Rabu, Desember 2, 2020

Nasib Eks ISIS dan Presiden Jokowi

Memahami Subyek Yang Radikal

Sungguh dalam tulisan ini saya tidak ingin berpusing-pusing membangun perspektif dengan berlandaskan tumpukan teori yang jlimet. Karena dalam bayangan saya hal tersebut akan sama...

Pendidikan: Antara Ilmu dan Moralitas

Apa yang terlintas dipikiran kita, ketika mendengar istilah pendidikan? Secara umum, ada mengingat gedung kampus, gedung sekolah, sistem pendidikan. Sebagian lagi, ada mengingat keindahan...

Mengingkari Sumpah Pemuda

Empat tahun silam tepatnya musim kampanye pilihan presiden (pilpres) tahun 2014, puluhan orang yang bergabung dalam Aliansi Masyarakat untuk Pilpres Berkulitas mendesak KPU untuk...

Jawara Pandemi

Seperti kata Kanselir Jerman, Angela Merkel Covid-19 sebagai “Es ist ernst”. Pandemi Covid-19 merupakan fenomena serius global saat ini. Sebelumnya, The World Bank memprediksi pertumbuhan ekonomi...

Kontroversi di ruang publik tentang pemulangan warga Indonesia (eks ISIS) di luar negeri sudah menemui hasilnya. Pemerintah dengan tegas menolak dan menutup pintu kedatangan eks ISIS ke Indonesia.

Sudah dipastikan, pemerintahan Presiden Joko Widodo tidak akan bertanggung jawab dalam mengurus nasib mereka. Persoalan mendasar ialah ketakutan negara jika kedatangan eks ISIS akan menjadi “virus” bagi masyarakat Indonesia yang lain. Suatu kekhawatiran yang menurut saya sangat keliru dan tidak tepat.

Dalam kaca mata saya, negara telah menghadirkan suatu keputusan yang keliru dan mendegradasikan kemanusiaan mereka sebagai manusia yang harus dilindungi. Di sini peran negara sebagai pihak yang hadir untuk memberikan kepastian belum menunjukan keberpihakan terhadap kemanusiaan.

Bahkan menempatkan mereka sebagai “virus” bagi negara merupakan statment yang sudah menyangkal kemanusiaan mereka sebagai manusia yang sejatinya harus dilindungi. Di sini saya belum menemukan keputusan urgen yang dapat dipertanggung jawabkan oleh negara dalam menolak eks-Isis untuk kembali ke Indonesia.

Jika kita melihat lebih jauh dan teliti, keputusan negara menolak dan menutup pintu bagi eks ISIS telah menghilangkan hak mereka sebagai warga negara, hak politik, hukum, budaya dan terutama kemanusiaan. Hak-hak ini secara otomatis tidak berlaku bagi mereka. Lantas sudahkan negara mempertimbangkan hal ini dengan seksama? Bukankah negara harus menjadi pihak yang bertanggung jawab mengurus nasib mereka?

Kini nasib mereka ditentukan oleh diri mereka sendiri. Bukankah dengan ini akan mengakibatkan kerepotan bagi negara dimana mereka tinggal? Saya pikir negara harus mempertimbangkan kembali keputusan tersebut agar bisa memberi ruang bagi mereka.

Saya sepakat dengan argumen yang berseliweran di media sosial bahwa aspek kemanusiaan dan kebangsaan belum menjamin bahkan sama sekali terlalu abstrak untuk digunakan sebagai parameter dalam menerima kembali mereka sebagai warga negara Indonesia.

Namun saya perlu tekankan, bahwa aspek lain sebelum keputusan itu dikeluarkan yang paling urgen adalah kemanusiaan. Karena itu, logika awal yang semstinya didudukkan dalam menyelesaikan persoalan ini ialah kemanusiaan mereka sebagai manusia.

Hal ini sangat paralel dengan konsep HAM bahwa setiap orang perlu dilindungi dan diberikan kenyamanan sebagai warga negara. Bagi saya keputusan negara hari ini belum menyasar sampai sejauh itu, tetapi terlalu terburu-buru dan tidak mendalam.

Keputusan negara belum menjawab keraguan saya akan nasib mereka dikemudian hari. Yang jelas kehidupan mereka sebagai manusia akan rentan terhadap keberingasan dan kekejaman. Mereka akan mudah ditindas, atau meminjam logika Agamben, mereka gampang terjerat dalam logika “homo sacer”. 

Dengan terperangkap dalam logika semacam ini mereka akan dengan mudah dan setiap waktu ditindas, mengalami segregasi bahkan penghilangan nyawa. Kondisi ini sebetulnya sangat merusak kehidupan mereka sebagai manusia. Di sana kemanusiaan sejatinya absen dari kehidupan mereka. Seolah inilah hadiah yang paling pantas bagi mereka (kombatan Isis). Di biarkan hidup luntang-lantung tanpa kewarganegaraan dan rentan dengan kekerasan.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib anak mereka yang lahir disana. Generasi yang seharusnya dilindungi oleh negara malah diasingkan dari negara sendiri. Suatu ironi yang sebetulnya sangat merisaukan serta memprihatinkan nasib dan masa depan mereka. Lantas sudahkan negara melihat persoalan ini dan memikirkan kelanjutan (dampak) terhadap mereka?

Keputusan negara sudah final, saya harus mengakui itu. Namun negara perlu mempertimabngkan kembali keputusan tersebut karena bagi saya ada bagian-bagian yang absen didalam kepala pengambil keputusan dalam menolak mereka. Pengambil keputusan harus jeli, tidak serta merta mengklaim mereka sebagai virus yang membahayakan negara. Langkah yang tepat ialah memberikan mereka bekal tentang nasionalisme dan pluralisme sampai mereka benar-benar kehilangan ideologi yang mereka anut (ISIS).

Hemat saya hal ini seharusnya bisa dilakukan oleh negara. Bukan malah menghadirkan suatu keputusan yang jelas-jelas tidak pro kemanusiaan. Bagi saya hal ini harus dilihat kembali dan perlu ditelaah lebih jauh. Kondisi semacam ini menjadi pelajaran penting bagi warga negara.

Pada titik ini atas nama kemanusiaan, saya menyayangkan keputusan negara. Saya harus mengakui bahwa sikap eks-Isis sangat-sangat salah dan melanggar hukum. Tetapi tidak untuk kemanusiaan karena itu merupakan nilai paling tinggi dalam masyarakat. Tanpa itu kita tidak bisa hidup.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.