwa Shihab.

Kawan ketahuilah, bahwa semua yang berasal dari Arab itu adalah Islam, padahal sejatinya tidak. Begitu garis besar yang disampaikan seorang Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif atau biasa dikenal oleh Buya Syafii lewat video yang diberikan, terutama untuk para pemuda. Selain itu pula harus ditegaskan bahwa ketidakselarasan pandangan terhadap agama dapat melahirkan kesalahan konsepsi sehingga berpotensi merusak demokrasi terutama di Indonesia.

Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Bapak Azyumardi Azra akan demokrasi di Indonesia. Sebagai rakyat Indonesia seharusnya harus lebih menghargai nilai-nilai Pancasila dan menguatkan demokrasi di negeri sendiri. Jangan pindahkan apa yang terjadi di Suriah dan Yaman misalnya ke Indonesia. Hal ini juga dikuatkan karena banyaknya muslim di Indonesia yang melihat Islam di Timur Tengah sebagai panutan, hal ini lah yang menjadi salah satu pemicu tren politik identitas di Indonesia.

Hal yang perlu digarisbawahi dari pendapat cendekiawan Muslim ini adalah bahwa memang belakangan banyak gerakan yang mengatasnamakan politik identitas terutama mengaitkan diri dengan agama (kita pasti tahu gerakan tersebut), namun menurut beliau lagi, politik identitas berbasis agama tersebut juga tidak akan memenangkan kekuasaan politik di Indonesia.

Jakob Tobing pun ikut memberikan suaranya. Ia menambahkan bahwa seharusnya identitas Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya harus menjunjung tinggi apa itu keberagaman dan pluralisme.

Untuk para pemuda pula, yang merupakan generasi penerus bangsa, harus mengerti perbedaan antara berbangsa dan beragama. Sehingga mengerti pula di mana harus menempatkan ayat-ayat konstitusi dan ayat-ayat kitab suci dalam melangsungkan hidup sebagai manusia. Hal ini berlaku untuk semua agama yang dianut di Indonesia.

Bapak Alwi Shihab pun hanya menambahkan akan kekhawatirannya akan fenomena Habib yang semakin banyak ditemukan di sudut-sudut Indonesia. Padahal Habib baginya adalah seorang pembimbing yang bijak akan tutur kata hingga perlakuan dalam melihat segala sesuatu untuk kehidupan para pengikutnya. Sambil tertawa pula beliau mengatakan oleh karena itu, Abangnya tidak ingin menambahkan kata ‘Habib’ untuk namanya.

Akhir kata, kalimat yang terus saya ingat dari seorang Bapak Azyumardi Azra, seorang akademisi Islam, dengan tegas beliau mengatakan bahwa Negara Islam untuk Indonesia Is A Bad Idea. Seharusnya kita sebagai warga negara Indonesia harus bangga karena di Indonesia saja yang merayakan Hari Besar setiap agama yang dianut bersama. Kita beragam, kita berbudaya, kita punya identitas bangsa yang harus dibanggakan!

Benar. Lantas, mengapa kita takut akan keberagaman? Bukankah kita harus bangga akan itu? Saya percaya bahwa identitas masyarakat Indonesia itu sudah ada, yakni masyarakat pluralis yang toleran. Beragam yang berada di atap yang sama bernama Indonesia.

Kembali ke komentar yang saya dapatkan lewat WhatsApp, saya hanya membalas singkat saat itu, “Gak harus menjadi Islam kan untuk ikut diskusi dan belajar mengenai demokrasi di Indonesia?”

Hasilnya hanya centang biru.

Ruth Stephanie
Content writer. For me, "Educating the mind without educating the heart is no education at all."
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.