Senin, April 12, 2021

Narasi Cinta di Ruang Publik Kita

Jejak Ibrahim, Sang Bapak Monoteisme

Masih ingatkah kita tentang kisah kekasih Tuhan, Ibrahim, salam sejahtera untuknya? Kisah utusan Tuhan yang sarat pelajaran moral dan pengalaman beragama. Jejak-jejaknya masih kentara,...

Konspirasi Naruto dan Wiranto

Indonesia sekarang sedang dilanda teror, pasalnya pada Kamis 10/10/2019 di Pandegelang, Banten. Sontak membuat perhatian tanah air tertuju pada Mentri Koordinator Bidang Politik Hukum...

Merajut Simpul Gerakan Masyarakat Sipil Internasional

Kembali, selama hampir satu pekan induk organisasi Negara-negara di dunia menghelat pelaksanaan Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke 71, september tahun lalu (2016)...

Pesan Moral dari Serial Captain Tsubasa

Menonton kembali serial Captain Tsubasa membuat kita bisa memetik hikmah di balik semangat para tokoh sepak bola Jepang dalam kartun tersebut. Mereka berjuang untuk...
Yusuf Yanuri
LaPSI Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Musim lebaran telah usai. Musim halal bihalal juga sudah mulai pudar lagi. Kaum urban telah kembali ke tempat peraduan masing-masing, menuju geliat keramaian di kota-kota besar, berjudi nasib demi masa depan yang lebih baik. Namun yang telah terlewati tidak mungkin hilang begitu saja, ia senantiasa meninggalkan sesuatu, apapun itu.

Pun lebaran kali ini, ia meninggalkan satu kegelisahan untuk saya. Satu narasi yang kemudian menjadi pembicaraan utama di ruang publik tentu adalah narasi tentang cinta beserta segenap padanannya: jodoh, pasangan, keluarga, dan lain-lain dalam makna yang sempit.

Muncul kemudian broadcast-broadcast yang menuliskan “fulan beserta keluarga” (meskipun belum menikah), “fulan yang belum berkeluarga”, “fulan dan keluarga yang sedang otw”, dan lain-lain. Lebaran seolah-olah menjadi momentum paling pas untuk menunjukkan status pernikahan, baik yang masih lajang maupun yang sudah berpasangan.

Muncul juga narasi berupa pertanyaan “kapan nikah?”, seolah-olah setiap anak muda harus menjadi korban pertanyaan tersebut, dan mereka akan dengan bangga menjadikan hal itu sebagai pembahasan utama. Sekali lagi ini menegaskan bahwa seolah-olah lebaran menjadi momentum yang paling pas untuk menunjukkan status pernikahan.

Bolehlah kita sebut hal ini dengan “cinta”. Disini kita artikan dulu dengan cinta yang sempit, yang berhubungan dengan sepasang anak muda, entah apapun bentuk hubungannya.

Narasi cinta ini ternyata tidak hanya berhenti di lebaran, ia senantiasa menjadi narasi arus utama baik di lebaran maupun di selain lebaran, meskipun intensitasnya akan naik secara drastis ketika lebaran. Saya menjadi teringat hal lain, bahwa hiburan di televisi kita sangat banyak yang berbau cinta.

Dari saya kecil sampai hari ini, saya tidak pernah melihat FTV yang terlepas dari narasi cinta. Sinetron yang ditonton setiap malam oleh adik-adik kita mengekspos habis-habisan tentang hubungan percintaan laki-laki dan perempuan.

Ekspansi budaya Korea yang sedang menggejala juga menjadi salah satu indikasi bahwa ruang publik kita dikuasai oleh narasi percintaan. Benar bahwa tidak semua drama korea bercerita tentang percintaan. Namun, mayoritas drama korea bercerita tentang hal itu. Tidak lupa lengkap dengan berbagai musik Korea yang membanjiri industri hiburan kita dengan narasi percintaan.

Belum lagi berbicara musik. Memang ada musik-musik selain aliran utama seperti indie, metal, hardcore, dan lain-lain. Namun tetap saja yang menguasai ruang publik kita hari ini adalah lagu-lagu pop seputar percintaan, bisa kita cek misalnya dengan lagu-lagu yang diputar di berbagai ruang publik, maupun trending topic yang dengan mudah kita jumpai. Bahkan musik dangdut –musik alternatif masyarakat melayu- juga tidak kalah dalam mengekploitasi benda abstrak bernama cinta ini.

Kita pindah ke buku. Kita harus mengakui bahwa dalam berbagai survey, negara kita adalah negara dengan tingkat literasi yang sangat rendah. Namun tentu kita tidak 100% buta literasi. Sayangnya, minoritas yang sudah mulai membaca buku ini juga tidak jauh dari apa yang kita bicarakan. Tanyakan kepada adik-adik perempuan kita yang mulai menginjak usia remaja, buku apa yang mereka senangi. Rata-rata mereka akan menjawab novel. Dan, novel apa yang mereka senangi? Rata-rata mereka akan menjawab novel-novelnya Boy Chandra, Fiersa Besari, dan yang sebangsa dengan mereka.

Kita tentu tidak bisa melepaskan pembicaraan ini dari fenomena “hijrah” secara simbolis, yang kemudian menjurus kepada urusan percintaan. Yang muncul kemudian adalah kajian-kajian merah jambu yang memotivasi pemuda-pemudi kita untuk segera melangsungkan pernikahan. Forum-forum ini yang kemudian turut menyuarakan narasi-narasi percintaan di ruang publik yang mereka kuasai.

Hal ini turut dilanggengkan oleh budaya pendidikan kita, dimana tidak sedikit dosen yang membicarakan narasi-narasi ini di sela-sela perkuliahan, dengan dalih agar kuliah dapat berjalan santai. Seolah-olah forum akademik di bangku kuliah dibuat untuk mentertawakan orang-orang yang belum menikah, atau men ciyee-ciyee mereka yang sudah menikah sebagai pasangan muda.

Makna

Jika “cinta” yang kita maksud diatas adalah dalam makna sempit, sekarang kita beralih ke makna yang lebih luas. Memaknai kata “cinta” tentu menjadi pelajaran yang sangat ringan dan barangkali kita semua sudah menyelesaikannya. Namun, dalam tataran praktis kita sering lupa dan kemudian justru turut menyumbang polusi narasi ini ke ruang publik sehingga menjadi tidak sehat.

Cinta tidak selalu harus dimaknai sebagai hubungan sepasang laki-laki dan perempuan. Terkadang kita lupa bahwa bapak tauhid, Ibrahim, melakukan pengorbanan yang begitu besar atas nama cinta kepada Tuhannya. Ia rela hampir menyembelih putranya demi cintanya kepada Tuhan. Ia rela meninggalkan istri & anak bayinya di gurun tandus –yang hari ini kita kenal dengan nama Makkah- demi cintanya kepada Tuhannya.

Kita lupa bahwa Isa datang dengan ajaran kasih sayang yang luar biasa sehingga muncul kredo di kalangan umat Kristen yang berbunyi “jika engkau ditampar pipi kanan, maka berikan pipi kiri”. Kita sering lupa bahwa Muhammad, di akhir hayatnya, sibuk memanggil umatnya “ummati, ummati” (umatku, umatku). Berbeda dengan sinetron yang kita tonton hari ini, orang-orang yang sedang sakaratul maut akan memanggil kekasihnya, cerita yang dengan sangat mudah kita tebak bukan?

Kita lupa bahwa di kemudian hari lahir tokoh besar dari Minang bernama Tan Malaka yang tidak pernah menikah, konon karena “Republik” yang turut ia perjuangkan belum mencapai kemerdekaan 100%. Seolah-olah cintanya terhadap tanah air lebih besar dari cintanya kepada makhluk indah bernama perempuan.

Kita lupa bahwa revolusioner-revolusioner besar dunia senantiasa mencintai hal-hal yang besar dibandingkan dengan kesenangan ranjang mereka sendiri. Mereka mencintai keadilan, kebijaksanaan, kemanusiaan, dan kedamaian.

Dalam skala mikro, kita sering lupa bahwa cinta orang tua terhadap anaknya merupakan cinta yang lebih tulus dibandingkan apapun. Kita lupa bahwa cinta kiai kampung terhadap masyarakatnya merupakan cinta tulus tanpa pamrih.

Tentu, narasi cinta dalam makna seperti ini lebih sehat daripada cinta yang sempit, yang mengekploitasi hubungan sepasang laki-laki dengan perempuan. Barangkali kita bisa mulai dengan memproduksi ulang banyak hal, mulai dari sinetron-sinetron kita yang harus lebih edukatif, lagu kita harus menjadi lagu-lagu yang menyehatkan nalar, bacaan kita harus menjadi bacaan dengan gagasan yang besar, dan pembicaraan di ruang-ruang akademik kita harus dijauhkan dari hal-hal yang tidak sepatutnya.

Setelah saya menyelesaikan tulisan ini, saya baru sadar bahwa ada tetangga saya yang memainkan musik dengan sangat kencang. Saya mendengar liriknya berbunyi “aku tak tau apa yang terjadi, antara aku dan kau. Yang kutau pasti, ku benci tuk mencintaimu”.

Yusuf Yanuri
LaPSI Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.