Selasa, Oktober 20, 2020

Nalar Pincang Stigma ODHA

Yang Pelan, Yang Ditelan

-Untuk Tahun Politik 2018-2019“Kini, arah gerak dunia bukan lagi si besar menelan si kecil, tetapi siapa yang cepat akan memakan siapa yang pelan,” seru...

Sastra sebagai prasyarat memahami Al-Qur'an

Memahami al-Qur’an di samping tidak lepas dari kaidah kebahasaan juga tidak tepas dari konteks kemasyarakatan. Kaidah kebahasaan tentu terkait dengan kesusastraan dan para pengkaji...

Di Balik Pasang Surut Nilai Tukar Rupiah

Setelah sempat mencapai titik terlemah terhadap dolar yaitu Rp. 15. 253/USD selama 5 tahun terakhir pada 11 Oktober 2018 kemarin, rupiah kemudian kembali perkasa...

Kesamaan Deschamp dan Beckenbauer

Franz Beckenbauer adalah legenda sepakbola Jerman (dulu Jerman Barat) khususnya dan dunia pada umumnya. Seorang libero yang taktis dan pintar membaca permainan. Saat menjadi...
Fareh Hariyanto
Sedang kuliah di Jurusan Ahwalusasyiah Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng Banyuwangi

Hari AIDS sedunia setiap tanggal 1 Desember diselenggarakan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia akibat penyebaran virus HIV. Radar Banyuwangi sempat menurunkan dua tulisan terkait hal itu sebagai headline edisi hari AIDS sedunia.

Dua tulisan indept news bertajuk “Pelajar Terpapar HIV/AIDS ” dan “Berawal dari Ajakan Makan, lalu Berakhir di Kamar” seakan membuka mata kita akan dekatnya Orang dengen HIV / AIDS (ODHA) disekitar kita. Fakta dalam laporan tersebut menyajikan grafik yang mencatat jika presentase kalangan pelajar di Banyuwangi yang menjadi ODHA juga cukup tinggi.

Mengutip Radar Banyuwangi, mengacu usia 6 tahun hingga 20 tahun, setidaknya tercatat ada 148 ODHA di Banyuwangi. Belum lagi jika ditambahkan dengan ODHA direntang usia antara 21 tahun hingga 25 tahun, jumlahnya mencapai 524 orang. Jika mengacu pada usia 2 hingga 5 tahun, jumlahnya mencapai 71 anak.

Ironisnya banyak stigma masyarakat yang keliru terkait status ODHA dewasa kini. Mengingat tidak sedikit masyarakat yang justru menjauhi ODHA yang seharusnya mendapat dukungan untuk tetap melanjutkan kehidupannya. Perlu perubahan paradigma dimasyarakat untuk menjauhi virusnya bukan orangnya. Alasan mereka terkadang takut tertular jika terlibat interaksi langsung dengan ODHA.

Sejauh penelusuran penulis sejak beberapa tahun lalu, bantuan bagi penderita AIDS tidak hanya diarahkan pada masalah penyembuhan, melainkan juga pada masalah diskriminasi penderita AIDS. Serta merbah kerangka berfikir masyarat terhadap ODHA.

Orang sekarang bisa hidup cukup normal walaupun tertular HIV, tetapi diskriminasi tetap jadi faktor yang membebani bagi ODHA. Pun begitu banyak juga volunteer yang berusaha menggerakkan orang untuk menghilangkan prasangka buruk kepada penderita AIDS.

Angka Harapan Hidup

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa HIV sebagai sebuah epidemi, AIDS menjangkiti kelompok masyarakat melalui tiga tahapan, pertama adalah inveksi virus HIV yang senyap dan sulit untuk diketahui, kedua munculnya penyakit-penyakit akibat infeksi virus yang menyerang daya tubuh.

Sementara menukil data yang sama dimana hasilnya mengejawantahkan bahwa hal paling menyakitkan merupakan tahapan ketiga, epidemi yang menyerang secara sosial, ekonomi dan politis yaitu stigma diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS.

Padahal faktanya sejak ditemukannya Antiretroviral (ARV) yang merupakan obat untuk infeksi Retrovirus (HIV). Saat ini, ARV memang belum mampu membunuh HIV secara total, namun ARV dapat menekan pertumbuhan HIV.

Hal itu membuat angka harapan hidup ODHA yang melakukan pengobatan ARV memang beda-beda. Semua bergantung dari seberapa parah infeksi yang terjadi saat si pengidap HIV pertama kali melakukan pengobatan ARV dan pola hidup yang dilakukan selama pengobatan ARV.

Tapi dari tahun ke tahun, angka harapan hidup yang ditawarkan ARV menjadi semakin tinggi. Angka harapan hidup bagi masyarakat berusia 20 tahun pengidap HIV yang melakukan pengobatan ARV yang tinggal di negara berpenghasilan tinggi cukup baik.

Pada tahun 1995–1996, angka harapan hidup ODHA yang menjalani pengobatan ARV hanya sampai 8 tahun saja. Tapi, angka harapan hidup tersebut meningkat sampai +55 tahun di tahun 2010. Nah, di lain sisi, orang yang tidak terinfeksi HIV memiliki tambahan angka harapan hidup selama +60 tahun.

Jadi, angka harapan hidup pengidap HIV yang melakukan pengobatan ARV di negara berpenghasilan tinggi hanya selisih lima tahun saja dengan angka harapan hidup orang yang negatif HIV di negara yang sama.

Jadi untuk perkembangan pengobatan zaman sekarang, bisa dibilang ODHA memiliki kesempatan angka harapan hidup yang relatif panjang (bahkan hampir sama) dengan yang bukan ODHA. Kabar baiknya lagi, di Indonesia obat ARV ini diproduksi secara generik di apotek-apotek dan bisa didapat dengan harga yang cukup terjangkau.

Paradigma Keliru

Perlu diketahui juga HIV/AIDS tidak bisa menular melalui gigitan nyamuk, berenang bersama, makan bersama, berjabat tangan ataupun berpelukan dengan ODHA. HIV/AIDS hanya bisa ditularan melalu hubungan seksual, Penggunaan jarum suntik secara bergantian, Selama kehamilan, persalinan atau menyusui bagi Ibu yang menjadi ODHA serta melalui Transfusi Darah.

Namun, tidak sedikit masyarakat awam yang meberikan justifikasi kepada ODHA dengan memberikan stigma negatif yang justru menyudutkan kepada mereka yang kurang beruntung. Hal-hal yang dilakukan justru terkadang cukup frontal dan jauh dari perikemanusiaan.

Nalar tersebut justru akan menghambat upaya pencegahan dan penyembuhan bagi para ODHA. Sejarah mencatat stigma yang diterima penderita epidemi tidak hanya kepada penderita HIV/AIDS beberapa wabah-wabah yang pernah terjadi dan menghabisi populasi manusia sebut saja PES, Kolera, Malaria, Kusta, Cacar dan sebagainya. Penderita wabah selalu distigma bahwa penyakitnya merupakan kutukan.

Ketidakinginan dan ketidakmauan masyarakat untuk mengetahui secara ilmiah dan rasional sebuah penyakit justru semakin menghambat pencegahan dan penyelesaian penyakit  tersebut. Padahal, hukum dari epidemi dalam masyarakat berkembang seperti layaknya kuman yang hidup dalam cawan petri, epidemi akan terus menyebar sampai seluruh manusia meninggal atau menjadi imun sama sekali. Untuk itu pemahaman terhadap jenis penyakit dan penanganannya secara ilmiah sangat dibutuhkan.

Pun begitu, keseriusan bagi siapapun untuk mengedukasi agar nalar kritis masyarakat tidak semakin liar terhadap para ODHA yang sebetulnya membutuhkan dukungan untuk bisa semangat melawan apa yang ditakutkan. Serta  tentu saja dalam kampanye-kampanye pencegahan HIV/AIDS yang digalakkan oleh lembaga-lembaga seperti pemerintah harus terus diupayakan guna memberikan edukasi.

Fareh Hariyanto
Sedang kuliah di Jurusan Ahwalusasyiah Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng Banyuwangi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

Prekariatisasi Global dan Omnibus Law

"Setuju", dengan intonasi panjang penuh kebahagiaan peserta sidang secara serentak merespons pimpinan demi ketukan palu UU Cipta Kerja atau akrab dikenal sebagai Omnibus Law. Tok,...

Perang dan Cerita

Demonstrasi tolak RUU Cipta Kerja terjadi pada 8 Oktober 2020. Seperti aksi-aksi lainnya, kita barangkali bisa mulai menebak, bahwa sepulangnya nanti, hal-hal yang menarik...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Hakikat Demokrasi

Demokrasi bagi bangsa Indonesia sendiri adalah istilah baru yang dikenal pada paruh abad ke-20. Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, demokrasi dalam bentuknya yang modern...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.