Kamis, Desember 3, 2020

Narasi Kebencian sebagai Krisis Adab

Korupsi itu Bukan Keniscayaan Politik

Bupati Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud merupakan kepala daerah kedelapan yang dijerat operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi lima bulan terakhir. Terungkapnya berbagai tindak pidana...

Kenormalan Baru Beragama Pasca Pegebluk

Musuh tidak nyata ini (Covid-19) telah mengambil kendali kehidupan. Tidak ada aspek kehidupan yang tidak terdampak, termasuk pola keberagamaan. Awalnya, umat Islam berharap wabah...

Menanti Nasib Mantan Anggota ISIS di Indonesia

Sejak mencapai kejayaannya di tahun 2014, wilayah ISIS secara perlahan terus berkurang dan berhasil direbut kembali oleh pemerintah Irak dan Suriah. Di akhir tahun...

Razia Buku dan Kebebasan Berpendapat yang Tak Dihargai

Kejadian razia dan menyita buku yang diduga bermuatan ajaran komunisme di toko buku yang terletak di Kabupaten Kediri, Jawa Timur pada tanggal 26 Desember...
Nur Azis Hidayatulloh
Mahasiswa dan Tinggal di Yogyakarta

Kehidupan dunia maya (media sosial) dengan realita selama ini sudah bergeser begitu jauh, nilai-nilai yang selama ini kita sepakati bersama hilang dari kebiasaan kita di layar media sosial kita.

Tinggal yang ada ialah narasi kebencian dan caci maki. Begitu juga dengan kondisi sosial kita, semua orang membicarakan politik dengan segala argumen yang mereka bangun, akan tetapi argumen yang dibangun tidak diimbangi dengan konten data dan fakta. Sehingga yang terjadi kemudian ialah narasi-narasi kosong esensi terhadap sesuatu problem yang diperdebatkan, malah terkadang terjebak pada perdebatan berita palsu (hoax).

Sesuatu yang sejatinya bersifat “remeh-temeh” bisa menjadi besar apabila setiap sudut (angle) yang dipakai untuk menafsirkan berbeda cara, seperti kemarin perseteruan yang ramai di media sosial kita membahas perihal penyebutan surat Al-Fatihah oleh Presiden Joko Widodo, latar belakang budaya dan bahasa daerah Presiden ialah orang Jawa sontak ramai dengan gaya “medok” sang presiden. Keriuhan tersebut terjadi ketika presiden mengucapkan Al-Fatihah menjadi Al-fateka dengan logat khas orang jawa.

Perseteruan yang membahas hal begini sejatinya hanya menghabiskan stamina bangsa kita, bukan untuk memperdebatkan suatu problematika atau mendiskusikan tentang penanganan secara gotong royong untuk memulihkan saudara kita yang tengah terkena bencana malah kita meributkan logat khas yang ada di suku Indonesia.

Kemana marwah Presiden sebagai simbol negara selama ini, belakangan ini bukan hanya permasalahan Al-Fateka yang menjadi perseteruan oleh warganet, hal ini menjadi lorong akhir dari banyaknya bullying terhadap Presiden kita. Hal seperti ini tidak menggambarkan sama sekali wajah masyarakat Indonesia, yang mungkin selama ini dikenal dengan “unggah-ungguh” atau sopan santun, ramah dan mengedepankan adab dalam berkomentar terhadap seorang tokoh negarawan.

Sikap inilah yang menjadi keprihatinan kita bersama, melunturnya nilai kebaikan yang menjadi ciri wajah Indonesia di mata Internasional sedikit demi sedikit hilang dari akar rumputnya.

Lihat saja, media sosial kita masih dipenuhinya akun-akun buzzer politik, yang terkadang menggunakan akun fake untuk menjatuhkan seseorang ataupun suatu kelompok. Akun provokatif tersebut sejatinya tidak harus ada dan berkembang di negara kita yang menjunjung asas persatuan dan kesatuan. Bukan menyatukan, akun tersebut hanya memprovokatif dengan penggalan-penggalan video maupun konten yang digunakan untuk mendiskreditkan seseorang.

Masyarakat harus lebih cerdas, melihat rentetan masalah yang selama ini kita alami. Sudah seharusnya belajar dari berbagai pengalaman yang bisa merusak hubungan antar sesama dan sebangsa. Tugas kita bukan lagi untuk berperang melawan agensi negara lain untuk menjaga Indonesia kita ini, akan tetapi tugas yang bisa kita lakukan secara mudah dan murah ialah menciptakan wajah media internet kita dengan nilai-nilai yang ada dalam ideologi Pancasila kita yakni kesatuan dan persatuan.

Menyingkap Akar Kebencian

Kurangnya pemahanan literasi digital membuat kita selama ini selalu mempermasalahan sesuatu yang sejatinya “kecil”. Perseteruan selalu dikedepankan dalam menanggapi suatu permasalahan, asas mengecek kebenaran belum begitu dipergunakan oleh warganet yang ada di negara kita. Segala informasi yang berbau “viral” menjadi acuan dalam menyebar dan kadang-kadang memproduksi suatu informasi..

Merujuk Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan bahwa hasil survei mereka pada tahun 2016 bahwa media sosial online menempati urutan pertama jenis konten yang biasa diakses pengguna internet dengan presentase 97,4%. Lebih lanjut, hasil riset online diselenggarakan oleh  ComScore menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara keempat yang paling banyak menggunakan facebook di dunia. Tak hanya itu, mereka memberikan julukan “Twitter Nation” kepada Indonesia sebagai  negara yang paling kecanduan twitter di dunia.

Kecenderungan untuk menghakimi dan menilai seseorang juga semakin menggeliat dikolom komentar media kita, mereka berargumen hanya mengedepankan pemahaman yang tak berpacu pada asas melihat kebenaran informasi. Sehingga yang terjadi ialah pembenaran sepihak. Bahwa mereka yang tak sepemahaman akan dilabel salah, dan sebaliknya yang sepemahaman akan dijunjung yang belum tentu kebenaranya.

Semua itu bersumber dari lorong yang sejatinya terlabelkan dalam setiap diri seseorang, yakni kebencian. Semua serba salah dan tak memberikan arti sama sekali bagi mereka yang memandang seseorang baik individu atau kebijakan pemerintah yang tak mereka sukai sama sekali. Sehingga yang terjadi setiap kemelut kebijakan yang dilemparkan pemerintah di balas dengan komentar yang menghujat, mencaci-maki, mengadu domba dan menghakimi dengan kedangkalan informasi.

Sudah menjadi tugas kita bersama yang ingin agar bangsa ini senantiasa rukun dan tentram. Kegaduhan yang tak berfaedah harus segera disudahi, kecerdasan dalam bermedia sosial harus dikedepankan. Jangan sampai media sosial kita dipenuhi sampah-sampah pikiran dangkal yang tak menggambarkan sebagai bangsa yang dikenal dengan bangsa pembelajar.

Nur Azis Hidayatulloh
Mahasiswa dan Tinggal di Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.