Selasa, Oktober 27, 2020

Narsisme Kolektif dan Kebinekaan Kita

Fenomena Kekerasan terhadap Perempuan dan Filantropi Bernegara

Fenomena kekerasan terhadap perempuan, sepertinya tak lekang oleh zaman. Hal ini dahulu juga dialami oleh perempuan keturunan bangsawan  abad ke 19, seperti Raden Ayu...

Menagih Gebrakan Pemerintah Terhadap Reformasi UU ITE

Salah satu bentuk eksistensi dari hukum progresif ialah dapat mengikuti serta menyalaraskan terhadap peradaban zaman yang semakin maju. Salah satunya era disruptif sekarang di...

Sedekah Laut dan Moralitas Adat

Pada Sabtu ((13/10/2018) lalu, sekelompok orang ekstrimis beragama melakukan tindakan vigilantisme dengan membubarkan acara sedekah laut yang diselenggarakan oleh warga di Pantai Baru, Bantul,...

Memilih Kutub Ekonomi yang Tepat?

Perjalanan gerakan ekonomi dari zaman skolastik (pertengahan), merkantilis, dan fisiokrat menimbulkan beragam corak sejarah. Zaman skolastik yang sangat kental nuansa teologis, zaman merkantilis yang...
Audi Ahmad
Sarjana Psikologi Unair Dapat dihubungi lewat akun instagram: audiahmad_

Pernah mendengar, “Jika kelompok saya menguasai pemerintahan, negara akan dalam kondisi yang lebih baik!” atau “Kelompok saya adalah kelompok terbaik dan pantas untuk mendapat penghormatan dari kelompok lain!”?

Ungkapan-ungkapan tersebut adalah bentuk dari narsisme kolektif. Mungkin kita menjadi lebih sering mendengarnya akhir-akhir ini, entah itu berkaitan dengan tahun politik atau tidak, tetapi nampaknya fenomena ini mengalami eskalasi.

Salah satu contoh lain adalah slogan “Make America Great Again” dari Donald Trump ketika berkontestasi dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat pada tahun 2016. Trump menggunakan strategi menyerang yang kelompok lain yang dianggap berbeda, seperti kelompok imigran atau kelompok agama tertentu.

Berbeda, tetapi tetap berkaitan, dengan etnosentrisme, narsisme kolektif tidak hanya membahas tentang etnis dan budaya, melainkan pula tentang agama, tanah air, dan negara.

Narsisme kolektif melekat pada suatu kelompok dan menganggap kelompoknya adalah kelompok yang terbaik. In-group dipersepsikan memiliki keagungan, tetapi sebetulnya memiliki group self-esteem yang rendah. Kelompok lain dianggap mengancam eksistensi dari in-group, ketidaksediaan untuk memaafkan kelompok lain, dan cenderung agresif terhadap kelompok lain (de Zavala, Cichoka, Eidelson, Jayawickreme, 2009).

Kelompok dengan narsisme kolektif cenderung berprasangka terhadap kelompok lain, tetapi hanya terhadap kelompok tertentu. Contohnya, orang-orang Amerika berprasangka terhadap orang-orang Arab, tetapi tidak kepada orang Eropa (de Zavala & Cichoka, 2012)Contoh lain adalah orang-orang di Indonesia kerap berprasangka terhadap orang Tionghoa, tetapi tidak dengan orang Arab.

Narsisme kolektif pun dapat mengantarkan pada siege mentality atau dalam terjemahan kasarnya adalah mentalitas terkepung. Siege mentality adalah keyakinan bahwa seluruh dunia berperilaku negatif terhadap in-group.

Dalam studi di Polandia, kelompok nasionalis dengan narsisme kolektif mengalami siege mentality tersebut dengan merasa bahwa kelompok Yahudi “mengepung” keberadaan orang-orang Polandia, terlebih kelompok Yahudi diyakini akan mengancam identitas nasional dan akan menguasai dunia (de Zavala & Cichoka, 2012).

Pernah mendengar kasus serupa di Indonesia? Tentu pernah, hehe. Contohnya adalah ketiak beberapa anggota dari sebuah kelompok merasa terancam dengan keberadaan tenaga kerja asing, khususnya dari Tiongkok. Salah satu kasusnya adalah ketika berita yang beredar mengenai adanya serbuan TKA asal Tiongkok di Morowali, ternyata setelah diusut berita tersebut adalah hoaks.

Dengan keragaman yang dimiliki Indonesia, apakah narsisme kolektif akan terus semakin meningkat? atau justru keragaman tersebut nantinya hanya akan menjadi sebuah kisah masa lalu belaka? Jawabannya ada pada diri kita sendiri, siap atau tidak untuk terus menjaga keragaman atau kebinekaan Indonesia.

Audi Ahmad
Sarjana Psikologi Unair Dapat dihubungi lewat akun instagram: audiahmad_
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.