Sabtu, Maret 6, 2021

Nasib Pendidikan Tinggi dan Tenaga Kerja Kita

Dilematis Mawar dan Benalu

Ilham Akbar Habibie, sebuah nama yang membuat orang tidak ragu lagi bahwa yang bersangkutan memiliki ikatan darah dengan mantan presiden Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie....

Wiranto Sang Jenderal

Jenderal TNI (Purn) Dr. H. Wiranto, S.H. putra kelahiran Yogyakarta. Wiranto merupakan tokoh militer. Wiranto pernah menjabat Panglima TNI Periode 1998-1999. Wiranto sekarang menjabat...

Paris Saint-Germain, Ujian Sesungguhnya Setan Merah

Sebelum pembahasan ini kita mulai, Marilah sejenak kita luangkan waktu kita untuk mengenang salah satu tragedi terbesar dalam dunia sepakbola. 6 Februari 51 tahun...

Pemuda Desa: Bertani, Mengabdi, Menikah Dini?

"Mereka bukan pemuda, mereka itu bapak-bapak yang sudah pada punya anak." Pernyataan seorang ibu ini tentu saja berdasarkan apa yang dia pahami. Baginya, meskipun seseorang...
Eva Karina
Dosen di Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur dan Peneliti di Center for Identity and Urban Studies (CENTRIUS)

Selama ini di Indonesia mengakar sebuah pemahaman yang diyakini oleh khalayak ramai bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin besar pula peluangnya mencapai kesuksesan.

Dalam hal ini berarti memiliki kondisi pekerjaan dengan jenjang karir yang baik sehingga berimplikasi pada meningkatnya jumlah pendapatan seseorang. Pendidikan dipercaya memiliki implikasi langsung terhadap penyerapan tenaga kerja dan tentunya peningkatan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat.

Tidak heran ketika permasalahan klasik mengenai tingkat pengangguran di Indonesia diangkat, maka pemahaman linier inilah yang akan dijadikan satunya-satunya kerangka berpikir dalam membingkai permasalahan ini.

Media pemberitaan belakangan ini giat menyoroti permasalahan tingginya jumlah lulusan sarjana yang tidak terserap pasar tenaga kerja. Berdasarkan catatan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), sekitar 8,8 persen dari total 7 juta pengangguran di Indonesia adalah sarjana.

Menanggapi fakta ini, Menristekdikti menyampaikan bahwa persoalan ini berangkat dari relevansi antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan dunia industri yang masih rendah. Sebagai konsekuensinya, solusi utama yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah tuntutan bagi pendidikan tinggi untuk mereformasi kurikulumnya agar dapat sesuai dengan kebutuhan dunia industri.

Tidak sampai disana, atas rekomendasi Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) saat ini pendidikan tinggi pun dituntut untuk membekali lulusan S-1 dengan sertifikat kompetensi sebagai pendamping ijazah.

Betapa pekerjaan menempati posisi utama dalam memberi makna dan arti penting pendidikan di negeri ini. Semakin jelas pula bingkai pemahaman yang selama ini melandasi arah pembangunan pendidikan di Indonesia, dimana pekerjaan selalu menjadi tujuan dan muara yang paling utama.

Namun apakah makna dan fungsi pendidikan tinggi selayaknya hanya dinilai pada kontribusinya terhadap angkatan kerja? Apakah kita hanya bisa mengamini ketika pengembangan sistem pendidikan tinggi di Indonesia hanya dapat dilakukan dalam bingkai pembangunan dan pertumbuhan ekonomi?

Perguruan tinggi sejatinya merupakan wadah bagi geliat akademik dalam memproduksi pengetahuan tentang beragam aspek kehidupan masyarakat secara luas, yang membawa manfaat besar bagi transformasi sosial.

Ilmu pengetahuan lahir sebagai manifestasi dari upaya masyarakat untuk menghadirkan jawaban dan penjelasan atas berbagai perubahan dan dinamika yang terjadi di dalam kehidupan. Melalui kerja ilmu pengetahuan, hadirlah pelbagai pengetahuan yang menjadi pijakan bagi masyarakat untuk mengatasi berbagai kesulitan dan permasalahan yang muncul, seiring dengan dinamika dan perubahan dunia.

Lebih dari itu, tercatat dengan tinta tebal di dalam perjalanan sejarah umat manusia di dunia, bahwa ilmu pengetahuan adalah senjata perubahan sosial. Ia adalah instrumen, dan sekaligus menjadi pijakan bagi masyarakat untuk meretas transformasi bentuk kehidupan menuju kepada kondisi yang lebih baik.

Namun kini adalah suatu hal yang lazim di negeri ini, keberadaan dan fungsi dari perguruan tinggi tak ubahnya seperti pabrik yang memproduksi buruh dengan keterampilan dan kompetensi yang siap pakai. Upaya merestrukturisasi budaya akademis agar sesuai dengan prinsip pasar telah mengarah pada komodifikasi pendidikan yang mendorong lulusan untuk bersikap pasif dan instrumental.

Konsekuensinya adalah muncul  ancaman terhadap pengembangan pengetahuan dan otonomi keilmuan di perguruan tinggi. Lulusan dan kurikulum pendidikan sarjana dirancang semata-mata agar sesuai dengan kebutuhan pasar yang mengedepankan ilmu-ilmu terapan dan meminggirkan ilmu-ilmu yang menjelaskan fondasi ontologi dan epistemologi suatu disiplin ilmu. Akibatnya adalah tenaga dan peserta didik terjerumus dalam batas-batas pengetahuan yang sempit.

Perguruan tinggi, yang hakikatnya merupakan wadah bagi bekerjanya ilmu pengetahuan, tidak pernah dinilai berdasarkan ukuran mengenai kiprahnya terhadap perbaikan kondisi kehidupan masyarakat. Tampak seakan arti penting pendidikan dan ilmu pengetahuan hanyalah sebatas tempat untuk mendapatkan keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan guna mendapatkan pekerjaan. Sehingga cukup diukur dan direduksi berdasarkan reputasinya di kalangan pemberi kerja.

Tidak heran jika perguruan tinggi tidak bergairah untuk menggerakkan aktivitas keilmuan guna meretas transformasi sosial di masyarakat. Kalaupun ada, wujudnya didominasi oleh program-program pengabdian masyarakat dan penelitian yang berujung pada transformasi kehidupan masyarakat di berbagai wilayah menuju terciptanya kondisi-kondisi yang sesuai bagi kebutuhan akumulasi kapital skala nasional dan global. Program-program yang mendorong transformasi struktur ekonomi masyarakat yang menjadikan kehidupan mereka tersedot ke dalam rantai produksi kapitalis global.

Sebaliknya, laju pertumbuhan perguruan tinggi di Indonesia selama beberapa tahun terakhir terus saja digerakkan oleh semangat dan ambisi untuk menjadi universitas kelas dunia. Menjadi universitas yang terkemuka di dunia, namun tidak mampu memperbaiki kehidupan masyarakat di sekitarnya. Universitas yang tampak memukau di mata dunia, namun justru tak berarti di tengah kehidupan masyarakat sekitarnya yang terus digelayuti kemiskinan dan penindasan.

Demikianlah, kondisi dan arah perkembangan pendidikan di Indonesia yang diperbudak dan digerakkan untuk memenuhi pasokan tenaga kerja yang selaras dengan kebutuhan industri, justru menjadi semakin jauh dari peran pentingnya sebagai pijakan bagi transformasi sosial menuju kehidupan berkeadilan sosial.

Oleh sebab itu bingkai sempit neksus pendidikan dan pekerjaan harus segera ditinggalkan. Pendidikan, sejatinya, memiliki kekuatan dan cita-cita yang lebih besar ketimbang hanya diabdikan sebagai wadah produksi dan reproduksi tenaga kerja semata.

Paulo Freire (1970) dalam salah satu bukunya, Pedagogy of The Oppressed, menegaskan bahwa pendidikan harus diarahkan pada pembebasan idealisme melalui persinggungannya dengan keadaan nyata dan praksis. Konsep pendidikan yang diusung Freire berangkat dari konsepnya tentang manusia.

Baginya, manusia adalah incomplete and unfinished beings. Untuk itulah manusia dituntut untuk selalu berusaha menjadi subjek yang mampu mengubah realitas eksistensialnya. Menjadi subjek yang lebih manusiawi adalah panggilan ontologis (ontological vocation) manusia.

Dengan demikian, tugas utama pendidikan sebenarnya mengantar peserta didik menjadi subyek. Untuk mencapai tujuan ini, proses yang ditempuh harus melalui dua gerakan ganda, yaitu meningkatkan kesadaran kritis peserta didik sekaligus berupaya mentransformasikan struktur sosial yang menjadikan penindasan berlangsung.

Sebab, kesadaran manusia itu berproses secara dialektis antara diri dan lingkungan. Ia memiliki potensi untuk berkembang dan mempengaruhi lingkungan, tetapi ia juga dipengaruhi dan dibentuk oleh struktur sosial tempat ia berkembang.

Untuk itulah, pendidikan perlu diarahkan sebagai wadah berlangsungnya proses emansipasi dan transedensi tingkat kesadaran peserta didik, bukan belaka sebagai medium untuk memproduksi tenaga kerja siap pakai.

Eva Karina
Dosen di Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur dan Peneliti di Center for Identity and Urban Studies (CENTRIUS)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.