Senin, Januari 25, 2021

Nasionalisme Atlet dalam Bingkai Sepak Bola

Degradasi Moral Pelajar Masa Kini, Refleksi Masa Depan Bangsa?

Di era globalisasi saat ini yang segala sesuatunya manusia selalu mengandalkan teknologi merubah pola hidup masyarakat secara global. Tentunya ini sangat merubah banyak hal...

Generasi “Iron Stock” Pertahankan Bahasa Indonesia Melalui Medsos Bukan Generasi Pemerkosa

Oleh : Ina Herlina Syam* Sejarah telah mencatat, bahwa generasi muda Indonesia telah bersumpah dihadapan tanah Air Indonesia untuk berbahasa satu yakni Bahasa Indonesia, dan...

Elite dan Pejabat Publik Peka Sosial?

Beberapa hari lalu kita tentu memahami pidato presiden bahwa banyak dari para elite utamanya pejabat publik yang bekerja biasa-biasa saja. Presiden Joko Widodo menyayangkan...

Delusi Pembangunan

Pembangunan selalu diimajinasikan sebagai lahirnya kota-kota yang gemerlap, dikelilingi gedung-gedung pencakar langit yang nampak angkuh dengan kokohnya beton-beton yang kian menunjukan kesombongannya dan kepongahanya—pembangunan...
Dinda Dwi Wijayanti
Mahasiswa Ilmu Sejarah, Universitas Airlangga

Nasionalisme sejatinya tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa Indonesia merupakan masyarakat yang multikultural. Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia yang dikenal mampu menumbuhkan kekuatan berjuang melawan penindasan yang dilakukan para penjajah.

Perasaan senasib dan sepenanggungan yang dialami mampu mengalahkan perbedaan etnik, budaya dan agama sehingga lahirlah sejarah pembentukan kebangsaan Indonesia. Oleh karena itu sikap nasionalisme atau semangat kebangsaan adalah salah satu aspek yang harus selalu diperjuangkan.

Mengutip dari pendapat Kusumawardhani dan Faturochman, Nasionalisme merupakan rasa cinta tanah air yang muncul melalui identitas nasional sehingga menimbukan, memunculkan perasaan setia dan mengabdi pada negara. Namun, dalam memunculkan spirit nasionalisme terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya yaitu bahasa, semboyan negara, kondisi geogafis, dan lagu kebangsaan.

Olahraga merupakan salah satu sektor yang menjadi perhatian dari pemerintah untuk dikembangkan secara serius di era kemerdekaan. Olahraga memiliki potensi yang cukup besar untuk mengenalkan dan membanggakan Indonesia sebagai bangsa yang masih baru. Keberhasilan dalam dunia olahraga akan membuat bangga sekaligus mengangkat citra bangsa Indonesia di mata dunia. Keberhasilan dalam pembinaan olahraga serta prestasi yang berhasil diraih menjadi magnet penarik perhatian bagi bangsa-bangsa lainnya dalam memandang Indonesia.

Olahraga  di Indonesia semakin lama semakin mewarnai prestasi di kancah internasioanal. Terutama prestasi dari kalangan generasi milenial menuai perkembangan yang sangat pesat. Atlet – atlet Indonesia yang sudah berjuang untuk mengharumkan nama bangsa tersebar kedalam berbagai wilayah.

Beberapa cabang olahraga perlahan – lahan diraih  Indonesia mulai dari cabang renang, sepak bola, voli, karate, hocky dan lain- lain. Olahraga dapat menjadi media menanamkan semangat nasionalisme dan nilai – nilai kehidupan tanpa adanya paksaan. Melalui olahraga identitas nasional dan solidaritas nasional dapat terbentuk.(Frey & Eizten, 1991)

Para atlet nasional  khusunya kaum milenial telah banyak berkontribusi untuk Indonesia dikancah Internasioanal tentu mempunyai banyak pengalaman yang bisa mereka dapatkan. Pengalaman yang mungkin tidak dimiliki oleh para atlet lain adalah mereka berkesempatan membawa nama Indonesia di dunia dan bisa bersaing dengan Negara lain. Mereka juga berkesempatan berjuang agar Indonesia tidak dipandang sebelah oleh Negara lain.

Peran Olahraga Sepak Bola

Pada masa kolonial peran sepak bola sudah terlihat sejak masa Hindia Belanda. Terdapat 3 kekuatan besar pada organisasi sepak bola masa Hindia Belanda. Yang pertama, Nedherlansch Indische Voetbal Bond (NIVB) merupakan organisasi di kota -kota besar jajahan Hindia Belanda seperti di Surabaya, Batavia, Bandung, Semarang, Malang, Surakarta dan Yogyakarta. Organisasi ini membentuk perkumpulan ini dalam wadah organisasi NIVB pada tahun 1919.

Kedua, Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB) sebagai organisasi yang menjadi kekuatan besar dalam olahraga sepak bola milik etnis Tionghoa yang terdiri dari kesebelasan Tionghoa di Hindia Belanda, UMS Batavia, Tionghoa Surabaya, YMC Bandung, dan Union Semarang. Ketiga, Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) setelah Sumpah Pemuda dikumandangkan 1928, akhirnya Bumiputera memiliki wadah organisasi sepak bola sendiri dibawah naungan pribumi nenjadi salah satu momen berdirinya PSSI. Didalamnya terdapat 7 bond yang menginisiasi PSSI.

Pada masa Orde lama kebijakan Presiden Soekarno olahraga sepak bola beriringan dengan politik sehingga memunculkan Nasionalisme dan Politik Sepak bola. Keikutsertaan dalam kejuaran Asian Games pertama kali di New Delhi melalui keputusan kongres PSSI 1950 di Semarang. Asian Games II yang diselenggarakan di Manila, Filipina tahun 1954 dan Asian Games III  yang diselenggarakan di Tokyo, Jepang tahun 1958.

Pada periode Asian Games I dan II, Indonesia pada saat itu berhasil memperbaiki citra dan prestasi dalam cabang sepak bola. Indonesia berhasil melaju ke babak semifinal melampaui capaian Asia Games I. Begitupun Asian Games III popularitas indonesia semakin naik dengan meningkatnya kualitas permainan disetiap keikutsertaanya.

Pada Asian Games IV Indonesia berhasil menjadi tuan rumah mengungguli Taiwan dan Pakistan dalam pemungutan suara yang cukup mengejutkan. Keberhasilan menjadi tuan rumah tidak terlepas dari peran Sri Paku Alam VIII dan Wakil Ketua KOI R.Maladi setelah mendapat amanat dari Soekarno agar Indonesia menjadi tuan rumah.

Dalam Masa Orde Baru, “Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat” slogan tersebut merupakan sebuah usungan milik Presiden Soeharto dalam pembangunan Nasional melalui olahraga salah satunya sepak bola. Slogan tersebut muncul dan dirancang oleh Soeharto melalui program Repelita Ill dan Repelita IV. Pelopor Slogan tersebut tidak terlepas dari peran M.F. Siregar dalam olahraga Nasional.

Dalam slogan tersebut seluruh masyarakat diwajibkan melakukan aktivitas olahraga terutama pada instansi Pemerintah, sekolah, dan penambahan mata pelajaran olahraga baik materi maupun tenaga pendidik. Sehingga, munculnya wadah kompetisi sepak bola Indonesia dengan pengelolaan semi profesional yakni seperti Galatama, Galanita, Calakarya, Galasiswa.

Hal ini terlihat bahwa sepak bola merupakan salah satu olahraga yang mengharumkan nama sebuah bangsa dan negara Indonesia dalam pertandingan internasional. Secara langsung, sepak bola memiliki misi diplomatik untuk membudayakan seperti apa sepak bola Indonesia dan promosi Indonesia secara resmi yang selalu mendapat dukungan negara. Pemerintah Indonesia sebagai pelaksana pemerintahan menginginkan terciptanya citra yang positif mengenai bangsa dan negara yang didaulatkan dalam sepak bola.

Sumber :

Kusumawardan, Anggraeni dan Faturochman. 2004. Nasionalisme. Universitas Gadjah Mada. Buletin Psikologi, Tahun XII, No. 2, Desember

Rosyadi, Fachriza. 2018. Makna Nasionalisme di Kalangan Atlet. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Airlangga

Aji, R.N. Bayu. 2013. Nasionalisme dalam Sepak Bola Indonesia Tahun 1950-1965. Program Studi S2 Ilmu Sejarah Universitas Gajah Mada Lembaran Sejarah, Vol. 10, No. 2: hlm. 135-148.

Dinda Dwi Wijayanti
Mahasiswa Ilmu Sejarah, Universitas Airlangga
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Menteri Agama Memang untuk Semua Agama, Mengapa Tidak Kita Dukung?

Pernyataan Menteri Agama, Gus Yaqut, bahwa dirinya adalah “menteri agama untuk semua agama” masih menyisakan perdebatan di kalangan masyarakat. Bagi mereka yang tidak sepakat,...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.