Sabtu, Januari 16, 2021

Nasib Honorer Siapa yang Memperhatikan?

Ketidakadilan dari Banalitas dan Hiperealitas Politik

Baliho-baliho yang memasang pemfiguran dari masing-masing calon bermunculan. Mulai dari yang berseragam merah, kuning, hingga yang jarang saya lihat. Semuanya bernada sama, bersuara sama;...

Aktualisasi Konsep “Adopt, Adapt, dan Adebt”

Dunia hari ini dilanda dengan satu petaka global, petaka mematikan, membinasakan, merusak dan merubah tatanan kehidupan manusia. Petaka ini adalah sebuah virus yang telah...

Zero Waste Mencegah Panasnya Demokrasi

Tahun 2019 ini Indonesia disibukan dengan momentum pemilihan umum serentak, yaitu pemilihan presiden, legislatif (DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota), sampai-sampai...

Memilih Diam dalam Pemilihan

Sistem politik yang sedang kita hadapi sekarang ini bernama “demokrasi”. Saya artikan demokrasi ini sebagai kebebasan dalam menyalurkan kekuasaan dari rakyat untuk rakyat. Sedapatnya...
Andika Putra
Asal Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan. Menulis adalah cara alternatif memerdekakan pikiran.

Pendaftaran CPNS sebentar lagi akan digelar baik tingkat daerah maupun tingkat pusat, bahkan formasi dan kuota CPNS pun telah diumumkan. Namun ada hal yang menarik dan terkesan mendiskriminasi bagi mereka yang telah mengabdikan diri hingga puluhan tahun lamanya.

Beberapa hari yang lalu, secara sengaja saya mendengarkan curhatan beberapa teman yang telah mengabdikan diri hingga puluhan tahun lamanya “Sudah belasan tahun saya mengabdi, jangankan diangkat menjadi PNS diperhatikan pun enggan oleh pimpinan saya. Sementara itu porsi kerja saya dengan PNS pun tidak ada beda”. Ucap seorang teman yang telah mengabdikan diri selama belasan tahun lamanya yang bahkan statusnya pun yang harusnya masuk K2 enggan mendapat pengakuan dan perhatian.

Belasan tahun bukan waktu yang singkat. Berangkat pagi pulang sore, menikmati terik hingga berpayung hujan belum lagi dibebani tugas para PNS, arogansi dan beban administrasi yang terus bertumpuk. Lalu diakhir bulan memaksakan bibir harus tersenyum dengan amplop yang isinya tidak cukup tuk membeli permen selama sebulan kedepan. Terus saja menumbuhkan harapan untuk bulan depan dan bulan-bulan selanjutnya.

Ini adalah perbudakan, kami dipekerjakan tanpa imbalan yang setimpal. Berangkat pagi pulang sore dengan upah Rp 7.400,- pun kami masih sabar. Tapi tenaga kami selama belasan tahun diabaikan adalah bentuk perbudakan bagi kami. Ini lucu bagi tetek bengek para penguasa yang tidak peduli akan pengabdian kami.

Bagaimana mungkin kami dituntut profesionalisme dalam bekerja layaknya seorang PNS sementara status pengakuan dan gaji pun tidak jelas. Di luar sana, banyak tenaga honorer yang hanya dijadikan kuda bagi para PNS. Honorer yang bekerja PNS yang keluyuran, honorer profesional dalam bekerja PNS yang terima gaji.

Hal yang seperti inilah yang terkesan aneh bin ajaib di negeri ini, menuntut profesionalisme dan kualitas kerja yang baik namun terdapat diskriminasi dalam hal pembagian upah kerja. Ini merupakan tindakan yang menciderai rasa keadilan, terlebih lagi mereka yang sudah mengabdi berpuluh puluh tahun lamanya namun statusnya saja masih dipertanyakan. Apapun alasannya seharusnya rasa keadilan harus tetap dijunjung.

Bagaimana mungkin pengabdian yang sudah puluhan tahun lamanya ditentukan hanya sehari lewat tes CPNS, lantas bagaimana dengan pengabdian yang mereka lakukan. Belum lagi jika mereka tidak lolos dan yang di loloskan adalah orang-orang baru yang bahkan belum tau dunia kerja seperti apa. Belum lagi ketika mereka tidak mampu mendaftarkan diri mengikuti seleksi CPNS lantaran usia mereka yang sudah tidak memenuhi kategori sementara itu mereka telah mengabdi selama puluhan tahun tanpa status yang jelas.

Hari ini bisa dipastikan nasib beberapa honorer gundah gulana lantaran status mereka yang masih tanda tanya. Memang sungguh menyayat hati mengingat perjuangan menghabiskan waktu mengabdi tanpa pengakuan dan kejelasan yang pasti.

Tahun ini (2018) pendaftaran cpns kembali dibuka namun kembali pegawai honorer didiskriminasikan lantaran status mereka yang belum menemui titik terang. Tidak tanggung-tanggung sebanyak 220 ribu calon abdi negara akan direkrut dengan prioritas tenaga pendidik dan tenaga medis. Namun disisi lain bagaimana nasib mereka honorer yang telah mengabdi puluhan tahun ?

Dalam UU ASN yang diberlakukan terdapat ketentuan yang mensyaratkan batas usia maksimal 35 tahun termasuk syarat pendidikan. Dan kalaupun ini yang dijadikan sebagai landasan bagi pendaftar CPNS maka bisa dipastikan jutaan tenaga honorer hanya bisa jadi penonton dan meratapi pengabdiannya bertahun-tahun yang lalu.

Ironisnya beberapa hari yang lalu pemerintah memberikan hadiah miliaran kepada pemenang asian games 2018 dan tidak hanya itu mereka juga diangkat menjadi PNS, hal tersebut tentu memicu para honorer yang sudah mengabdi puluhan tahun agar diangkat menjadi PNS sebab jika tidak hal ini menunjukkan betapa pemerintah pilih kasih dan mendiskriminatifkan pagawai honorer.

“Saya cuma berharap agar faktor usia dan masa bakti para honorer dijadikan landasan pemerintah untuk mengangkat mereka menjadi PNS agar kemampuan ekonomi mereka juga sedikit terangkat sebab kita ketahui bersama bahwa gaji tenaga honorer perbulannya bahkan untuk membeli permen dan roti selama seminggu pun tidak akan cukup”.

Andika Putra
Asal Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan. Menulis adalah cara alternatif memerdekakan pikiran.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.