Rabu, Oktober 21, 2020

Nalar Islam, Kearifan Lokal, dan Penghayatnya

PROFESI MULIA tapi HATI BAK NERAKA

Di Indonesia ada banyak profesi yang bisa dikategorikan sebagai profesi mulia, salah satunya adalah Dokter. Dokter adalah salah satu pekerjaan yang bertugas untuk menyembuhkan...

Perekonomian Iran Diterjang Embargo

Memasuki empat puluh satu tahun, Iran menjalani hukuman sanksi embargo ekonomi dari Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutunya. Baqer Moin dalam bukunya “Khomeini: Life...

Vandalisme Featuring Unjuk Rasa

Vandalisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya)” atau...

Orientasi Baru Pariwisata

Salah satu prioritas pemerintahan Jokowi periode kedua adalah optimalisasi infrastruktur yang telah dibangun di periode pertama dengan kawasan industri dan pariwisata. Tentu, itu adalah...
A.S. Rosyid
Literacy and sustainability enthusiast. Interested in Ethics and Maqasid Studies.

Dalam hal memandang kearifan lokal berikut unikumnya, sebenarnya bukan merupakan barang baru dalam agama Islam. Dunia fikih Islam mengenal istilah ‘urf, yakni istiadat yang makruf (telah dikenal) di suatu tempat, yang khas, dan berkaitan dengan kemaslahatan lokal.

Islam, misalnya, toleran dalam memandang matriarkisme Minang, yang menetapkan perempuan sebagai pihak peminang. Dengan demikian, perempuan menemukan posisi kuatnya. Ketika terjadi cekcok rumah tangga, lelaki yang harus angkat kaki. Tujuan besar dari kemaslahatan lokal (‘urf) Minang tersebut adalah melindungi perempuan sebagai kelompok rentan.

Islam membolehkan ‘urf semacam itu. Selama suatu kemaslahatan lokal tidak bertentangan dengan Islam, ia bahkan bisa diadopsi menjadi bagian dari fikih. Kajian tentang ‘urf berkembang ketika Islam mulai merambah daerah-daerah baru, dengan segala unikumnya.

Namun, hari ini kita membutuhkan kajian ‘urf dalam sentuhan yang berbeda. Mengadopsi ‘urf adalah satu soal, sedangkan menghormati keberadaan ‘urf adalah soal lain.

Ini soal nalar. Fikih (atau dalam pengertian yang lebih luas, Hukum Islam) punya ragam bentuk nalar. Apa yang dibolehkan bukan berarti harus dipuja—mencintai Nabi Muhammad, misalnya, tidak boleh sampai membuat kita menyembahnya. Apa yang pantas dipuja tidak lantas membuat manusia bebas menciptakan ritus—sholat subuh tidak boleh ditambah jadi tiga raka’at, hanya karena saking cinta pada Allah.

Nalar lain yang penting dipahami adalah: apa yang dilarang bukan berarti harus dimusuhi.

Babi dan anjing, misalnya. Keduanya terlarang untuk dikonsumsi, tapi bukan berarti keduanya harus dibenci. Keduanya ciptaan Allah, dan Allah tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia. Hukum haram atas konsumsi tidak melahirkan hukum wajib menyakiti anjing dan babi. Seorang muslim tidak diajarkan sewenang-wenang.

Selain itu, seorang muslim harus terlatih menangkap adanya kemaslahatan. Dalam riwayat fikih, terdapat kajian yang membolehkan umat Islam memelihara anjing untuk keperluan tertentu, semisal berburu. Bahkan daging buruan yang terdapat bekas gigitan anjing—anjing itu membantu tuannya menangkap buruan—tetap boleh dikonsumsi.

Kearifan Lokal dalam Hadits

Ruang dalam fikih, sesungguhnya, sangatlah luas. Pertimbangan berkembang di tiap situasi, dengan tetap harus merujuk pada al-Qur’an dan riwayat kebijaksanaan (hadits) Nabi. Namun faktor penentunya adalah penguasaan atas dalil: seberapa peka menangkap ‘maksud’ sebuah ayat, dan seberapa banyak riwayat yang diketahui.

Karena banyak juga riwayat yang ‘tidak sampai’ pada umat. Tidak banyak yang tahu, di Madinah terdapat panggung gembira milik orang-orang Ethiopia, yang diisi pertunjukan musik dan tari-tarian. Untuk kegembiraan penghuni kota, Nabi membolehkannya. ‘Riwayat langka’ semacam itu bisa ditemukan dalam sejumlah karya Dr. Nizar Abazhah, ahli hadits dan sejarah Madinah.

Mungkin terdengar aneh, tapi memang Islam turun tidak di ruang yang kosong budaya. Kekuatan Islam ada pada kemampuannya beradaptasi dengan kebudayaan sebelumnya, dan menyelaraskan itu dengan nilai Islam.

Dalam Islam dikenal istilah syar’un man qoblana (al-Jasiyah: 16 – 18), yakni syari’at Islam yang berasal dari adaptasi syariat kaum sebelum Islam. Hakikatnya di dunia ini memang tidak ada kebudayaan yang bukan ciptaan Allah. Sehingga dalam menghadapi setiap kearifan lokal, terdapat dua kaidah umum: (a) yang bisa diserap tanpa merusak akidah, seraplah; (a) yang berlawanan dengan akidah, sikapilah dengan bijak (an-Nahl: 125).

Riwayat kecil yang bisa kita ambil untuk menegaskan kaidah pertama adalah kisah Nabi di menjelang wafatnya. Dikatakan bahwa saat itu Nabi didera panas tubuh luar biasa, hingga merosot kekuatan tubuhnya. Untuk kepentingan itu, Nabi meminta dibawakan air dari tujuh sumur yang berbeda. “Membasuh tubuh dengan air tujuh sumur untuk meredakan panas” adalah salah satu bentuk kearifan lokal, dan Nabi mengakomodirnya.

Sebelum Islam datang, salah satu bentuk kearifan lokal adalah syair-syair bernuansa moral. Hal itu menjelaskan mengapa terdapat beberapa manusia dengan kualitas terbaik sebelum al-Qur’an datang (Nabi dan Khadijah contohnya). Bangsa Arab dipengaruhi syair-syair. Sejumlah besar syair mengajarkan sifat keberanian, kesetiaan dan kedermawanan.

Riwayat semacam itu menjadi contoh bagaimana Islam dilengkapi kearifan lokal. Hanya saja, system of believe-nya disesuaikan dengan lajur tauhid. Riwayat tentang betapa kayanya adopsi peradaban Islam terhadap kearifan lokal bisa dilihat dalam karya Imam al-Razi, Kitab al-Firasat, yang telah tersedia terjemahan bahasa Indonesianya.

Kearifan Lokal dan Penghayatnya

Riwayat-riwayat demikian memaklumkan pada kita mengapa para pendakwah Islam di Nusantara (yang bercorak sufistik) menggunakan kearifan lokal untuk berdakwah. Sesungguhnya adanya kearifan lokal tidak untuk dibasmi, melainkan untuk dipahami kekuatan strategisnya, dan diberdayakan.

Kearifan lokal—dengan bergandeng-tangan bersama para penghayatnya—bisa digunakan sebagai kunci etis melakukan perlawanan terhadap penghacuran ekologi oleh korporasi kapitalis, dan melengkapi gerakan dalam menghadapi ‘kekeringan spiritualisme’ yang khas Nusantara.

Lebih dari itu, kearifan lokal adalah jejak-jejak jati diri kita di masa lampau. Ada sejarah dan nilai luhur di sana. Mereka yang ketakutan terhadap kearifan lokal dan memandangnya sebagai sebuah bidah, mungkin belum sepenuhnya paham. Kearifan lokal, dalam pandangan penulis, harus dilestarikan. Salah satu caranya adalah dengan melestarikan para penghayatnya.

Belakangan ini merebak berita keberatannya beberapa pihak atas kemenangan ‘hak identitas’ para penghayat lokal di Mahkamah Konstitusi. Banyak pihak keberatan. Ada pula pernyataan menteri yang terlampau merendahkan, bahwa setelah mengenal agama, Orang Rimba akhirnya mengenal konsep akhirat dan Tuhan. Pernyataan tersebut sangat ahistoris, mencerminkan kedangkalan wacana atas sang liyan. Dibandingkan dengan pilihan menjadi penghayat kearifan lokal (adat istiadat dan kompleksitasnya), mengeluarkan pernyataan seperti itu menurut saya jelas lebih berbahaya.

Mungkin banyak orang luput menyadari, tidak satu pun dari para penghayat lokal terlibat dalam setiap proses penggundulan hutan, pencemaran lingkungan, pengrusakan tanah, dan berbagai kasus eksploitasi lain. Sementara setiap pelaku eksploitasi kemungkinan besar selalu punya agama—yang merasa sedang memerbaiki bumi, tapi hakikatnya adalah pengrusakan (al-Baqarah: 11 – 12).

Justru spiritualitas para penghayat lokal mampu mendorong adanya perlawanan. Pemuka adat Bali dalam melawan reklamasi, masyarakat adat Samin dalam melawan semen, adalah segelintir contoh. Mereka mungkin lebih menghayati bahwa yang disebut umat bukan saja manusia, melainkan setiap yang ada, bahkan burung yang beterbangan sekalipun (al-An’am: 38).

Tentu tidak elok bila ada yang berpikir hanya agama merekalah yang punya spirit perlawanan terhadap kezaliman ekologis. Merupakan suatu kesombongan pula, bila berpikir bahwa cukup dengan gerakan keagamaan tertentu seluruh persoalan di negeri ini akan bisa diselesaikan. Tidak perlu bergandeng-tangan dengan kekuatan-kekuatan lain.

A.S. Rosyid
Literacy and sustainability enthusiast. Interested in Ethics and Maqasid Studies.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.